
INFOSENTULCITY.ID – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong di Kabupaten Bogor kini menghadapi persoalan overcapacity. Jumlah warga binaan hampir mencapai 2.000 orang, sedangkan kapasitas ideal lapas tersebut sekitar 850 orang. Kondisi ini membuat sejumlah kamar hunian harus ditempati puluhan warga binaan sekaligus.

Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Cibinong, Ricky Robby Rizkiawan, menyebut kelebihan penghuni tersebut berdampak pada penataan ruang, tetapi pihak lapas tetap menjalankan program pembinaan. Ia menjelaskan, untuk kondisi ideal, Lapas Cibinong masih jauh dari jumlah penghuni saat ini.
Ricky memaparkan bahwa saat ini hunian Lapas Cibinong sudah mendekati angka 2.000 orang. Dengan kapasitas ideal sekitar 850 orang, selisih yang terjadi cukup signifikan. Akibatnya, sejumlah kamar yang semestinya menampung jumlah tertentu harus menampung lebih banyak warga binaan.
Dalam praktik harian, penumpukan penghuni dapat memunculkan tantangan tersendiri, mulai dari pengaturan ruang gerak hingga kebutuhan fasilitas penunjang kegiatan. Namun, pihak lapas berupaya menjaga agar pembinaan tetap berjalan, termasuk melalui program yang terjadwal dan melibatkan sarana yang tersedia di lingkungan lapas.

Salah satu fokus pembinaan yang disebut Ricky adalah kegiatan keagamaan melalui program santri. Saat ini sekitar 800 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tercatat aktif mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan semacam ini biasanya menjadi ruang pembinaan yang terstruktur, sekaligus mendukung pembentukan karakter dan kedisiplinan warga binaan.
Ricky menuturkan pembinaan kerohanian tidak berhenti pada kegiatan keagamaan saja. Lapas juga menyediakan berbagai sarana untuk menjaga kebugaran warga binaan agar aktivitas pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga pada kesehatan fisik.
Untuk mendukung pembinaan kesehatan, Lapas Cibinong menyediakan fasilitas olahraga. Ricky menyebutkan adanya sarana seperti futsal, basket, voli, tenis, dan bulu tangkis. Dengan adanya pilihan jenis olahraga, warga binaan dapat menyesuaikan aktivitas sesuai minat dan kemampuan, sekaligus membantu menjaga stamina selama menjalani masa pembinaan.
Di tengah kondisi overkapasitas, keberadaan sarana olahraga menjadi salah satu cara mengoptimalkan pemanfaatan ruang dan waktu kegiatan. Aktivitas fisik yang terjadwal juga berperan dalam mengurangi kejenuhan, sekaligus menumbuhkan rutinitas positif di lingkungan lapas.
Selain keagamaan dan olahraga, kegiatan kepramukaan juga menjadi bagian dari program pembinaan di Lapas Cibinong. Ricky menyampaikan lapas telah memiliki Gugus Depan Pramuka dan menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Ia menambahkan bahwa ketika ada kegiatan di pemerintah daerah, pramuka dari lapas ikut diundang untuk berpartisipasi. Model kolaborasi ini membuat kegiatan pramuka tidak hanya berlangsung di internal lapas, tetapi juga berpotensi memperluas pengalaman warga binaan melalui keterlibatan dalam agenda yang lebih luas.
Di tengah sorotan publik yang kadang muncul terhadap kasus-kasus tertentu, pihak Lapas Cibinong menegaskan tidak ada pembedaan perlakuan bagi warga binaan. Ricky menyatakan, khususnya bagi narapidana yang menjadi perhatian publik, penempatan dilakukan pada ruang yang sama dengan penghuni lainnya.
Ricky menegaskan tidak ada fasilitas maupun penempatan khusus yang diberikan. Menurutnya, prinsip yang diterapkan adalah perlakuan yang setara, sehingga tata kelola di lapas berjalan berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk seluruh warga binaan.






Tidak ada komentar