Bupati Bogor Rudy Susmanto: Bantuan untuk pesantren masih minim

4 menit membaca View : 6
Abdul Halim
Bogor, News - 22 Okt 2026

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengakui bahwa dukungan pemerintah daerah untuk pondok pesantren di wilayahnya masih belum memadai. Pengakuan itu disampaikan saat peringatan Hari Santri 2026 di Alun-Alun Kabupaten Bogor, Kamis 22 Oktober 2026, ketika ia menilai kebutuhan pendidikan agama di berbagai lokasi belum sepenuhnya terlayani.

Dalam kesempatan tersebut, Rudy menekankan bahwa meski bantuan belum maksimal, para kiai, ulama, dan guru ngaji tetap menjalankan peran pendidikan dan pembinaan spiritual di tengah masyarakat. Ia juga menyebut adanya dukungan dari kelompok dan organisasi Islam yang ikut membantu pembangunan infrastruktur pendidikan, termasuk di area yang belum terjangkau layanan pemerintah secara penuh.

Bantuan pemerintah daerah untuk pesantren dinilai belum cukup

Rudy menyatakan bahwa jika dilihat dari nilai angka bantuan, jumlahnya masih jauh dari kebutuhan. Pernyataan ini menggambarkan adanya kesenjangan antara kebutuhan riil lembaga pendidikan agama dan kemampuan dukungan yang tersedia saat ini. Bagi pemerintah daerah, pengakuan semacam ini biasanya menjadi sinyal bahwa skema bantuan yang ada perlu ditinjau ulang agar lebih tepat sasaran.

Namun, ia tidak menempatkan persoalan tersebut sebagai alasan untuk melemahkan semangat layanan pendidikan agama. Menurut Rudy, para ulama dan guru ngaji tetap hadir di tengah warga, berdiri bersama pemerintah untuk membangun Kabupaten Bogor. Sikap ini sekaligus memperlihatkan bahwa keberlangsungan pendidikan agama tidak hanya bergantung pada bantuan formal, tetapi juga pada komitmen komunitas yang menjalankan fungsi pendidikan dari hari ke hari.

Peran ulama dan guru ngaji tetap menjadi penopang layanan pendidikan

Rudy menilai semangat, perjuangan, dan keikhlasan para kiai, ulama, serta guru ngaji menjadi kekuatan besar dalam membentuk Kabupaten Bogor yang berakhlak. Di banyak wilayah, khususnya yang aksesnya tidak merata, guru ngaji dan pengasuh pesantren sering kali menjadi rujukan pendidikan agama sekaligus pembinaan karakter bagi anak-anak dan remaja.

Ia juga menggambarkan bahwa layanan pendidikan agama mulai bergerak masuk ke wilayah-wilayah perbatasan Kabupaten Bogor. Meski belum mencapai kondisi ideal, proses perluasan akses ini menunjukkan adanya dorongan untuk menjangkau komunitas yang sebelumnya kesulitan memperoleh layanan pendidikan agama secara konsisten.

Dukungan organisasi Islam bantu infrastruktur pendidikan di wilayah terluar

Selain menyoroti kekurangan bantuan pemerintah daerah, Rudy menyampaikan terima kasih kepada sejumlah kelompok dan organisasi Islam yang ikut membangun infrastruktur pendidikan. Menurutnya, keterlibatan mereka membantu masyarakat mendapatkan layanan pendidikan, terutama di daerah yang belum terjangkau sepenuhnya oleh pemerintah.

Dalam konteks pemerintahan daerah, dukungan nonpemerintah seperti ini sering menjadi pengungkit cepat, karena mampu mengisi celah kebutuhan yang tidak segera tertutup oleh mekanisme anggaran. Kehadiran kolaborasi juga memberi ruang agar pembangunan fasilitas pendidikan agama tidak berhenti di wilayah yang aksesnya lebih mudah, melainkan bisa merata ke lokasi yang lebih jauh.

Rencana meningkatkan insentif guru ngaji setelah evaluasi kebutuhan

Rudy berjanji untuk meningkatkan insentif terhadap guru ngaji. Ia menilai insentif yang diberikan pemerintah daerah saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan, sehingga perlu adanya evaluasi dan penyempurnaan. Janji ini penting karena guru ngaji merupakan ujung tombak pendidikan agama di tingkat komunitas, dan kesejahteraan mereka berkaitan langsung dengan keberlanjutan kegiatan mengajar.

Ia menyebut bahwa besaran yang ada belum cukup dan belum sesuai kebutuhan. Pemerintah daerah, lanjut Rudy, akan melakukan evaluasi bersama, terus menyempurnakan kebijakan, dan belajar dari proses yang berjalan. Dengan pendekatan seperti ini, perubahan kebijakan insentif berpotensi lebih terukur, tidak hanya menaikkan angka, tetapi juga menyesuaikan kebutuhan riil di lapangan.

Hari Santri sebagai pengingat perjuangan ulama dan santri untuk kemerdekaan

Momentum Hari Santri juga dimanfaatkan Rudy untuk mengingatkan peran kiai, ulama, dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menekankan bahwa kontribusi tersebut tidak hanya berupa doa, tetapi juga pengorbanan jiwa dan raga, termasuk perjuangan yang menuntut keringat dan bahkan darah.

Di sisi lain, Rudy memandang peran ulama dan santri tetap relevan hingga saat ini, baik dalam pendidikan maupun pembinaan spiritual masyarakat. Ia menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mereka dalam pembangunan Kabupaten Bogor, karena roda pemerintahan sebagai pelayanan publik tidak bisa berjalan tanpa pendampingan dari para kiai dan ulama yang berada di tengah masyarakat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x