Rafik Akbar Tunanetra Bogor, dari kebutaan total jadi guru PAI

5 menit membaca View : 10
Abdul Halim
News, Pendidikan - 12 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Rafik Akbar, pria kelahiran Jakarta 16 Juni 1989, mengalami kebutaan total sejak 2001 dan kemudian membangun karier panjang di dunia pendidikan. Per Januari 2021, ia resmi bertugas sebagai ASN CPNS Guru di SD Negeri Pengadilan 5, Kota Bogor, mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti untuk siswa kelas 5 dan 6.

Perjalanan Rafik bukan sekadar kisah pribadi, tetapi juga gambaran bagaimana pendidikan inklusif dapat membuka ruang bagi penyandang disabilitas netra. Ia pernah menempuh sekolah umum sejak SMP Negeri 240 Jakarta, lalu SMA Islam Darul Ma’arif Jakarta, sebelum akhirnya lulus S1 dari Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2013 sebagai lulusan sarjana tunanetra pertama di prodi tersebut.

Minus 25, ablasio retina, lalu kebutaan total

Rafik mulai merasakan perubahan fungsi penglihatan sejak usia 4 tahun. Ia harus mengenakan kacamata dengan lensa super tebal berukuran minus 25. Pada tahap awal, penyebab pasti kemundurannya belum bisa dipastikan, namun dugaan medis mengarah pada benturan fisik masa kecil, seperti terjatuh atau mengalami benturan saat bermain.

Ujian berikutnya datang saat ia berusia 10 tahun pada 1998. Rafik didiagnosis mengalami ablasio retina, kondisi medis ketika saraf retina terlepas dari jaringan penyangga. Ia menjalani operasi besar di RSCM Cipto Mangunkusumo. Harapan sempat muncul karena minus matanya berkurang menjadi minus 20, tetapi proses perbaikan tidak bertahan lama.

Tepat setahun setelah operasi, pada 2001 ketika Rafik duduk di kelas 6 SD dan berusia 12 tahun, saraf matanya lepas sepenuhnya hingga ia mengalami kebutaan total atau totally blind. Masa itu diwarnai guncangan psikologis yang berat, mulai dari penolakan terhadap kondisi, kebingungan menghadapi masa depan, hingga munculnya stres yang sangat memukul mentalnya. Sebagai putra sulung dan anak laki-laki satu-satunya di keluarga dengan dua adik perempuan, ia merasa memikul beban harapan orang tuanya.

Penerimaan keluarga dan langkah inklusi yang terarah

Di tengah kondisi yang membuatnya hampir menyerah, Rafik menemukan penopang paling kuat dari rumah. Sang ayah, yang dulu harus putus kuliah di semester 3 demi bekerja demi menyokong keluarga bersama sang ibu, memilih sikap penerimaan tanpa syarat. Orang tuanya tidak membatasi ruang gerak Rafik, bahkan ketika ia merasa perlu masuk Sekolah Luar Biasa (SLB) karena tidak mampu membaca buku umum.

Alih-alih mengambil keputusan terburu-buru, keluarga membawa Rafik berkonsultasi dengan lembaga non pemerintah (NGO) yang menangani pendampingan anak tunanetra di Tangerang Selatan. Hasil asesmen menjadi titik balik: Rafik dinilai sangat mumpuni secara akademik dan intelektual, keterbatasannya ada pada penglihatan, bukan pada kemampuan berpikir. Karena itu, ia didorong untuk masuk sekolah umum atau model inklusif.

Rafik memulai langkahnya ketika diterima di SMP Negeri 240 Jakarta. Adaptasi dari membaca visual ke huruf Braille ternyata tidak instan. Ia merasa seperti kembali buta huruf, dan butuh waktu hingga lima tahun sebelum berani memakai tongkat serta berjalan sendiri di luar rumah. Fase keberanian itu ia taklukkan saat duduk di kelas 2 SMA. Meski menjadi satu-satunya siswa berkebutuhan khusus di sekolahnya, Rafik tetap membuktikan kapasitas melalui prestasi, termasuk kelulusan SMPN 240 Jakarta dengan nilai rata-rata terbaik.

