Leuweung Batutulis Bogor ubah tanaman jadi hias demi cegah longsor

3 menit membaca View : 9
Abdul Halim
Bogor, News - 07 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Pemerintah Kota Bogor mengusulkan perubahan jenis tumbuhan di Leuweung Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan rencana ini saat meninjau lokasi pada Rabu, 7 Oktober 2026, dengan fokus pada aspek keamanan lereng dan infrastruktur di bawah kawasan.

Alasan utamanya, akar pohon keras dinilai berpotensi merusak turap Underpass Batutulis dan memicu longsor. Penataan tanaman juga diarahkan agar tetap menghadirkan estetika, termasuk pada area yang berbatasan dengan Istana Batutulis, sambil menjaga integrasi ruang publik dengan cagar budaya Museum Pajajaran.

Alasan perubahan tanaman di Leuweung Batutulis

Dedie menjelaskan bahwa meski Leuweung Batutulis sering disebut sebagai hutan kota, karakter kawasannya berada di tebing. Kondisi ini membuat pemilihan vegetasi tidak bisa disamakan dengan area taman datar. Menurutnya, apabila ditanami tanaman keras, dinding Tembok Penahan Tanah (TPT) pada underpass berisiko mengalami gangguan, lalu memunculkan potensi longsor.

Ia juga menekankan bahwa pertimbangan keamanan menjadi dasar utama. Di sisi lain, Pemkot tetap ingin kawasan tersebut terasa nyaman bagi warga, bukan hanya sebagai ruang hijau, tetapi juga sebagai ruang publik yang terhubung dengan lingkungan bersejarah di sekitarnya.

Peran Disperumkim dan pola penanaman yang lebih aman

Untuk teknis pemilihan jenis tanaman, Dedie menyebut penentuan diserahkan kepada Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor. Penataan, termasuk kerapatan di area tertentu, dirancang agar kawasan tetap terlihat menarik tanpa mengabaikan faktor kestabilan struktur.

Di bagian depan yang berbatasan dengan Istana Batutulis, rencana penanaman dibuat lebih padat. Tujuannya agar tampilan kawasan tetap estetik, sementara aspek keamanan tetap menjadi prioritas dalam penentuan jenis dan pola tanam.

Tanaman hias sebagai pilihan, trembesi tidak dipakai

Chusnul Rozaqi selaku Kepala Dinas Perumkim Kota Bogor menjelaskan bahwa pada lapisan bawah kawasan Leuweung Batutulis terdapat sumber mata air. Kondisi ini membuat area lebih rawan longsor, sehingga pemilihan tanaman harus mempertimbangkan beban yang ditimbulkan terhadap lereng.

Ia menyatakan tanaman berakar tunggang dengan tajuk lebat seperti trembesi tidak akan digunakan karena berisiko roboh saat diterpa angin kencang dan dapat merusak struktur tebing. Sebagai alternatif, Disperumkim menargetkan penggunaan tanaman hias, termasuk perdu dan Calathea, karena dinilai tidak memberi beban berat pada tebingan.

Area tertentu tetap memakai pohon keras untuk kestabilan lereng

Meskipun dominasi rencana tanam mengarah pada tanaman hias, tidak semua bagian sepenuhnya tanpa pohon keras. Chusnul menyebut ada beberapa area yang tetap akan ditanami pohon keras untuk menjaga kestabilan lereng.

Artinya, pendekatannya bukan sekadar mengganti jenis tanaman secara menyeluruh, melainkan menyesuaikan kebutuhan tiap segmen kawasan. Dengan adanya sumber mata air di lapisan bawah, pemetaan kondisi lereng menjadi penting agar vegetasi berfungsi mendukung kestabilan, bukan justru menambah risiko.

Akses pejalan kaki sudah bisa dilalui meski pembangunan belum rampung

Meski proyek Leuweung Batutulis belum sepenuhnya selesai, jalur pedestrian di kawasan tersebut sudah dapat digunakan oleh pejalan kaki. Pengaturan akses dibuat lebih ketat, terutama untuk kendaraan bermotor, mengingat kawasan diarahkan sebagai ruang publik pejalan kaki.

Dedie menyampaikan bahwa akses untuk motor tidak memungkinkan karena jalan sudah ditutup. Pejalan kaki bisa melintas baik dari arah underpass menuju Jalan Batutulis maupun sebaliknya, sehingga warga dapat menikmati area berjalan sambil menunggu tahap penyelesaian lanjutan.

Dampak langsung bagi warga dan keterkaitan dengan cagar budaya

Perubahan jenis tanaman ini memiliki dampak nyata bagi aktivitas warga di sekitar Leuweung Batutulis. Dengan fokus pada pengurangan risiko longsor dan perlindungan struktur underpass, kawasan pejalan kaki diharapkan lebih aman untuk digunakan setiap hari, termasuk saat cuaca ekstrem yang dapat meningkatkan tekanan pada lereng.

Selain itu, rencana menghadirkan taman yang indah bersebelahan dengan Istana Batutulis dan Museum Pajajaran membuat penataan vegetasi juga menjadi bagian dari pengalaman ruang publik. Warga dapat menikmati pemandangan dari jalan baru, sementara pengelolaan vegetasi di lereng tetap memperhatikan keselamatan kawasan cagar budaya yang berada di sekitarnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x