
Pemerintah Kota Bogor sedang memacu pembangunan jalur akses menuju kawasan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal. Proyek ini diarahkan untuk mendukung pembangunan PSEL Kayumanis, yang ditargetkan mulai dikerjakan pada Desember 2026, sehingga aktivitas konstruksi lanjutan di area tersebut terus digenjot.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyampaikan bahwa, jika tidak muncul kendala, pada Desember mendatang PSEL Bogor Raya 2 dapat dilakukan ground breaking. Pernyataan itu disampaikan saat meninjau lahan proyek pada Kamis, 15 Oktober 2026, terkait kesiapan akses dan pekerjaan pendukung di lokasi.
Di lapangan, sejumlah pekerjaan sudah berlangsung untuk menyiapkan akses menuju lokasi PSEL. Saat peninjauan dilakukan, kegiatan yang sedang dikerjakan meliputi pembangunan jalan lanjutan, pembukaan akses jalan baru, pembangunan tembok penahan tanah (TPT), serta tahapan cut and fill dan land clearing. Rangkaian pekerjaan ini penting karena akses yang siap akan menentukan kelancaran logistik alat berat, material konstruksi, hingga mobilisasi tenaga kerja pada fase berikutnya.
Percepatan akses juga berkaitan dengan kebutuhan proyek Waste to Energy yang akan memasuki tahapan pembangunan utama pada periode yang ditargetkan. Dengan adanya jalan lanjutan dan pembukaan akses baru, pihak pengelola proyek dapat mengurangi hambatan mobilitas dari titik awal menuju area pengolahan, sekaligus menekan potensi keterlambatan akibat akses yang belum memadai.
Dedie A. Rachim menegaskan bahwa target ground breaking pada Desember 2026 masih bisa dicapai bila tidak ada hambatan berarti. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyebut bahwa secara teknis tidak ada kendala yang terlalu berat mulai dari proses perizinan hingga penyediaan akses. Dengan kata lain, fokus saat ini lebih mengarah pada penyesuaian teknis di lapangan, terutama terkait kondisi elevasi.
Ia juga menggarisbawahi bahwa pekerjaan cut and fill mungkin perlu menyesuaikan elevasi pada bagian belakang lokasi. Kondisi topografi yang menurun di area tertentu menjadi faktor yang lazim memengaruhi perhitungan volume tanah, kemiringan lereng, serta rancangan penguatan lereng. Penyesuaian semacam ini biasanya dilakukan agar hasil akhir sesuai dengan rencana teknis sekaligus menjaga stabilitas area kerja.
Selain aspek fisik di lapangan, wali kota menyatakan bahwa PSEL Kayumanis atau yang juga disebut Bogor Raya II secara teknis telah memenuhi persyaratan administratif dan perencanaan. Hal tersebut mencakup perizinan, penetapan aset, perencanaan, pemisahan lahan, serta pemetaan akses jalan. Kelengkapan tahap-tahap tersebut menjadi penanda bahwa proyek tidak berhenti pada niat, tetapi sudah masuk fase yang lebih siap untuk dieksekusi.
Dalam proyek berskala infrastruktur dan pengelolaan sampah, kepastian administrasi sering menentukan kecepatan transisi dari persiapan menuju konstruksi. Ketika perizinan dan pemetaan akses sudah tersedia, proses koordinasi lintas pihak dapat berjalan lebih terarah, termasuk penjadwalan pekerjaan lapangan dan penyiapan kebutuhan teknis.
Dedie juga menyebut bahwa proyek PSEL Bogor Raya II membuka peluang kerja sama dengan beberapa pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan sebagian wilayah DKI Jakarta. Argumentasinya, pembangunan PSEL ditujukan untuk kepentingan bersama, sejalan dengan target mewujudkan kondisi yang lebih bersih dari sampah.
Menurutnya, kerja sama tersebut masih berada pada tahap pembahasan lebih lanjut. Namun ia menekankan bahwa kebutuhan utama tetap menjadi perhatian untuk warga Kota Bogor. Kota Bogor sendiri sudah memiliki dua PSEL, dengan PSEL Bogor Raya I yang lokasinya berada di Kabupaten. Kehadiran PSEL Kayumanis di sisi Kota Bogor diharapkan menambah kapasitas pengelolaan dan memperluas layanan terkait pengolahan sampah menjadi energi.
Bagi warga sekitar Kayumanis dan Tanah Sareal, pekerjaan jalan, TPT, cut and fill, serta land clearing menjadi indikator bahwa proyek memasuki fase persiapan konstruksi yang lebih nyata. Dampak yang paling langsung biasanya terasa pada pola aktivitas di area sekitar, terutama terkait akses kendaraan dan perubahan kondisi lahan. Saat akses jalan lanjutan serta akses baru sudah dibuka, mobilitas logistik proyek cenderung lebih terencana, sehingga gangguan di sekitar lokasi dapat diminimalkan dibanding jika pekerjaan harus menunggu perbaikan akses di kemudian hari.
Dari sisi jangka menengah, keberadaan PSEL juga berkaitan dengan layanan pengelolaan sampah yang pada praktiknya memengaruhi kenyamanan lingkungan. Ketika kapasitas pengolahan meningkat dan sistem pengelolaan berjalan lebih terintegrasi, warga berpotensi merasakan pengurangan penumpukan sampah dan pengelolaan yang lebih terarah. Namun, perubahan tersebut akan mengikuti tahapan pembangunan dan kesiapan operasional setelah ground breaking dilakukan.






Tidak ada komentar