
PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta mencatat jumlah penumpang KA Pangrango di Stasiun Sukabumi meningkat sekitar 7 persen pada periode Januari hingga September 2026 dibanding rentang waktu yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu setara dengan tambahan 39.527 penumpang, sehingga total selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai 613.678 orang.

Data ini menunjukkan tren kenaikan mobilitas penumpang di koridor Bogor hingga Sukabumi, termasuk stasiun-stasiun di wilayah tersebut. Pada periode Januari-September 2025, jumlah penumpang di Stasiun Sukabumi tercatat 574.151 orang. KAI juga menyebut pertumbuhan serupa terjadi di beberapa stasiun lain di lintas Bogor-Sukabumi.
Lonjakan sekitar 7 persen di Stasiun Sukabumi memperlihatkan bahwa KA Pangrango tetap menjadi pilihan untuk berbagai kebutuhan harian dan berkala. Dari Stasiun Sukabumi, penumpang dapat meneruskan perjalanan menuju Bogor serta Cianjur hingga Cipatat, yang menjadikan simpul stasiun ini relevan bagi pergerakan lintas wilayah.
Perbedaan angka antara dua periode, dari 574.151 orang pada Januari-September 2025 menjadi 613.678 orang pada Januari-September 2026, menggambarkan adanya pertambahan permintaan angkutan kereta dalam waktu yang cukup panjang. Kenaikan yang tidak hanya terjadi dalam hitungan minggu atau bulan, tetapi terakumulasi selama sembilan bulan, biasanya berkaitan dengan pola perjalanan yang lebih stabil.
KAI mencatat penumpang di Stasiun Cigombong naik 10 persen. Di sisi lain, Stasiun Parungkuda mengalami kenaikan yang lebih tinggi, yakni 16,33 persen. Sementara itu, Stasiun Cisaat mencatat pertumbuhan yang lebih kecil, sekitar 0,45 persen.
Variasi persentase ini menarik karena menunjukkan bahwa kenaikan tidak merata di seluruh titik layanan. Perbedaan tingkat pertumbuhan dapat dipengaruhi karakter kebutuhan penumpang di tiap lokasi, ketersediaan layanan lanjutan, serta pola aktivitas yang membuat sebagian stasiun lebih sering digunakan untuk perjalanan kerja, sekolah, kunjungan keluarga, hingga kegiatan wisata.
Secara keseluruhan, jumlah penumpang di wilayah Bogor-Sukabumi tumbuh 6 persen, dengan total 1.241.652 orang hingga September 2026. Angka ini menegaskan bahwa kenaikan di Stasiun Sukabumi bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari tren yang lebih luas di jalur kereta yang menghubungkan wilayah-wilayah tersebut.
Kenaikan total ini juga memperlihatkan dampak langsung pada ekosistem sekitar stasiun, mulai dari pergerakan penumpang harian hingga aktivitas pendukung seperti layanan antarjemput, kebutuhan makan minum sebelum keberangkatan, serta penyesuaian jadwal perjalanan masyarakat yang menunggu koneksi kereta dari dan ke berbagai tujuan.
Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menyampaikan bahwa kereta api tidak hanya berfungsi sebagai sarana perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Menurutnya, kereta api menjadi bagian dari konektivitas antardaerah yang mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pariwisata.
Dalam konteks perjalanan dari Bogor hingga Sukabumi, peran konektivitas ini terasa pada beragam tujuan penumpang. KAI menyebut rute dari Stasiun Sukabumi dapat dilanjutkan ke Bogor serta Cianjur hingga Cipatat, dipakai untuk bekerja, sekolah, mengunjungi keluarga, hingga berwisata. Dengan pola seperti itu, peningkatan jumlah penumpang cenderung berkaitan dengan makin tingginya pemanfaatan kereta sebagai pilihan mobilitas.
Naiknya jumlah penumpang di beberapa stasiun, termasuk Stasiun Sukabumi, dapat berpengaruh pada cara warga mengatur aktivitas. Bagi pekerja dan pelajar yang bergantung pada jadwal kereta, peningkatan pemanfaatan layanan biasanya sejalan dengan kebutuhan perjalanan yang lebih sering dan lebih terjadwal. Hal tersebut juga mendorong masyarakat untuk menyesuaikan waktu berangkat agar tetap memperoleh kepastian waktu yang diharapkan dari layanan transportasi.
Di sisi lain, bagi pelaku usaha yang beroperasi di sekitar stasiun dan koridor perjalanan, kenaikan arus penumpang membuka peluang peningkatan transaksi. Aktivitas seperti layanan transportasi lanjutan, perdagangan kebutuhan perjalanan, hingga jasa pendukung di sekitar area stasiun dapat ikut merasakan efek dari bertambahnya penumpang yang datang dan pergi sepanjang hari.
Franoto menambahkan bahwa bertambahnya jumlah penumpang mencerminkan semakin tingginya pemanfaatan kereta api untuk mobilitas masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan yang tercatat pada Januari hingga September 2026 menjadi indikator bahwa layanan kereta di wilayah Bogor-Sukabumi terus dipilih untuk berbagai keperluan, sejalan dengan kebutuhan perjalanan warga.






Tidak ada komentar