Guru di Ciomas Bogor jadi korban hipnotis, minta Rp1 juta setelah magrib

4 menit membaca View : 12
Abdul Halim
Hukum & Kriminal, News - 13 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Seorang guru di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, diduga menjadi korban hipnotis dan penipuan bermodus silaturahmi pada Senin, 12 Oktober 2026. Peristiwa itu terjadi di rumah korban di Jalan Nurkim, Gang Hanjuang, setelah Magrib, saat pelaku datang bersama istri dan anaknya mengaku sebagai murid atau alumni.

Dalam pengakuannya, pelaku menyebut sepeda motornya mogok dan meminta uang untuk membayar biaya servis. Korban disebut sempat diberi permintaan Rp1 juta, tetapi karena hanya memiliki uang Rp200.000, ia memberikan seluruh uang yang ada. Selain meminta uang, pelaku juga diduga mengambil sejumlah barang pajangan dari dalam rumah, dengan perkiraan kerugian sekitar Rp500.000.

Modus silaturahmi setelah Magrib di Ciomas

Kasus ini berawal dari kunjungan yang tampak biasa, yaitu datangnya seseorang bersama keluarga. Pelaku mendekati korban dengan narasi yang dekat dengan keseharian, mengaku sebagai murid atau alumni. Pola seperti ini sering membuat target lengah karena hubungan sosial dianggap lebih aman dibanding pendekatan yang terang-terangan mengarah pada penipuan.

Waktu kejadian setelah Magrib juga turut memengaruhi situasi. Pada jam seperti itu, intensitas aktivitas warga dan arus lalu lintas biasanya berbeda dibanding siang hari. Kondisi tersebut bisa membuat korban lebih sulit memverifikasi informasi, apalagi ketika pelaku menyampaikan alasan yang terdengar masuk akal, seperti motor mogok dan kebutuhan biaya perbaikan.

Permintaan Rp1 juta berujung Rp200.000

Menurut keterangan keluarga korban, pelaku meminta uang sebesar Rp1 juta dengan alasan untuk membayar servis karena sepeda motor disebut mogok. Korban kemudian hanya memiliki uang Rp200.000, sehingga akhirnya menyerahkan seluruh uang yang ada.

Perbedaan nominal ini menjadi bagian penting yang menunjukkan adanya tekanan psikologis dalam proses tawar-menawar. Ketika target tidak memiliki jumlah sesuai permintaan, pelaku bisa mengarahkan agar transaksi tetap berjalan. Dalam kasus dugaan hipnotis, korban biasanya sulit menolak karena fokusnya diarahkan pada skenario yang dibangun pelaku.

Selain itu, pelaku mengaku motor ditinggalkan di bengkel. Klaim tersebut berfungsi sebagai pembenaran tambahan agar korban tidak menganggap permintaan sebagai tindakan kriminal, sekaligus memberi ruang agar pelaku tidak perlu menjelaskan detail lain.

Diduga mengambil barang pajangan dari dalam rumah

Tak berhenti pada permintaan uang, pelaku juga diduga melakukan pengambilan barang pajangan di dalam rumah korban. Jenis barang pajangan memang sering kali bersifat bernilai sekaligus mudah dipindahkan, sehingga menjadi sasaran yang menguntungkan bagi pelaku.

Keluarga korban memperkirakan total kerugian mencapai sekitar Rp500.000. Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak kejadian bukan hanya pada uang tunai yang diberikan, tetapi juga pada kehilangan benda-benda yang berada di area privat rumah.

Pelaku disebut berasal dari Leuwiliang, identitas belum terkonfirmasi

Pelaku dikabarkan mengaku berasal dari Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Namun, hingga informasi ini ditulis, belum ada kejelasan mengenai laporan resmi kepada kepolisian maupun identitas pelaku yang sudah terkonfirmasi.

Ketidakjelasan ini penting karena menyangkut proses penanganan. Tanpa laporan resmi, jejak peristiwa bisa sulit ditelusuri, baik untuk verifikasi identitas maupun pencocokan dengan kasus lain yang memiliki pola serupa. Sementara itu, keluarga korban tetap membutuhkan kepastian agar peristiwa tidak berulang pada warga lain.

Dampak bagi warga Ciomas dan kehati-hatian saat ada tawaran “alasan darurat”

Kejadian di Ciomas ini memberi gambaran nyata bagaimana penipuan dapat memanfaatkan kedekatan sosial. Warga yang memiliki hubungan dengan dunia pendidikan, termasuk guru dan alumni, bisa menjadi sasaran ketika pelaku memanfaatkan narasi yang terdengar akrab. Dalam praktiknya, modus silaturahmi membuat korban cenderung merespons tanpa mempertanyakan terlalu jauh.

Bagi warga sekitar, peristiwa seperti ini juga berdampak pada rasa aman di lingkungan tempat tinggal. Setelah kejadian, keluarga biasanya akan lebih selektif terhadap tamu yang datang, terutama pada jam setelah Magrib. Verifikasi sederhana, seperti menanyakan identitas lengkap dan menghubungi pihak terkait sebelum menyerahkan uang, menjadi langkah yang bisa mengurangi risiko, meski tetap perlu dukungan proses hukum jika pelaku terbukti melakukan tindak pidana.

Di sisi lain, jika benar ada unsur hipnotis, korban dan keluarga perlu segera mencari penjelasan melalui pihak berwenang agar pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh. Hal itu penting untuk memastikan apakah kejadian ini murni penipuan biasa atau ada unsur pengaruh psikologis yang membuat korban sulit mengambil keputusan secara bebas.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x