Kebakaran TPA Galuga Bogor, asap ganggu warga hingga Cimangir

4 menit membaca View : 5
Abdul Halim
News, Peristiwa - 09 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Kebakaran di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, tidak hanya memicu respons pemadam, tetapi juga menyisakan kepulan asap tebal yang dirasakan warga sekitar. Sejumlah penduduk mengeluhkan gangguan pernapasan, sesak, hingga mata perih karena paparan asap yang bergerak mengikuti arah angin.

Di antara wilayah yang paling terasa dampaknya adalah area Cimangir, tempat asap terlihat masuk ke lingkungan permukiman. Pemerintah kemudian menyiapkan bantuan berupa masker dan obat-obatan, sementara ambulans disiapkan untuk warga yang membutuhkan penanganan kesehatan.

Asap kebakaran TPA Galuga menyebar ke permukiman

Warga sekitar TPA melaporkan bahwa kepulan asap muncul dan bertambah tebal seiring api membesar. Keluhan tidak berhenti pada bau menyengat, karena udara yang dipenuhi asap membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Beberapa warga mengaku harus lebih membatasi waktu di luar rumah, terutama ketika asap semakin pekat.

Seorang penjaga warung di sekitar lokasi menggambarkan bagaimana arah angin memengaruhi sebaran asap. Cimangir disebut menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena angin membawa asap dari TPA menuju permukiman. Pada malam hari, asap bahkan terlihat semakin jelas dari area permukiman yang jaraknya tidak jauh dari lokasi kejadian.

Kronologi awal kebakaran dan upaya pemadaman

Menurut kesaksian warga di sekitar lokasi, kebakaran mulai terjadi pada sore hari. Petugas pemadam kebakaran kemudian datang menggunakan dua unit mobil untuk berusaha mengendalikan api. Namun, upaya awal dinilai kurang efektif sehingga kobaran api terus membesar.

Ketika malam tiba, warga mulai melihat api dari arah kawasan TPA. Kondisi ini menambah kekhawatiran karena permukiman berada pada jarak yang relatif dekat. Pada fase lanjutan, petugas menghadapi tantangan di lapangan, terutama terkait akses menuju titik-titik api yang berada di bagian yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Sesak napas dan mata perih jadi keluhan utama warga

Asap tebal menjadi dampak yang paling cepat dirasakan warga. Iyuh dan Yayan, dua warga yang tinggal di sekitar lokasi, menyampaikan keluhan berupa sesak napas dan gangguan pada mata akibat paparan asap. Rasa perih pada mata muncul ketika asap terus bergerak mengikuti pola angin, sehingga sulit dihindari oleh warga yang rumahnya berada pada jalur sebaran.

Dalam situasi seperti ini, gangguan kesehatan bisa berkembang lebih cepat bila paparan berlangsung lama, terutama bagi warga yang sensitif terhadap asap. Karena itu, penanganan yang cepat menjadi penting agar keluhan tidak memburuk dan warga dapat tetap menjalani aktivitas terbatas dengan kondisi yang lebih aman.

Pemda siapkan masker, obat, dan ambulans bagi warga terdampak

Di tengah kepulan asap, pemerintah memberikan bantuan kepada warga terdampak. Bantuan yang disebutkan antara lain masker dan obat-obatan. Selain itu, ambulans disiapkan untuk membantu warga yang membutuhkan penanganan kesehatan.

Langkah tersebut dinilai relevan karena keluhan yang muncul berkaitan langsung dengan paparan asap. Warga yang mengalami sesak atau gangguan pada mata membutuhkan akses pertolongan yang cepat, terutama ketika kondisi lingkungan masih dipenuhi asap dan jarak pandang maupun kenyamanan aktivitas berkurang.

Helikopter TNI AU bantu water bombing saat akses darat terbatas

Proses pemadaman menghadapi kendala akses. Sejumlah titik api berada di area yang sulit dijangkau kendaraan pemadam karena akses menuju bagian belakang kawasan terbatas. Akibatnya, petugas harus menggunakan metode lain untuk menjangkau sumber api.

Pada Selasa, 8 September 2026, helikopter TNI AU dari Lanud Atang Sendjaja diterjunkan untuk membantu water bombing setelah armada darat kesulitan mencapai titik api. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyampaikan bahwa dukungan udara digunakan untuk penyiraman melalui udara memakai helikopter dari Lanud Atang Sendjaja.

Upaya water bombing menjadi salah satu cara untuk mempercepat penanganan di lokasi yang tidak bisa dijangkau langsung. Dengan pendekatan ini, petugas dapat menekan penyebaran api lebih cepat, sekaligus mengurangi risiko kobaran meluas ke area yang lebih sulit dikendalikan.

Api hampir padam, asap tetap tebal dan pendinginan dilanjutkan

Pada Selasa siang, Rudy menyatakan titik api besar hampir seluruhnya padam. Namun, asap masih terlihat tebal sehingga proses pendinginan tetap dilanjutkan oleh petugas. Pernyataan itu menunjukkan bahwa padamnya api tidak otomatis mengakhiri masalah bagi warga, karena sisa pembakaran dan proses pendinginan dapat membuat asap masih mengepul.

Warga tetap memantau kondisi di sekitar rumah, terutama mereka yang berada pada arah pergerakan asap. Saat kepulan masih terlihat pekat, aktivitas luar rumah cenderung tetap terbatas, karena udara yang mengandung asap berpotensi memicu keluhan pernapasan dan iritasi pada mata.

Warga berharap pemadaman tuntas dan pencegahan diperkuat

Bagi masyarakat sekitar Galuga, kejadian ini menjadi pengalaman yang tidak ingin terulang. Mereka berharap proses pemadaman benar-benar selesai hingga tidak menyisakan sumber api yang dapat muncul kembali. Pada saat yang sama, penguatan pencegahan juga dinantikan agar kebakaran serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.

Peristiwa kebakaran TPA memperlihatkan bahwa dampaknya tidak berhenti di area tempat sampah. Ketika asap terbawa angin hingga permukiman, warga di sekitar ikut merasakan konsekuensinya melalui gangguan kesehatan dan terganggunya rutinitas. Setelah api dipastikan padam, evaluasi terhadap pengamanan kawasan, akses kendaraan darurat, serta potensi penyebaran asap menjadi pekerjaan berikutnya bagi pihak terkait.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x