Sejarah di kampus, membuka jalan bagi siswa tunanetra lain

Setelah lulus SMA, Rafik mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tingkat nasional. Pilihan pertamanya di Sastra Indonesia Universitas Indonesia tidak terwujud, namun ia diterima pada pilihan kedua, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di kampus itulah Rafik mengukir sejarah. Pada 2013, ia diwisuda sebagai lulusan sarjana tunanetra pertama dari Prodi PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kehadirannya dari jenjang SMP, SMA, hingga S1 menjadi semacam pembuka jalan bagi penyandang disabilitas netra di pendidikan formal yang selama ini belum banyak memberi ruang setara.

Rafik juga berperan aktif saat semester 3. Ia membantu mengadvokasi seorang calon mahasiswa tunanetra (adik kelasnya) yang sempat mengalami penolakan. Pihak fakultas kemudian terkejut ketika menyadari Rafik mampu menempuh perkuliahan dengan baik tanpa kendala berarti meski memiliki keterbatasan netra.

Dari pengabdian NGO hingga menjadi ASN CPNS Guru

Pascalulus S1 pada 2013, Rafik tidak berhenti pada status lulusan. Ia mengajar Al-Qur’an Braille, memberikan pelatihan komputer bicara untuk sesama tunanetra, serta melanjutkan pengabdian di NGO yang pernah mendampinginya. Kariernya berkembang hingga dipercaya memegang posisi strategis sebagai Sekretaris Umum, mengelola program seperti sekolah tunanetra, pesantren tunanetra, hingga percetakan Al-Qur’an Braille.

Pada 2019, Rafik melanjutkan studi S2 Magister Manajemen konsentrasi Manajemen SDM di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Di tahun yang sama, ia mulai mencoba mengikuti seleksi CPNS. Pada 2020, ia dinyatakan lulus murni sebagai ASN CPNS Guru. Per Januari 2021, Rafik bertugas di SD Negeri Pengadilan 5 Kota Bogor.

Di sekolah tersebut, Rafik mengajar PAI dan Budi Pekerti untuk siswa kelas 5 dan 6. Ia juga menyelesaikan pendidikan S2-nya pada 2025. Bagi warga sekolah, kehadirannya menghadirkan contoh nyata bahwa layanan pendidikan bisa berjalan setara, selama ada dukungan akses dan komitmen dari institusi.

Misi mengikis stigma, rumah tangga, dan harapan beasiswa S3

Rafik menyebut penugasan di sekolah dasar umum negeri sebagai panggung dakwah dan edukasi. Ia memandang pengajaran di SLB memang sudah memiliki ekosistem yang teredukasi, tetapi di sekolah umum ia bisa menjadi bukti hidup bagi masyarakat luas. Melalui interaksi harian, Rafik mendidik anak-anak agar memahami bahwa bergaul dengan penyandang disabilitas adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang menakutkan atau aneh.

Dalam kehidupan pribadi, Rafik bertemu dengan sang istri ketika bekerja di NGO. Sang istri saat itu berstatus non disabilitas dan mereka bekerja dalam satu ruang. Ketulusan dan karakter Rafik membuat sang istri menerima pinangan. Rafik mengenang pesan dari istrinya tentang cinta sejati, yang tidak berhenti pada kelebihan, tetapi juga menerima kekurangan apa adanya sebagai sumber makna.

Untuk menjaga keteguhan saat menghadapi hambatan, Rafik memegang firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Insyirah ayat 5-6, yang menegaskan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Kini, ia terus menata langkah berikutnya dengan mengejar peluang beasiswa S3 (LPDP) agar dapat memperluas kontribusi pada pendidikan dan pemberdayaan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x