Rachel Ojuromi debut di runway Chanel Spring/Summer 2027 Paris, dari Lagos

5 menit membaca View : 13
Abdul Halim
Gaya Hidup, News - 08 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Rachel Ojuromi, model asal Nigeria yang dikenal lebih dulu sebagai creative director, filmmaker, dan storyteller, melangkah ke panggung Chanel Spring/Summer 2027 dalam Paris Fashion Week pada 5 Oktober 2026. Ia tampil di Grand Palais, Paris, sebagai bagian dari runway Chanel Spring/Summer 2027 karya Matthieu Blazy, dengan debut yang langsung mencuri perhatian karena jalur kariernya tidak dimulai dari dunia modeling tradisional.

Perjalanan Rachel menuju panggung tersebut berawal dari produksi konten visual, lalu menguat melalui konsistensi berkarya, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan berjalan di rumah mode besar. Di momen debutnya, ia mengenakan set tweed abu-abu dan kuning, dengan detail yang punya makna personal, sekaligus menunjukkan bagaimana pengalaman kreatif di balik layar dapat bertemu dengan ritme catwalk.

Jalanan Lagos membentuk “runway” Rachel Ojuromi

Sebelum namanya dikenal luas sebagai wajah runway, Rachel lebih sering hadir lewat kamera. Ia mengarahkan cerita, merangkai estetika dari keseharian, dan membangun bahasa fashion yang terasa dekat dengan aktivitas sehari-hari di Lagos. Bersama Debby Fasingha, seorang stylist sekaligus designer, Rachel membuat video yang mempertemukan high fashion dengan ritme hidup kota tersebut.

Dalam sejumlah konten yang kemudian viral, Rachel tampil dengan karakter yang kuat saat melakukan kegiatan yang sangat umum, seperti berangkat ke pasar untuk membeli sayuran, mengambil koran, hingga membawa sekeranjang pisang di atas kepala. Pilihan busananya juga menunjukkan keberanian membaca fashion sebagai bahasa, bukan semata tren musiman. Ia pernah memadukan rok fringe warna fuchsia, animal print, tailored suit, hingga corset dress dan berbagai layering.

Berangkat dari filmmaker dan creative director, bukan dari catwalk

Rachel tidak menempatkan modeling sebagai titik awal. Ia mengembangkan diri lebih lama di ranah creative work, mengasah cara bercerita secara visual, serta memandang fashion sebagai sejarah yang bisa dibaca dari berbagai era. Ketertarikannya mencakup sejarah fashion dan koleksi lintas waktu, sehingga referensinya tidak berhenti pada satu gaya.

Ia menyebut salah satu runway yang berpengaruh adalah Prada Fall 1988, sementara koleksi Mugler dari era 1990-an turut membentuk cara pandangnya terhadap fashion. Menariknya, Rachel baru mulai mengenakan high heels pada 2025. Namun ia tidak berusaha membuat gaya berjalan khusus untuk konten videonya. Cara ia melangkah kemudian dianggap punya “model energy”, tetapi Rachel menegaskan bahwa yang utama bukan meniru langkah model tertentu, melainkan menyampaikan rasa dan karakter melalui gerak tubuh yang autentik.

Interpretasi Chanel Métiers d’Art mengubah arah karier

Hubungan Rachel dengan Chanel tidak muncul mendadak saat ia mendapat undangan runway. Salah satu titik yang mengubah arah kariernya adalah interpretasi ulang Chanel Métiers d’Art show yang ia garap bersama Debby. Alih-alih menyalin koleksi secara persis, keduanya menerjemahkan kode busana yang diasosiasikan dengan Matthieu Blazy menggunakan pakaian yang mereka miliki, termasuk item thrift, lalu menghadirkannya kembali dalam konteks jalanan Lagos.

Video interpretasi tersebut kemudian menarik perhatian dari pihak yang terlibat dalam proses kreatif rumah mode. Bagi Rachel, karya itu seperti “kendaraan” yang membawanya sampai pada fase ini. Ia juga menekankan bahwa capaian besar sering tampak sebagai momen di permukaan, padahal sesungguhnya merupakan akumulasi dari rangkaian proses yang berjalan bertahun-tahun.

Debut di Grand Palais: tweed abu-abu dan kuning dengan makna personal

Pada 5 Oktober 2026, rangkaian proses panjang itu berujung pada momen yang sulit dibayangkan sebelumnya: Rachel berjalan di show Chanel Spring/Summer 2027 karya Matthieu Blazy di Grand Palais, Paris. Untuk debutnya, ia mengenakan set tweed abu-abu dan kuning, terdiri dari atasan bergaya shirt dan rok midi. Warna kuning tersebut memiliki makna personal karena merupakan warna favorit Debby Fasingha.

Secara visual, look tersebut selaras dengan kode klasik Chanel melalui tweed, tetapi tetap terasa lebih muda dan effortless. Rambutnya dikepang dan ditarik rapi ke belakang, sementara makeup dibuat glowing dan natural. Rachel juga mengapresiasi keputusan tim Chanel yang menjaga penampilannya tetap dekat dengan dirinya sendiri, sehingga kesannya tidak terputus dari identitas kreatif yang selama ini ia bangun.

Gugup sebelum naik runway, lalu mendapat dukungan dari model berpengalaman

Menjelang naik runway, Rachel mengaku sempat merasakan gugup. Ia berlatih berjalan dan sempat khawatir tersandung di atas panggung. Namun dukungan dari model-model yang lebih berpengalaman membuatnya lebih tenang. Di antaranya, ia disebut mendapat penguatan dari Anok Yai dan Bhavitha Mandava.

Saat akhirnya melangkah, Rachel bisa merasakan momen tersebut sebagai bagian dari perjalanan yang panjang. Bagi banyak orang, debut di panggung besar sering dipahami sebagai lompatan, tetapi bagi Rachel, tampil di Grand Palais justru terasa seperti pertemuan antara pengalaman kreatif di balik layar dan ruang catwalk yang selama ini ia bayangkan.

Fashion sebagai ekosistem kreatif, bukan tujuan tunggal

Setelah debut Chanel, nama Rachel memang makin dikenal sebagai model. Meski demikian, ia tidak menempatkan modeling sebagai tujuan akhir. Baginya, fashion adalah bagian dari ekosistem kreatif yang lebih luas, tempat cerita dan dokumentasi ikut menentukan arah karya.

Melalui The Process Africa, Rachel ingin mendokumentasikan perjalanan para kreator muda Afrika sejak awal, ketika mereka masih membangun fondasi, bukan hanya saat sudah menerima pengakuan internasional. Ia juga membawa perspektif kolektif ke dalam kariernya, mempertanyakan apakah sebuah kesuksesan benar-benar bermakna bila kesempatan hanya masuk ke satu orang, sementara yang lain masih menunggu pintu terbuka.

Dari Lagos menuju Grand Palais, Rachel memperlihatkan bahwa runway tidak selalu menjadi tempat pertama seseorang menemukan dirinya. Dalam kasusnya, panggung besar justru datang setelah ia membangun dunia kreatifnya sendiri melalui konsistensi, kolaborasi, dan cara bercerita yang khas.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x