Rehabilitasi jembatan Kampung Pulo Geulis Bogor, mampu menahan beban 20 ton

3 menit membaca View : 7
Abdul Halim
Bogor, News - 24 Okt 2026

Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, meresmikan jembatan di Kampung Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Perbaikan ini dilakukan karena jembatan menjadi akses vital warga yang melintasi aliran Sungai Ciliwung, sekaligus titik penghubung yang selama ini dianggap kurang memadai.

Rehabilitasi tersebut menargetkan peningkatan kekuatan dan kenyamanan lintasan. Setelah rampung, jembatan dilaporkan mampu menahan beban hingga 20 ton, sekaligus memperbaiki kondisi sebelumnya yang sempit dan membuat arus pergerakan warga tidak tertata. Program ini dikerjakan melalui anggaran Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor.

Jembatan Pulo Geulis diperlebar, beban 20 ton untuk akses harian

Menurut Ketua RW 04 Kelurahan Babakan Pasar, Hamzah, kondisi jembatan sebelum direhabilitasi dinilai tidak ideal. Ukurannya yang sempit beriringan dengan akses jalan yang amburadul, sehingga pergerakan warga menjadi kurang lancar. Dalam keterangannya, Hamzah menyebut aspirasi warga disampaikan setelah adanya kunjungan Dedie A Rachim, lalu dilanjutkan melalui dialog langsung dengan masyarakat setempat.

Hamzah menegaskan bahwa pembenahan yang diharapkan bukan hanya soal fisik jembatan, tetapi juga penataan jalur menuju jembatan. Ia menceritakan bahwa arahan dari Wali Kota Bogor saat pertemuan tersebut mengarah pada pembetulan jalan dan pelebaran, hingga akhirnya terealisasi dalam proyek rehabilitasi yang kini diresmikan.

Proyek rehabilitasi Disperumkim, bagian dari revitalisasi permukiman

Kepala Disperumkim Kota Bogor, Chusnul Rozaqi, menjelaskan bahwa rehabilitasi jembatan merupakan bagian dari pelayanan pemerintah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur permukiman. Fokus utamanya adalah memperlancar mobilitas warga, sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah agar aktivitas masyarakat bisa berjalan lebih efektif.

Chusnul menambahkan bahwa perbaikan infrastruktur semacam ini tidak hanya berdampak pada rutinitas harian, tetapi juga berpotensi memunculkan aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi baru. Dengan akses yang lebih baik, produk lokal diharapkan lebih mudah dipasarkan dan dijangkau menuju wilayah lain, karena pergerakan orang dan arus distribusi menjadi lebih nyaman.

Dampak ke warga dan rencana penguatan kampung wisata etnik

Hamzah juga mengaitkan peningkatan infrastruktur dengan arah pengembangan Kampung Pulo Geulis sebagai kampung wisata etnik. Menurutnya, pembenahan akses akan membuat aktivitas warga dan kunjungan wisatawan berlangsung lebih tertib dan nyaman. Pada kawasan permukiman yang padat, perubahan pada satu titik akses jembatan dapat terasa langsung, terutama saat warga melintas pada jam-jam aktivitas sekolah, kerja, maupun kegiatan komunitas.

Dedie A Rachim menyoroti bahwa perhatian Pemkot Bogor terhadap Kampung Pulo Geulis tidak berhenti pada rehabilitasi jembatan. Ia menyebut dukungan pemerintah juga menyasar perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), termasuk melalui bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi, serta pembenahan fasilitas publik yang dilakukan bertahap.

Perbaikan bertahap, mulai dari stamp concrete hingga drainase

Dalam penjelasannya, Dedie A Rachim memaparkan bahwa rangkaian pembenahan berjalan berurutan. Setelah jembatan selesai, proyek berlanjut pada pekerjaan stamp concrete, yaitu beton berpola atau bertekstur, yang berfungsi mempercantik sekaligus memperkuat permukaan area tertentu. Setelah itu, perbaikan drainase juga dilakukan untuk mendukung pengelolaan air di lingkungan padat.

Dedie menekankan bahwa penataan tersebut bukan hanya soal konstruksi, melainkan simbol kebersamaan. Dengan wilayah yang lebih rapi dan tertata, masyarakat diharapkan dapat kembali fokus pada aktivitas keseharian, sementara lingkungan yang lebih baik mendukung kenyamanan warga maupun pengunjung yang datang.

Mobilitas lebih aman, konektivitas lebih kuat di tengah Sungai Ciliwung

Letak jembatan yang berada di tengah aliran Sungai Ciliwung menjadikan rehabilitasi ini krusial untuk keselamatan dan kelancaran akses warga. Saat kapasitas dan kekuatan struktur ditingkatkan hingga mampu menahan beban 20 ton, jembatan tidak hanya menjadi lintasan pejalan kaki, tetapi juga mendukung mobilitas berbagai kebutuhan warga di area permukiman.

Dengan perbaikan konektivitas, potensi kegiatan ekonomi dapat lebih terbuka, termasuk peluang pemasaran produk lokal yang lebih mudah dijangkau. Pada saat yang sama, penataan jalur menuju jembatan membantu mengurangi hambatan yang sebelumnya muncul akibat akses jalan yang sempit dan tidak tertata, sehingga arus pergerakan masyarakat menjadi lebih teratur.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x