
Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2026 di Kota Bogor menyelesaikan perbaikan sarana dan prasarana untuk 36 sekolah jenjang SD dan SMP. Program yang digelar melalui skema swakelola ini melibatkan sekolah negeri maupun swasta, dan seluruh proses pembangunan yang dianggarkan telah berakhir pada Oktober 2026. Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut penutupan seluruh tahapan revitalisasi dilakukan saat meninjau SMP Bina Karya Kreatif Kota Bogor yang menjadi proyek terakhir selesai, Jumat 16 Oktober 2026.

Dengan dukungan Kemendikdasmen, pemerintah Kota Bogor mengalokasikan anggaran sebesar Rp26 miliar untuk merealisasikan program revitalisasi tersebut. Fokusnya bukan hanya perbaikan fisik ruang kelas, tetapi juga kelengkapan pendukung pembelajaran seperti fasilitas perpustakaan, ruang UKS, hingga bantuan laptop. Langkah ini diarahkan untuk membuat lingkungan sekolah lebih representatif agar proses belajar mengajar berjalan lebih nyaman dan bermutu.
Dedie A. Rachim menegaskan bahwa semua sekolah penerima bantuan telah menyelesaikan proses revitalisasi. Ia menyebut revitalisasi mencakup sekolah negeri maupun swasta, sehingga dampaknya menyentuh variasi kebutuhan yang berbeda di lapangan. Saat peninjauan di SMP Bina Karya Kreatif, wali kota melihat langsung bangunan yang baru selesai direvitalisasi dan menilai kondisi sekolah kini lebih siap mendukung aktivitas belajar.
Dalam penjelasannya, Dedie mengaitkan program ini sebagai bantuan yang menjadi bagian dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan tersebut sekaligus memberi konteks bahwa revitalisasi sekolah bukan sekadar proyek bangunan, melainkan upaya perbaikan layanan pendidikan yang diharapkan dapat dirasakan siswa secara nyata.
Pemerintah Kota Bogor mengungkapkan anggaran senilai Rp26 miliar disiapkan untuk mendukung pelaksanaan revitalisasi 36 sekolah sepanjang tahun 2026. Angka tersebut digunakan untuk merealisasikan berbagai kebutuhan sekolah yang sebelumnya belum memadai, baik dari sisi ruang belajar maupun fasilitas kesehatan dan penunjang kegiatan akademik.
Wali kota menjelaskan bantuan yang diberikan mencakup ruang kelas baru, bantuan laptop, fasilitas perpustakaan, ruang UKS, serta mebel. Dengan paket dukungan yang beragam, program ini tidak berhenti pada perbaikan fisik, melainkan juga memperkuat ekosistem pembelajaran. Kondisi tersebut diharapkan membantu sekolah meningkatkan kualitas layanan pendidikan, mulai dari aktivitas di kelas sampai layanan kesehatan dasar bagi siswa.
Di SMP Bina Karya Kreatif, Kepala SMP Mariati Lince Lumbanbatu menggambarkan kondisi sekolah sebelum revitalisasi. Ia menyebut lapangan sekolah masih berupa tanah merah, sejumlah bagian atap membutuhkan perbaikan, dan kondisi lantai banyak yang retak. Gambaran ini menunjukkan bahwa persoalan yang ditangani tidak hanya estetika bangunan, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan keamanan ruang belajar.
Setelah revitalisasi, Mariati menilai perubahan sudah terasa. Ruang kelas di atas dan di bawah disebut telah diperbaiki semuanya, sementara fasilitas pendukung juga bertambah. Ia juga menyampaikan sekolah menerima bantuan mebel dan perlengkapan untuk ruang UKS, sehingga siswa memiliki fasilitas yang lebih layak untuk pemeriksaan dan penanganan awal saat diperlukan.
Perbaikan sarana pendidikan semacam ini biasanya berdampak pada rutinitas harian siswa. Ketika ruang kelas lebih baik, proses belajar dapat berlangsung tanpa gangguan akibat kondisi bangunan yang rusak, misalnya lantai retak atau bagian atap yang bermasalah. Selain itu, adanya perpustakaan dan bantuan perangkat pembelajaran seperti laptop berpotensi memperluas akses siswa terhadap materi belajar dan kegiatan literasi.
Di sisi layanan kesehatan sekolah, keberadaan ruang UKS yang lebih siap juga mengubah cara sekolah menangani kebutuhan dasar siswa. Mariati menyampaikan harapannya agar revitalisasi membuat siswa lebih bersemangat mengikuti pendidikan serta dapat mengembangkan potensi diri. Harapan tersebut selaras dengan tujuan program revitalisasi, yakni membangun lingkungan yang mendukung proses tumbuh kembang peserta didik, bukan hanya memperbaiki bangunan.
Skema swakelola dalam program ini menjadi salah satu faktor yang memungkinkan tahapan pembangunan berjalan hingga tuntas di seluruh sekolah penerima. Dalam kasus Kota Bogor, seluruh proses revitalisasi disebut telah selesai, termasuk proyek yang menjadi penanda akhir di SMP Bina Karya Kreatif. Penyelesaian serentak ini penting karena membantu sekolah segera memanfaatkan ruang dan fasilitas yang sudah diperbarui tanpa menunggu tahap lanjutan.
Dengan selesainya proyek di 36 sekolah pada Oktober 2026, sekolah dapat segera menata kembali kegiatan belajar sesuai kondisi fasilitas baru. Bagi masyarakat sekitar sekolah, perubahan fisik dan kelengkapan fasilitas juga berpengaruh pada kenyamanan lingkungan pendidikan, termasuk bagi orang tua yang mengantar anak ke sekolah dan memantau layanan yang diberikan.






Tidak ada komentar