Bawaslu Kabupaten Bogor Gelar Bawaslu Mengajar di MA Al Amin Pamijahan

4 menit membaca View : 8
Abdul Halim
News, Pendidikan - 07 Okt 2026

INFOSENTULCITY.ID – Bawaslu Kabupaten Bogor menggelar program Bawaslu Mengajar di MA Al Amin Pamijahan pada Rabu, 7 Oktober 2026. Kegiatan ini menyasar siswa yang sudah memasuki usia pemilih agar memahami demokrasi, kepemiluan, hingga pengawasan partisipatif, dengan penekanan pada pentingnya menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Acara berlangsung di wilayah Pamijahan, Kabupaten Bogor, dan menjadi bagian dari upaya lembaga pengawas pemilu memperkuat literasi demokrasi sejak bangku sekolah.

Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Kabupaten Bogor, Burhanudin, menilai pendidikan politik tidak cukup hanya mengajarkan tata cara mencoblos atau jadwal pemilu. Ia menekankan bagaimana siswa perlu dibekali kemampuan memahami informasi, membedakan fakta dengan informasi menyesatkan, serta mengambil keputusan secara rasional. Melalui pendekatan edukatif yang dekat dengan kehidupan pelajar, Bawaslu Mengajar diarahkan untuk membangun pemilih pemula yang kritis dan berintegritas.

Bawaslu Mengajar di MA Al Amin Pamijahan untuk pemilih pemula

Program Bawaslu Mengajar di MA Al Amin Pamijahan menjadi ruang belajar yang lebih terarah bagi siswa yang telah memasuki kategori pemilih. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan demokrasi, pemahaman tentang kepemiluan, serta gambaran praktik pengawasan partisipatif. Dalam sesi tersebut, siswa juga diajak memahami bahwa hak pilih bukan sekadar prosedur, melainkan bagian dari tanggung jawab warga negara untuk menjaga kualitas proses demokrasi.

Burhanudin menjelaskan bahwa pendidikan demokrasi sebaiknya diberikan sebelum siswa terlibat langsung dalam dinamika politik. Dengan begitu, saat kelak mereka menggunakan hak pilih, mereka tidak hanya tahu “apa yang harus dilakukan”, tetapi juga mengerti “mengapa harus dilakukan” secara bertanggung jawab. Ia menempatkan sekolah sebagai ruang strategis karena pelajar berada pada fase membangun cara berpikir dan kebiasaan literasi.

Literasi demokrasi, bukan hanya tata cara pemilu

Dalam kegiatan itu, Burhanudin menyoroti bahwa literasi demokrasi tidak berhenti pada pengetahuan waktu pelaksanaan pemilu atau tata cara mencoblos. Lebih dari itu, siswa perlu kemampuan membaca informasi secara cermat dan menilai kebenaran pesan yang diterima. Tantangan pemilu saat ini, menurut Burhanudin, juga berkaitan dengan risiko berita bohong, ujaran kebencian, serta berbagai bentuk pelanggaran yang bisa merusak kualitas demokrasi.

Ia berharap pemilih pemula menjadi generasi yang tidak mudah terjebak praktik politik uang maupun provokasi yang menyesatkan. Harapannya bukan sebatas “tidak ikut salah”, tetapi siswa mampu mengambil keputusan secara rasional, mempertimbangkan dampak, dan bertindak sebagai bagian dari pengawalan demokrasi. Dengan pendekatan ini, edukasi yang diberikan di kelas diharapkan berlanjut menjadi kebiasaan berpikir kritis ketika siswa kelak berhadapan dengan informasi politik.

Kolaborasi dengan perpustakaan keliling dan Bogor Corner

Kegiatan Bawaslu Mengajar tidak berdiri sendiri. Acara juga diperkuat dengan kehadiran Perpustakaan Keliling Pemerintah Daerah dan Bogor Corner. Kehadiran fasilitas literasi tersebut memberi ruang bagi siswa untuk tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh akses bacaan yang dapat memperluas wawasan mereka.

Burhanudin menyebut dukungan perpustakaan keliling dan Bogor Corner diharapkan mendorong siswa menjadikan membaca sebagai bagian dari proses memahami demokrasi. Logikanya sederhana, tetapi penting, karena pemahaman demokrasi membutuhkan kemampuan menyerap informasi dari berbagai sumber secara bertanggung jawab. Dengan ekosistem literasi yang lebih luas, siswa diharapkan terbiasa mencari informasi, memahami konteks, dan tidak mudah terpancing pesan yang tidak jelas asal-usulnya.

Pengawasan pemilu sebagai peran bersama

Selain membahas konsep, program ini juga menegaskan bahwa pengawasan pemilu bukan tugas lembaga pengawas semata. Siswa dibawa memahami bahwa masyarakat, termasuk pemilih pemula, memiliki peran dalam mengawal proses demokrasi melalui partisipasi yang kritis dan bertanggung jawab. Pemahaman ini penting karena demokrasi berjalan saat warga ikut menjaga kualitas proses politik.

Burhanudin juga berharap pendidikan demokrasi dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Karena itu, Bawaslu Kabupaten Bogor mendorong agar Bawaslu Mengajar terus dikembangkan dan menjangkau lebih banyak sekolah di wilayah Kabupaten Bogor. Kolaborasi bersama satuan pendidikan, pemerintah daerah, dan pihak yang peduli literasi dinilai dapat memperluas dampak program dan membentuk pemilih yang cerdas, kritis, berintegritas, serta bertanggung jawab.

Respons Kepala MA Al Amin dan harapan keterlibatan warga

Kepala MA Al Amin, E. Supriadi, menyambut baik pelaksanaan Bawaslu Mengajar. Ia menilai siswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai pemilu dari sisi penyelenggaraan dan pengawasan, tetapi juga diajak memahami bahwa demokrasi membutuhkan keterlibatan masyarakat. Dengan kata lain, keterlibatan warga negara menjadi bagian dari pendidikan demokrasi yang ingin ditanamkan.

Supriadi menekankan bahwa generasi muda adalah bagian dari pemilih sekaligus warga negara yang turut menentukan arah demokrasi melalui pilihan dan sikapnya. Harapan tersebut sejalan dengan pesan utama kegiatan, yakni membangun pemahaman sejak dini agar siswa siap menghadapi proses politik dengan cara berpikir yang lebih matang dan bertanggung jawab.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x