Petugas Keamanan KRB Bogor Diduga Lontarkan Ucapan Menyinggung TK

4 menit membaca View : 8
Abdul Halim
Bogor, News - 17 Okt 2026

Sejumlah orang tua murid TK Insan Kamil Bogor mengadukan kejadian yang mereka nilai tidak pantas saat rombongan anak-anak berkunjung ke Kebun Raya Bogor (KRB). Peristiwa itu terjadi ketika rombongan hendak pulang dari kawasan wisata, dengan jadwal keluar pukul 10.30 WIB, namun angkot penjemput sudah tiba lebih awal pukul 10.15 WIB.

Rombongan kemudian menjelaskan kepada petugas bahwa anak-anak sedang berjalan menuju pintu keluar. Akan tetapi, respons petugas keamanan justru dianggap menyinggung, terutama karena yang dihadapi adalah anak usia taman kanak-kanak. Manajemen KRB selanjutnya merespons keluhan tersebut dengan menindak petugas yang bersangkutan, meminta maaf kepada sekolah dan orang tua, serta mengundang anak-anak ke acara pembukaan Museum Purbakala.

Jadwal kepulangan lebih cepat, penjelasan ke petugas tidak berbuah baik

Menurut keterangan salah satu orang tua murid, rombongan seharusnya keluar dari KRB pada pukul 10.30 WIB. Namun, saat kegiatan sudah berjalan, angkot penjemput datang lebih awal pada pukul 10.15 WIB. Kondisi ini membuat anak-anak tetap berada di area yang sama sambil bersiap menuju titik keluar.

Dalam situasi seperti itu, rombongan menyampaikan penjelasan kepada petugas keamanan. Mereka menyatakan bahwa anak-anak sedang berjalan menuju pintu keluar, sehingga tidak sedang melakukan aktivitas lain di dalam kawasan. Harapannya, komunikasi singkat tersebut cukup untuk memastikan alur kepulangan berjalan tertib dan aman.

Ucapan bernuansa sindiran diduga menyasar cara berjalan anak

Keluhan orang tua berfokus pada ucapan petugas keamanan yang dinilai menyinggung. Para orang tua menyebut petugas menyindir cara anak-anak berjalan, dengan membandingkan asal mereka dengan surga atau neraka. Salah satu ibu murid menceritakan kembali ucapan itu, yang intinya mempertanyakan apakah anak-anak berjalan dari surga atau dari neraka.

Dalam konteks kunjungan wisata edukatif, nada seperti itu dinilai tidak selaras dengan karakter kegiatan yang melibatkan anak-anak. Orang tua juga menyoroti bahwa respons semacam ini tidak tepat disampaikan kepada anak usia TK, karena dapat menimbulkan rasa takut atau kebingungan, terlebih saat mereka sedang menunggu kepulangan.

Respons manajemen KRB: penindakan, permohonan maaf, dan undangan kegiatan

Keluhan tersebut kemudian mendapat respons dari pihak manajemen Kebun Raya Bogor. Pihak pengelola disebut telah menindak petugas keamanan yang bersangkutan. Selain itu, manajemen juga melakukan permohonan maaf langsung kepada pihak sekolah serta orang tua murid.

Langkah korektif ini penting karena menyangkut pengalaman pengunjung, terutama ketika pengunjungnya adalah anak-anak. Dalam kasus seperti ini, penanganan tidak hanya berhenti pada klarifikasi, tetapi juga pada tindakan yang menunjukkan pengelola memahami dampak psikologis dan sosial dari ucapan yang dinilai tidak pantas.

Sebagai bentuk itikad baik, anak-anak juga diundang ke acara pembukaan Museum Purbakala. Undangan tersebut menjadi upaya untuk memulihkan suasana setelah kejadian yang membuat orang tua merasa kecewa.

Dampak bagi orang tua dan sekolah saat fasilitas publik bersentuhan dengan anak-anak

Peristiwa di KRB memperlihatkan bagaimana layanan di ruang publik, termasuk lokasi wisata seperti kebun raya, tidak hanya dinilai dari ketersediaan fasilitas, tetapi juga dari perilaku petugas yang berinteraksi langsung dengan pengunjung. Saat rombongan sekolah berada di lokasi, orang tua dan pendidik berharap komunikasi berlangsung dengan bahasa yang ramah dan tidak menghakimi.

Bagi sekolah, kejadian semacam ini bisa mengganggu rasa aman anak saat beraktivitas di luar kelas. Untuk orang tua, keluhan biasanya berkaitan dengan kualitas pengawasan dan respons ketika terjadi ketidaksesuaian layanan. Apalagi, anak-anak usia TK cenderung merespons ucapan orang dewasa secara emosional, sehingga nada yang bernuansa menakut-nakuti berpotensi meninggalkan ingatan yang tidak menyenangkan.

Pelajaran untuk pengelolaan kunjungan edukatif di Kebun Raya Bogor

Kasus ini juga menyoroti perlunya standar komunikasi bagi petugas keamanan atau petugas layanan lain di area wisata edukatif. Ketika ada situasi operasional yang berubah, seperti jadwal kepulangan yang lebih cepat karena kendaraan sudah tiba, petugas idealnya memberikan arahan yang jelas dan menenangkan, bukan menyampaikan sindiran.

Pengelolaan kunjungan rombongan sekolah umumnya menuntut koordinasi yang rapi antara pihak sekolah, petugas internal, dan pengatur lalu lintas pengunjung. Dengan adanya tindak lanjut dari manajemen, diharapkan kejadian serupa tidak terulang dan pengalaman kunjungan tetap berorientasi pada pembelajaran serta kenyamanan anak-anak.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x