
INFOSENTULCITY.ID – Bupati Bogor Rudy Susmanto melepas 69 atlet Special Olympics Indonesia (SOIna) Kabupaten Bogor pada Selasa, 13 Oktober 2026. Keberangkatan ini ditujukan untuk mengikuti Pekan Special Olympics Nasional (PESONAS) II 2026 yang berlangsung di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 14-18 Oktober 2026.

Rudy menegaskan dukungan pemerintah daerah kepada para atlet penyandang disabilitas intelektual, tanpa menempatkan target juara sebagai beban. Ia menyampaikan bahwa keberanian mereka untuk tampil dan bersaing sudah merupakan prestasi yang layak diapresiasi, sekaligus menjadi cara untuk mengharumkan nama Bogor dan Indonesia di ajang nasional.
Kontingen SOIna Kabupaten Bogor yang dilepas terdiri dari 69 atlet yang akan mengikuti rangkaian perlombaan di PESONAS II 2026 di Kupang. Ajang ini menjadi wadah kompetisi bagi atlet penyandang disabilitas intelektual dari berbagai daerah, sekaligus tempat bertemunya pengalaman latihan dan semangat kolektif para peserta.
Rudy juga menyebut bahwa sejumlah kontingen yang ikut SOIna NTT sebelumnya telah memiliki modal dari kompetisi di berbagai daerah, bahkan hingga level internasional. Artinya, keberangkatan bukan sekadar partisipasi, melainkan melanjutkan jejak latihan dan pengalaman bertanding yang sudah dibangun sebelum berangkat ke Kupang.
Dalam pelepasan tersebut, Rudy menyampaikan bahwa pemerintah tidak membebani para atlet dengan target harus menjadi juara. Ia menekankan bahwa tanpa harus menang dalam pertandingan, para atlet tetap pantas disebut pemenang karena telah menunjukkan keberanian untuk berkompetisi.
Pesan itu diarahkan untuk merawat mental bertanding. Bagi para atlet, dukungan yang menekankan proses dan keberanian bisa menjadi penguat saat menghadapi suasana kompetisi yang lebih besar, dengan lawan dari banyak daerah dan standar penilaian yang berbeda-beda sesuai cabang perlombaan.
“Tadi kita sudah menyampaikan kepada mereka semua, bahwa tanpa bertanding pun kalian semua sudah menjadi juara, kalian semua sudah jadi pemenang,” ujar Rudy.
Meski Rudy menolak konsep tekanan juara, ia mengakui bahwa beberapa kontingen yang ikut serta sebelumnya sudah menimba pengalaman dari berbagai kompetisi. Sebagian di antaranya bahkan pernah meraih medali, sehingga saat berangkat ke Kupang mereka membawa catatan prestasi yang bisa menjadi motivasi tambahan.
Pengalaman bertanding seperti ini biasanya berpengaruh pada kesiapan atlet, mulai dari cara mengelola emosi, memahami ritme kompetisi, hingga membiasakan diri dengan suasana event berskala nasional. Dengan modal tersebut, para atlet diharapkan lebih siap menghadapi tantangan di PESONAS II 2026.
Selain dukungan pada keberangkatan, Rudy menyatakan rencana pembangunan wisma istimewa permanen. Selama dua tahun terakhir, fasilitas sementara untuk kegiatan dan kebutuhan pendukung atlet berada di kawasan Islamic Center, Cibinong, Kabupaten Bogor.
Menurut Rudy, ada dua opsi lokasi yang akan dipertimbangkan untuk gedung wisma tersebut, yakni tetap di Islamic Center melalui revitalisasi atau dipindahkan ke kawasan Alun-Alun Cirimekar. Pilihan ini akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas olahraga yang sudah ada, sehingga kebutuhan biaya pembangunan infrastruktur dapat ditekan.
Rudy menjelaskan bahwa wisma tersebut tidak semata diperuntukkan bagi kegiatan olahraga. Fasilitas itu juga diarahkan sebagai ruang untuk membangun motivasi bagi anak-anak istimewa, baik yang berada di Kabupaten Bogor maupun yang berasal dari luar daerah.
Gagasan ini menempatkan olahraga sebagai pintu masuk pemberdayaan dan dukungan psikologis. Ketika atlet yang dilepas ke PESONAS II 2026 menjadi contoh nyata, ruang khusus seperti wisma diharapkan dapat menumbuhkan semangat serupa pada anak-anak istimewa yang selama ini membutuhkan tempat untuk tumbuh, berlatih, dan merasa memiliki ruang yang sama untuk berkembang.
“Tujuannya bukan hanya olahraga, tapi memberikan motivasi kepada seluruh anak-anak istimewa yang ada di Kabupaten Bogor, bahkan luar Kabupaten Bogor, bahwa ada ruang, ada tempat untuk mereka bisa membangkitkan motivasi mereka sama dengan atlet-atlet yang kita lepas tadi,” pungkasnya.
Bagi warga Kabupaten Bogor, rencana pembangunan wisma permanen berpotensi memperluas layanan pendukung kegiatan anak istimewa. Dengan fasilitas yang lebih terpusat, kegiatan latihan, pendampingan, hingga persiapan keberangkatan atlet dapat berjalan lebih terstruktur, tidak bergantung pada lokasi sementara.
Di sisi lain, ketersediaan tempat yang memadai juga dapat memengaruhi rutinitas keluarga yang selama ini mengurus kebutuhan anak-anak istimewa. Mereka akan lebih mudah mengakses dukungan kegiatan, sementara atlet memiliki ruang yang dapat membantu membangun konsistensi latihan menjelang ajang kompetisi tingkat nasional.






Tidak ada komentar