
Kebakaran melanda tiga ruko di Jalan Suryakencana, Kota Bogor, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Peristiwa ini diduga berawal dari korsleting listrik, dan pemadam kebakaran dikerahkan sejak menerima laporan sekitar pukul 01.30 WIB. Kejadian tersebut membuat petugas harus bekerja intensif karena masih ada titik api di area belakang salah satu ruko hingga pagi hari.

Pemadaman dilakukan dengan melibatkan 12 unit mobil pemadam kebakaran dari Kota dan Kabupaten Bogor. Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menyebut dugaan sementara penyebabnya terkait instalasi kabel listrik yang sudah tua dan kurang terawat, yang berujung korsleting lalu percikan api. Proses penanganan berlangsung lama, dan api baru berhasil dipadamkan pada pukul 08.43 WIB, sekitar 10 jam setelah laporan masuk.
Menurut Dedie Rachim, hasil pemeriksaan awal mengarah pada kondisi instalasi listrik yang tidak lagi prima. Kabel yang sudah tua dan kurang terawat berpotensi menimbulkan korsleting, lalu memercikkan api. Dalam kasus seperti ini, sumber api sering kali tidak langsung terlihat dari luar karena awalnya muncul di titik tertentu di dalam bangunan, sehingga penanganan awal sangat bergantung pada cepat atau lambatnya laporan diterima petugas.
Penjelasan tersebut juga memberi gambaran mengapa kebakaran bisa cepat meluas. Di bangunan ruko, instalasi listrik biasanya terhubung dengan banyak perangkat dan jalur kabel yang melintasi beberapa area. Jika kualitas kabel menurun, panas berlebih dan percikan api dapat menjadi pemicu kebakaran, terutama ketika ada bahan-bahan yang mudah terbakar di dalamnya.
Petugas damkar menerima laporan sekitar pukul 01.30 WIB dan segera menuju lokasi di Jalan Suryakencana. Sebanyak 12 unit mobil pemadam kebakaran dari Kota dan Kabupaten Bogor dikerahkan untuk memadamkan kebakaran yang melibatkan tiga ruko. Hingga pukul 06.00 WIB, pemadaman masih berlangsung, baik dengan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa maupun menggunakan mobil tangga untuk menjangkau area tertentu.
Alasan pekerjaan tidak berhenti lebih cepat adalah masih adanya titik api di area belakang salah satu ruko. Kondisi seperti ini kerap terjadi ketika api sudah merambat ke bagian yang sulit dijangkau dari depan, misalnya ruang belakang atau area yang tertutup. Petugas kemudian melanjutkan upaya pemadaman hingga api benar-benar padam pada pukul 08.43 WIB. Setelah itu, penanganan beralih ke tahap pendinginan agar sisa panas tidak memunculkan nyala ulang.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Damkar Kota Bogor, M Ade Nugraha, menjelaskan bahwa pemadaman berlangsung sekitar tujuh jam, kemudian dilanjut dengan pendinginan selama tiga jam 40 menit. Rincian waktu ini menunjukkan bahwa fase pemadaman dan fase pendinginan memiliki tugas berbeda. Pemadaman fokus pada menghentikan penyebaran api, sedangkan pendinginan bertujuan menurunkan suhu material yang terbakar sehingga bara tidak tersulut kembali.
Dalam pemadaman bangunan yang berisi berbagai barang dagangan, proses pendinginan menjadi krusial karena panas bisa tersimpan pada material tertentu walaupun nyala api terlihat sudah padam. Dengan durasi pendinginan yang panjang, petugas berusaha memastikan seluruh titik rawan telah ditangani, termasuk area yang sebelumnya menjadi sumber panas atau tempat api merambat.
Ade Nugraha mengungkapkan bahwa dugaan sumber awal api berasal dari toko sepeda. Dari titik tersebut, api kemudian merambat ke toko mainan hingga buku. Urutan perambatan ini relevan dengan karakter barang di dalam ruko. Toko sepeda umumnya memiliki komponen berbahan logam dan plastik, sedangkan toko mainan dan buku cenderung memiliki material yang lebih mudah terbakar, sehingga ketika api mencapai area tersebut, intensitas kebakaran dapat meningkat.
Ia juga menyampaikan keterangan saksi mengenai titik api pertama kali. Berdasarkan informasi dari saksi, titik api awal muncul dari toko sepeda, lalu menjalar ke toko-toko lainnya. Keterangan semacam ini biasanya membantu petugas menyusun kronologi kebakaran, terutama saat menentukan titik paling mungkin sebagai awal mula penyalaan dan jalur perambatan api.
Upaya pemadaman sempat menghadapi kendala di lapangan. Nugraha menyebut posisi hydrant berada jauh dari lokasi kejadian, sehingga pasokan air untuk pemadaman tidak bisa langsung dilakukan dengan jarak dekat. Dalam kebakaran besar, waktu pengaliran air dan jarak menuju sumber air dapat memengaruhi ritme kerja tim pemadam.
Selain itu, seluruh ruko dalam kondisi terkunci. Akses yang terbatas membuat petugas perlu melakukan langkah tambahan untuk masuk dan menjangkau bagian dalam bangunan. Kondisi ini dapat memperlambat proses pencarian sumber panas, pemeriksaan titik api tersisa, dan upaya pemadaman menyeluruh. Nugraha menilai kombinasi faktor tersebut membuat penanganan menjadi lebih sulit, bahkan ketika tim damkar sudah berada di lokasi.






Tidak ada komentar