Santunan Anak Yatim Bogor Barat oleh Dessy Suprihartini Raih Metropolitan Awards 2026

4 menit membaca View : 8
Abdul Halim
News, Peristiwa - 19 Okt 2026

Dessy Suprihartini, pendiri Komunitas Peduli Bogor Barat, menyalurkan santunan kepada anak yatim dan duafa di wilayah Bogor Barat. Pada Senin, 19 Oktober 2026, ia memberikan bantuan berupa uang tunai, perlengkapan buku, dan tas sekolah untuk 11 anak yatim binaannya, sekaligus menyalurkan beras kepada 10 janda duafa.

Penyerahan bantuan ini dilakukan sebagai bentuk syukur setelah Dessy meraih Metropolitan Awards 2026 pada kategori Tokoh Inspiratif Relawan Kesehatan dan Kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa niat awal kegiatannya memang untuk membantu sesama, bukan untuk mencari sorotan, sehingga ketika apresiasi datang, ia memilih untuk membagikan kembali rezeki yang diterimanya kepada warga yang masih membutuhkan.

Dessy Suprihartini salurkan santunan dan perlengkapan sekolah

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dessy Suprihartini, yang akrab disapa Bunda Uun Jumawa, menyerahkan paket santunan kepada 11 anak yatim binaan Komunitas Peduli Bogor Barat. Bentuk bantuan yang diberikan tidak berhenti pada uang tunai, tetapi juga mencakup perlengkapan belajar seperti buku dan tas sekolah. Pilihan jenis bantuan ini memperlihatkan fokus pada kebutuhan yang langsung terasa saat anak-anak memasuki aktivitas sekolah, terutama terkait kesiapan perlengkapan belajar.

Selain dukungan untuk anak yatim, Dessy juga menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada 10 janda duafa di wilayah Bogor Barat. Dengan pola bantuan yang menggabungkan kebutuhan pendidikan dan kebutuhan harian, kegiatan ini menjadi gambaran kerja relawan yang berupaya menjawab keterbatasan dari dua sisi yang berbeda, yaitu keberlanjutan belajar dan ketahanan kebutuhan dasar.

“Niat awal kami sejak awal murni membantu sesama, bukan untuk mencari pujian apalagi penghargaan. Maka saat apresiasi ini datang, cara terbaik untuk mensyukurinya adalah dengan membagikan kembali rezeki tersebut kepada orang-orang yang sangat membutuhkan,” kata Uun.

Metropolitan Awards 2026 menjadi pemantik berbagi kembali

Dessy Suprihartini menyebut penghargaan yang diterimanya bukan titik akhir, melainkan pemicu agar bantuan terus bergerak. Ia menekankan bahwa apresiasi yang diterima seharusnya tidak berhenti pada seremonial, melainkan dapat dialihkan menjadi dukungan nyata bagi penerima manfaat yang kondisinya masih rentan.

Pada malam penganugerahan, Dessy mendapatkan penghargaan sekaligus uang sebesar Rp10 juta. Uang tersebut diserahkan melalui Bupati Bogor, Rudy Susmanto, dan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. Bagi penerima manfaat, nilai tersebut bukan sekadar angka, karena kemudian diwujudkan dalam bentuk bantuan yang menyasar anak yatim dan duafa di sekitar wilayah Bogor Barat.

Komunitas Peduli Bogor Barat berdiri sejak 2006

Kegiatan sosial Dessy tidak dimulai dari satu momen penghargaan. Komunitas Peduli Bogor Barat yang ia dirikan telah berdiri sejak 2006, dan selama itu dikenal aktif membantu warga kurang mampu di sejumlah wilayah, mulai dari Parungpanjang, Tenjo, hingga wilayah pelosok di Bogor Barat. Rentang waktu dua dekade membuat kiprah komunitas tidak hanya bersifat insidental, melainkan membentuk jejaring bantuan yang berulang dari tahun ke tahun.

Dalam praktiknya, bantuan yang diberikan tidak seragam, menyesuaikan kebutuhan lapangan. Dessy menyebut kiprah komunitasnya mencakup pendampingan pasien sakit, penanganan anak stunting, pemenuhan gizi keluarga pra-sejahtera, hingga respons terhadap bencana. Ragam program tersebut menunjukkan bahwa pendekatan relawan yang ia bangun tidak terpaku pada satu jenis bantuan, melainkan berusaha mengikuti problem yang paling mendesak di komunitas.

Dari lingkungan sekitar, bantuan menjangkau kebutuhan nyata warga

Dessy menggambarkan bahwa gerakan kepeduliannya berawal dari tempat tinggal dan lingkungan terdekat. Ia memulai dengan tindakan-tindakan kecil yang masih dapat ia lakukan sesuai kemampuan, lalu berkembang ketika ia menemukan jalan untuk terus membantu. Pola ini sering kali menjadi kunci keberlanjutan gerakan sosial, karena relawan tidak harus menunggu sumber daya besar sejak awal untuk memulai.

Dengan pendekatan tersebut, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh warga. Untuk anak-anak, keberadaan tas dan perlengkapan buku membantu mengurangi beban orang tua dalam menyiapkan kebutuhan sekolah. Sementara bagi janda duafa, bantuan beras menjadi penopang kebutuhan harian yang biasanya paling cepat terasa ketika kondisi ekonomi keluarga sedang menurun. Bagi penerima manfaat, bantuan seperti ini bukan hanya menambah materi, tetapi juga memberi rasa diperhatikan dan tidak ditinggalkan.

“Sesuai panggilan hati, saya mulai bergerak memberikan bantuan-bantuan yang bisa saya lakukan. Di mulai hal kecil, lingkungan sekitar dan sesuai kemampuan saya,” ujar Uun.

Harapan Dessy agar penghargaan tidak berhenti di seremonial

Di bagian akhir kegiatan, Dessy menyampaikan harapannya agar santunan dan penghargaan tidak dipahami sebagai rangkaian seremonial semata. Ia ingin apresiasi yang diterima dapat menjadi pemantik agar masyarakat lain ikut tergerak untuk peduli dan berbagi kepada sesama, khususnya bagi mereka yang berada dalam kondisi sulit.

Ia juga menegaskan bahwa kunci agar amal kebaikan bernilai adalah ketika seseorang benar-benar meringankan beban orang lain, memberi dukungan yang relevan, dan hadir dalam kesulitan. Dengan cara demikian, penghargaan yang diterima tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kerja kemanusiaan yang terus berjalan melalui komunitas yang ia dirikan.

“Kami berharap santunan dan penghargaan ini bukan sekadar seremonial, tetapi bisa menjadi pemantik inspirasi bagi masyarakat luas. Semoga makin banyak orang baik yang tergerak untuk peduli dan berbagi kepada sesama,” katanya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x