
INFOSENTULCITY.ID – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyebar hingga beberapa wilayah di Kabupaten Bogor. Di Kecamatan Ciomas, warga mengeluhkan debu tebal yang mulai terasa sejak dini hari dan menempel di halaman rumah, hingga mengganggu aktivitas harian.

Menurut warga yang terdampak, Abu vulkanik mulai terlihat menguat pada pagi hari. Jaya, salah satu warga Kampung Cikoneng 1, Desa Pagelaran, menyebut sejak sekitar pukul 05.15 WIB debunya sudah tebal. Ia mengatakan upaya pembersihan berulang tidak langsung membuat debu hilang sepenuhnya, sehingga kondisi rumah terus terasa berdebu.
Jaya mengaku sudah beberapa kali menyapu halaman dan teras rumah, namun debu tetap muncul lagi. Keluhan serupa juga disampaikan keluarga lain di sekitar lokasi yang sama, karena abu vulkanik tidak hanya menempel di permukaan luar, tetapi juga membuat area yang sering digunakan sehari-hari terlihat kotor.
“Dari subuh jam 05.15 WIB debunya tebel,” kata Jaya pada Minggu, 6 September 2026. Ia menjelaskan, meski sudah menyapu, debu masih tersisa dan kembali terlihat setelah dibersihkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebaran abu tidak berhenti dalam waktu singkat, melainkan mengikuti perubahan udara dan intensitas material yang keluar dari gunung.

Dampak erupsi juga dirasakan di lingkungan fasilitas pendidikan. Abu vulkanik disebut membuat SMPN 2 Ciomas turut berdebu, termasuk area yang digunakan untuk kegiatan belajar dan keamanan sekolah.
Penjaga SMPN 2 Ciomas, Aria (35), menyampaikan bahwa debu terlihat di teras ruang kelas, pos satpam, hingga kursi dan meja sekolah. Ia menuturkan abu vulkanik mulai menyebar sejak Minggu dini hari, sehingga pada waktu aktivitas sekolah dimulai, debu sudah lebih dulu menempel di berbagai titik.
Aria juga menggambarkan perubahan kondisi udara yang terasa lebih berat. “Dari semalam udaranya sudah beda, bikin napas sesak,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa selain masalah kebersihan, sebaran abu berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, terutama bagi orang yang sensitif atau sedang memiliki keluhan kesehatan tertentu.
Di Kampung Kabandungan, Desa Sirnagalih, Kecamatan Ciomas, warga melaporkan hal serupa. Ujang menyebut halaman rumah-rumah terkena abu vulkanik dan debu membuat permukaan sekitar terasa kotor sejak pagi.
Ia mengatakan pembersihan sudah dilakukan beberapa kali, namun debu kembali terlihat. “Dari pagi, sampai kursi kotor. Sudah empat kali dibersihkan ini masih ada debunya,” ungkap Ujang. Pola seperti ini biasanya terjadi ketika partikel abu masih tersuspensi di udara, lalu kembali mengendap setelah area dibersihkan.
Rentang waktu sebaran abu yang terasa sejak dini hari hingga pagi menunjukkan bahwa warga perlu menyiapkan langkah mitigasi yang lebih konsisten. Pembersihan permukaan memang membantu mengurangi debu yang terlihat, tetapi bila sumber abu masih aktif dan partikel masih terbawa angin, debu dapat kembali muncul. Karena itu, penanganan biasanya perlu dilakukan bertahap, termasuk memastikan ventilasi rumah, membersihkan area yang sering disentuh, dan mengurangi paparan langsung.
Untuk fasilitas umum seperti sekolah, kondisi berdebu dapat memengaruhi kenyamanan serta keselamatan warga sekolah. Debu yang menempel pada kursi dan meja bisa meningkatkan risiko terhirup saat aktivitas belajar berlangsung. Pengelola sekolah umumnya perlu memastikan kebersihan ruang, menyediakan perlindungan yang memadai bagi petugas, serta melakukan pembersihan terencana agar kegiatan tidak terganggu.
Keluhan sesak napas yang disampaikan Aria menjadi pengingat bahwa abu vulkanik tidak hanya soal tampilan halaman yang kotor. Partikel halus dapat memperparah iritasi pada saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan. Warga yang merasakan gangguan pernapasan dianjurkan untuk lebih berhati-hati dan memprioritaskan perlindungan diri.
Meski laporan yang muncul berfokus pada area Ciomas dan sejumlah kampung terdampak, sebaran abu dari erupsi berpotensi berubah mengikuti arah angin. Karena itu, warga di wilayah yang terpapar perlu terus memantau perkembangan kondisi dan mempersiapkan langkah pembersihan serta perlindungan yang sesuai dengan situasi di lapangan.






Tidak ada komentar