
Puluhan warga yang tinggal di sekitar kawasan Rancamaya menggelar aksi menolak rencana penutupan Jalan Rancamaya-Kampung Ciomas di Kota Bogor pada Rabu, 21 Oktober 2026. Aksi ini terjadi di wilayah Bogor Selatan, tepatnya melibatkan warga dari Kampung Ciomas, serta warga dari Desa Cibalung dan Desa Cipicung yang berada di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Peristiwa ini berawal dari kabar yang baru mereka dengar terkait rencana menutup jalan utama yang selama ini dipakai sebagai penghubung menuju permukiman. Camat Bogor Selatan, Harry Cahyadi, turun langsung menemui massa untuk mendengarkan aspirasi dan mencari jalan keluar agar akses warga tetap berjalan.
Menurut warga, Jalan Rancamaya-Kampung Ciomas bukan sekadar ruas jalan biasa, melainkan jalur yang menjadi bagian dari rutinitas mereka sehari-hari. Jalan tersebut digunakan untuk mobilitas warga menuju rumah, aktivitas kerja, hingga kegiatan ekonomi yang bergantung pada keterhubungan wilayah.
Mereka menyampaikan bahwa penggunaan jalan itu sudah berlangsung turun-temurun. Karena itu, ketika wacana penutupan muncul, banyak warga merasa kepastian akses ke permukiman menjadi tidak jelas, terutama bila penutupan dilakukan tanpa skema alternatif yang benar-benar siap.
Dalam pertemuan dengan massa, Harry Cahyadi mendengarkan langsung sejumlah keberatan warga. Fokus utama warga adalah kekhawatiran akses akan terputus sebelum ada jalur pengganti yang memadai, baik dari sisi jarak maupun kemudahan dijangkau.
Respons cepat dari aparat kecamatan menjadi bagian penting dari proses negosiasi di lapangan. Dengan hadirnya camat, warga dapat menyampaikan keberatan secara langsung, sekaligus memberi ruang untuk mencari solusi yang tidak hanya berhenti pada wacana penundaan.
Hasil pertemuan tersebut membuat jalan sementara masih bisa dilalui. Jalan tetap dibuka bagi warga Kampung Ciomas, baik yang berdomisili di Kota Bogor maupun yang berasal dari Kabupaten Bogor, sehingga aktivitas harian warga tidak langsung terganggu.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa kekhawatiran warga terkait akses nyata mendapat perhatian. Bagi masyarakat, perubahan akses jalan biasanya berdampak pada waktu tempuh, biaya logistik, hingga kelancaran layanan sehari-hari seperti distribusi kebutuhan dan perjalanan menuju fasilitas umum.
Di sisi lain, pihak Rancamaya disebut telah menyiapkan akses alternatif baru yang terhubung ke kawasan Gunung Gadung. Informasi tentang jalur pengganti ini menjadi poin penting karena warga menekankan bahwa penutupan tidak boleh terjadi sebelum alternatifnya siap digunakan secara layak.
Walaupun akses alternatif disebut sudah disiapkan, warga tetap menaruh perhatian pada kesiapan di lapangan. Mereka ingin memastikan jalur pengganti benar-benar bisa mengakomodasi kebutuhan mobilitas, termasuk untuk warga yang selama ini bergantung pada jalan tersebut sebagai rute utama.
Jika penutupan benar-benar dilakukan tanpa pengaturan transisi, mobilitas warga dari Kampung Ciomas serta wilayah Cijeruk berpotensi mengalami perubahan signifikan. Dampak semacam ini biasanya terasa pada aktivitas yang bergantung pada rute harian, termasuk perjalanan untuk bekerja, sekolah, hingga aktivitas ekonomi yang memerlukan akses kendaraan.
Karena itu, keputusan menjaga jalan tetap dibuka untuk sementara memberi waktu bagi proses penataan akses alternatif. Pada saat yang sama, situasi ini memperlihatkan pentingnya komunikasi sejak awal ketika ada rencana perubahan infrastruktur yang memengaruhi kehidupan warga di sekitar kawasan.






Tidak ada komentar