Revitalisasi SDN Semeru 6 Kota Bogor Rp965 juta, kelas dan toilet diperbaiki

4 menit membaca View : 14
Abdul Halim
News, Pendidikan - 14 Okt 2026

SDN Semeru 6 di Kota Bogor menerima bantuan revitalisasi sekolah senilai Rp965.759.526 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program ini menargetkan pembenahan fasilitas belajar, termasuk penambahan ruang kelas baru serta perbaikan ruang kelas yang ada.

Revitalisasi tersebut dikerjakan melalui mekanisme swakelola, dengan pendampingan dan pembinaan dari unsur Satuan Tugas Inspeksi Gabungan Antipungli (SIGAP). Kepala SDN Semeru 6, Dewi Sintawati, menjelaskan pekerjaan berjalan setelah asesmen kelayakan material eksisting, dan seluruh pengadaan mengacu pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pihak sekolah dan Kemendikdasmen. Peristiwa ini disampaikan pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Anggaran Rp965,76 juta untuk ruang kelas, toilet, dan fasilitas guru

Menurut Dewi Sintawati, paket bantuan tidak hanya berhenti pada perbaikan ruang kelas, melainkan juga mencakup peningkatan fasilitas pendukung kegiatan sekolah. Komponen yang disebutkan meliputi penambahan ruang kelas baru, perbaikan ruang kelas, pembangunan atau pembenahan toilet, ruang guru, serta ruang serbaguna.

Rincian penggunaan anggaran tersebut relevan dengan kondisi awal sekolah yang disebut cukup mengkhawatirkan, terutama pada bagian atap, ventilasi, dan sirkulasi udara. Di sekolah, sejumlah bagian plafon dilaporkan mengalami kerusakan hingga sempat ada bagian yang terjatuh, sehingga aspek keselamatan dan kenyamanan ruang belajar menjadi alasan kuat pembenahan.

Kondisi awal sekolah: atap, ventilasi, dan plafon jadi perhatian utama

Sebelum revitalisasi, struktur ruang dan sistem kenyamanan udara menjadi masalah yang nyata. Atap yang bermasalah berpengaruh pada perlindungan ruang kelas dari cuaca. Sementara itu, ventilasi dan sirkulasi udara yang kurang memadai dapat membuat proses belajar terasa tidak nyaman, khususnya ketika aktivitas berlangsung dalam durasi panjang.

Kerusakan plafon yang bahkan sempat terjatuh menambah urgensi. Dalam konteks sekolah dasar, risiko semacam ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas bangunan, tetapi juga keselamatan siswa dan guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Karena itu, pembenahan yang menyasar area-area kritis dinilai lebih dari sekadar estetika, melainkan bagian dari peningkatan standar ruang belajar.

Mekanisme swakelola, RAB, dan peran SIGAP dalam pengawasan

Pembangunan dilakukan melalui mekanisme swakelola. Dewi Sintawati menyatakan proses ini mendapat pendampingan dan pembinaan dari unsur SIGAP, yang berperan dalam memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai koridor pengendalian.

Dari sisi perencanaan, ia menekankan bahwa sebelum penyusunan RAB, tim konsultan perencana melakukan asesmen menyeluruh terhadap kelayakan material eksisting. Setelah itu, pekerjaan dijalankan sesuai dengan yang tertuang dalam RAB yang telah disetujui. Pengadaan juga diarahkan agar selaras dengan PKS antara sekolah dan Kemendikdasmen, sehingga hubungan antara kebutuhan lapangan dan dokumen anggaran terjaga.

Dukungan program Asta Cita dan target lahirnya SDM unggul

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan revitalisasi SDN Semeru 6 merupakan bagian dari upaya mendukung program Asta Cita. Ia menyoroti adanya ruang kelas baru, perbaikan ruang kelas lama, serta tambahan perbaikan pada sarana toilet dan ruang guru, termasuk ruang serbaguna.

Dedie juga mengaitkan bantuan ini dengan harapan agar sekolah mampu menjalankan fungsi pendidikan secara lebih baik. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kegiatan belajar diharapkan dapat berlangsung dengan kondisi yang lebih nyaman bagi siswa. Ia menyebut sekolah yang sebelumnya kurang representatif kini menjadi lebih layak untuk menunjang pembelajaran.

Integrasi data Dapodik dan penetapan penerima bantuan

Revitalisasi ini juga disebut terkait upaya integrasi data antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Penetapan SDN Semeru 6 sebagai penerima bantuan didasarkan pada data pokok pendidikan (Dapodik), kemudian disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.

Pendekatan semacam ini penting karena kebutuhan fasilitas sekolah sering kali tidak sepenuhnya tercermin hanya dari dokumen. Dengan penyesuaian berdasarkan kondisi nyata, bantuan berpotensi lebih tepat sasaran, terutama untuk sekolah yang memiliki masalah fisik bangunan seperti kerusakan plafon, kebutuhan perbaikan ventilasi, serta pembenahan area sanitasi.

Dampak bagi warga sekolah di Kota Bogor

Bagi warga sekolah, perubahan fasilitas berimplikasi langsung pada rutinitas harian. Ruang kelas yang diperbaiki dan penambahan ruang baru dapat membantu pengaturan kegiatan belajar, mengurangi kepadatan bila sebelumnya ruang terbatas. Perbaikan toilet juga berpengaruh pada aspek kebersihan dan kenyamanan, yang pada usia sekolah dasar sangat menentukan kelancaran aktivitas.

Selain itu, keberadaan ruang guru dan ruang serbaguna turut memengaruhi kualitas layanan pendidikan. Ruang guru yang lebih baik mendukung persiapan pembelajaran, sedangkan ruang serbaguna dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penunjang seperti pembinaan, aktivitas sekolah, atau program pembelajaran nonkelas yang membutuhkan tempat memadai. Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga memperluas kapasitas sekolah dalam menjalankan program pendidikan untuk siswa di Kota Bogor.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x