INFOSENTULCITY.ID – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menyoroti persoalan yang masih sering dialami lulusan perguruan tinggi, yakni sulit memperoleh pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan latar belakang pendidikan. Ia menilai masalah ini tidak bisa dipandang semata dari ketersediaan lowongan kerja, karena akar persoalannya berkaitan dengan kesiapan lulusan saat memasuki dunia profesional.

JK menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 1 juta sarjana setiap tahun dari kurang lebih 4.500 perguruan tinggi. Namun, ketika lulusan tidak segera terserap ke pekerjaan yang relevan, waktu transisi yang dibutuhkan bisa berkisar dua hingga tiga tahun. Jika kondisi itu berulang, jumlah lulusan yang belum bekerja sesuai bidangnya berpotensi mencapai sekitar 3 juta orang.
Angka lulusan sarjana yang besar seharusnya menjadi modal kuat untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia. Akan tetapi, JK menekankan ada jarak antara jumlah lulusan dan kualitas kesiapan mereka saat memasuki pasar kerja. Realitasnya, tidak semua lulusan mampu langsung memenuhi kebutuhan praktis di tempat kerja.
Menurut JK, kesenjangan ini dapat terlihat dari pola penyerapan tenaga kerja. Lulusan yang memiliki bekal teori, tetapi minim pengalaman penerapan, biasanya membutuhkan waktu tambahan untuk menyesuaikan diri. Di sinilah persoalan “sesuai bidang” menjadi penting, karena pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan cenderung membuat proses belajar ulang terjadi saat sudah bekerja.

JK menolak cara pandang yang hanya melihat jumlah lapangan pekerjaan. Baginya, yang perlu dibedah adalah kemampuan lulusan dalam mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh selama kuliah. Ia mengilustrasikan kondisi saat seseorang bisa mengingat rumus dan materi saat di ruang kelas, tetapi mengalami kesulitan ketika harus menjalankan ilmu tersebut dalam situasi nyata.
Dalam kesempatan Agenda Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta Pusat, JK menyampaikan kritik yang menyoroti ketimpangan antara pengetahuan yang dihafalkan dan kemampuan yang benar-benar dipraktikkan. Ia menekankan bahwa kemampuan akademik yang kuat tidak otomatis membuat seseorang siap mengerjakan pekerjaan di dunia nyata.
“Masih ingat rumus-rumus, tapi tidak bisa melaksanakannya. Karena tangannya tidak kontak dengan otaknya,” ujar JK.
JK mendorong perubahan agar proses belajar tidak berhenti pada orientasi nilai dan hafalan. Ia menilai pendidikan seharusnya menghasilkan manusia yang mampu berpikir sekaligus memiliki karakter dan keterampilan untuk menerapkan pengetahuan. Jika pembelajaran hanya mengejar hasil ujian, lulusan bisa saja unggul di kertas, tetapi kurang kuat saat berhadapan dengan problem nyata yang membutuhkan keputusan cepat dan penerapan.
Gagasan JK menekankan bahwa proses pendidikan perlu menumbuhkan kemampuan yang lebih luas. Lulusan bukan hanya dituntut menjawab soal, melainkan juga mampu menggunakan pengetahuan untuk memecahkan persoalan, menghasilkan gagasan baru, dan berinovasi sesuai kebutuhan lapangan.
Dalam pandangan JK, pendidikan perlu menghidupkan konsep head, heart, and hand. Head dimaknai sebagai kemampuan berpikir dan menggunakan logika, sedangkan heart berkaitan dengan karakter. Sementara hand merujuk pada kemampuan melakukan sesuatu secara praktis, sehingga ilmu tidak berhenti sebagai teori.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran di kampus diharapkan lebih dekat dengan kerja nyata. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga dilatih untuk mempraktikkan, menguji, dan memperbaiki cara kerja. Pada akhirnya, lulusan diharapkan lebih siap beradaptasi karena mereka terbiasa menghadapi tugas yang menuntut penerapan, bukan sekadar penguasaan materi untuk evaluasi akademik.
Persoalan yang disampaikan JK memperlihatkan tantangan besar di balik meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi. Ketika teori tidak diiringi pengalaman praktik, proses adaptasi di tempat kerja cenderung lebih panjang. Ini dapat menunda kesesuaian bidang pekerjaan, bahkan ketika lulusan sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik.
JK menilai perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berinovasi, dan menyelesaikan persoalan secara nyata. Fokusnya bukan hanya mencetak lulusan dengan nilai akademik, melainkan menyiapkan mereka agar mampu menerjemahkan ilmu ke dalam tindakan profesional yang dibutuhkan di lingkungan kerja.






Tidak ada komentar