
Lokasi peristiwa, Infosentulcity.id – Perselisihan antara anggota Brimob dan pegawai toko handphone di Mall BTM Bogor berakhir damai setelah mediasi pada Rabu, 4 November 2026. Proses penyelesaian dilakukan secara kekeluargaan di Pos Keamanan Basement Mall BTM Bogor, dengan melibatkan Muhammad Indra Pratama selaku pegawai toko dan Putu Eka Juliawan selaku anggota Brimob Kedung Halang.

Peristiwa awalnya terjadi pada Jumat, 30 Oktober 2026 sekitar pukul 19.30 WIB di area penjualan handphone lantai 2 Mall BTM Bogor. Keributan sempat viral setelah rekaman CCTV beredar di media sosial, lalu kedua pihak memilih menyelesaikan masalah melalui mediasi agar tidak berlanjut. Dalam proses tersebut, keduanya menyatakan saling memaafkan dan sepakat persoalan dihentikan.
Mediasi digelar pada Rabu, 4 November 2026 di Pos Keamanan Basement Mall BTM Bogor. Forum ini mempertemukan Muhammad Indra Pratama dan Putu Eka Juliawan untuk membahas insiden yang sebelumnya sempat memicu perhatian publik. Dari hasil pembicaraan, kedua pihak sepakat tidak memperpanjang perselisihan yang sempat viral karena rekaman CCTV.
Kesepakatan damai tersebut juga ditandai dengan pernyataan permohonan maaf dari Putu Eka Juliawan atas perkataan maupun tindakan yang dilakukan saat insiden berlangsung. Putu menyampaikan bahwa masalah yang terjadi pada waktu itu berawal dari kesalahpahaman, bukan niat untuk memperkeruh keadaan. Ia juga menyatakan telah berdamai secara langsung dengan pegawai toko handphone yang terlibat.
“Untuk hari ini saya untuk menyelesaikan permasalahan yang viral kemarin. Masalah kemarin cuma latar belakang kesalahpahaman,” ujar Putu Eka Juliawan.
Insiden berawal dari interaksi di area penjualan handphone lantai 2 Mall BTM Bogor. Saat seorang pengunjung melintas bersama pasangannya, pegawai toko handphone menyapa dengan menawarkan bantuan, termasuk kalimat sapaan yang dimaksudkan sebagai pelayanan kepada pengunjung. Namun, respons yang muncul kemudian justru menjadi pemicu kesalahpahaman.
Dalam penjelasan yang beredar, pengunjung tersebut disebut merasa cemburu sehingga suasana memanas. Adu mulut akhirnya terjadi di area konter handphone dan berkembang menjadi keributan yang bahkan sempat menarik perhatian pengunjung lain di sekitar lokasi. Pada saat keributan berlangsung, pria tersebut disebut mengaku sebagai anggota Brimob.
Rekaman CCTV peristiwa tersebut kemudian beredar dan menjadi bahan perbincangan di media sosial. Penyebaran rekaman membuat insiden yang awalnya terjadi di dalam mall mendapat sorotan lebih luas, termasuk dari orang-orang yang tidak berada di lokasi saat kejadian. Kondisi ini turut mendorong kedua pihak untuk mencari jalan penyelesaian yang lebih tertib dan tidak berlarut-larut.
Setelah situasi berkembang dan perhatian publik meningkat, kedua pihak akhirnya memilih menempuh mediasi. Pilihan tersebut mengarah pada penyelesaian secara kekeluargaan, dengan fokus meredakan konflik serta memastikan tidak ada lanjutan perselisihan di kemudian hari.
Mediasi pada Rabu, 4 November 2026 menghasilkan kesepakatan damai. Dalam kesepakatan itu, Putu Eka Juliawan menyampaikan permohonan maaf atas perkataan maupun tindakan yang ia lakukan saat insiden terjadi. Ia juga menyatakan telah berdamai langsung dengan pegawai toko handphone yang terlibat.
“Saya di sini sudah berdamai dengan abangnya langsung. Ya, saya sudah berdamai. Jadi saya mohon maaf atas salah perkataan maupun tindakan yang saya lakukan,” katanya.
Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, perselisihan antara pegawai toko handphone dan anggota Brimob dinyatakan selesai secara kekeluargaan. Langkah penyelesaian melalui mediasi juga memperlihatkan bahwa konflik yang sempat viral dapat dihentikan dengan pembahasan langsung, bukan sekadar perdebatan yang berujung pada perluasan masalah.
Peristiwa yang terjadi di Mall BTM Bogor memperlihatkan bagaimana komunikasi singkat di ruang publik bisa ditafsirkan berbeda oleh pihak yang berbeda. Dalam kasus ini, sapaan yang dimaksudkan sebagai penawaran bantuan berujung pada adu mulut, lalu terekam CCTV dan akhirnya viral. Situasi seperti ini biasanya membuat pengunjung lain ikut terdampak, baik karena terganggu oleh keributan maupun karena ketegangan yang muncul di area komersial.
Setelah perhatian publik memuncak, mediasi menjadi jalur untuk menutup konflik dengan cara yang lebih terukur. Bagi pengunjung dan pelaku usaha di lingkungan mall, kejadian semacam ini juga menjadi pengingat bahwa pelayanan yang ramah perlu diiringi pemahaman konteks, terutama ketika interaksi terjadi di momen yang sensitif bagi pihak yang dilayani.






Tidak ada komentar