Ornamen Sunda di Kantor Pemkab Bogor, Rudy Susmanto tekankan identitas dan konektivitas

4 menit membaca View : 8
Abdul Halim
Bogor, News - 05 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Bupati Bogor Rudy Susmanto menegaskan perubahan wajah sejumlah kawasan perkantoran dan ruang publik di Kabupaten Bogor yang kini diperkaya ornamen bernuansa Sunda bukan sekadar soal estetika. Ia menyebut langkah tersebut dimaksudkan untuk menguatkan kebanggaan masyarakat terhadap identitas Sunda, sekaligus memastikan pembangunan tidak berhenti pada simbol di pusat pemerintahan.

Di Kabupaten Bogor, ornamen yang ditampilkan meliputi penggunaan aksara Sunda, simbol, serta ragam dekorasi yang merujuk pada sejarah Pajajaran. Rudy juga memperkenalkan gagasan “Mapag Pajajaran Anyar” atau menjemput Pajajaran baru, sebagai cara agar identitas budaya tetap hidup meski roda pemerintahan terus bergerak mengikuti perkembangan pemerintahan modern dan transformasi digital.

Ornamen Sunda sebagai pesan, bukan sekadar mempercantik

Rudy menyampaikan bahwa ornamen bernuansa Sunda yang hadir di ruang publik pemerintahan memiliki pesan yang ingin dibangun. Baginya, upaya tersebut adalah bentuk pengembalian kesundaan agar masyarakat Bogor bisa merasa bangga bahwa daerahnya merupakan bagian dari komunitas Sunda.

Ia menekankan bahwa tujuan tersebut tidak dimaksudkan untuk membangun citra personal, kelompok politik, atau simbol yang hanya menguntungkan pihak tertentu. “Kehormatan orang Bogor itu orang Sunda,” ujarnya, sehingga ornamen diposisikan sebagai penguat rasa memiliki terhadap daerah sendiri.

Mapag Pajajaran Anyar dan Kuta Udaya Wangsa

Rudy menjelaskan istilah “Mapag Pajajaran Anyar” sebagai kerangka gagasan untuk menghadirkan kembali semangat Pajajaran dalam konteks hari ini. Menurutnya, masyarakatnya tetap sama, tetapi cara menjalankan aktivitas dan pemerintahan mengalami transformasi, termasuk melalui perubahan pola kerja menuju tata kelola yang lebih modern dan berbasis teknologi.

Dalam penjelasan lain, Rudy juga menyinggung penggunaan istilah “Kuta Udaya Wangsa” yang terdapat dalam identitas Pemerintah Kabupaten Bogor. Ia menegaskan istilah tersebut bukan tagline baru yang muncul pada masa kepemimpinannya, melainkan sudah menjadi bagian dari identitas pemerintahan daerah sejak awal berdirinya.

Rudy memaknai istilah tersebut sebagai “kota kebangkitan bangsa”, sehingga ornamen dan identitas budaya diposisikan selaras dengan arah pembangunan yang ingin membangkitkan semangat kolektif masyarakat.

Fokus pembangunan: urat nadi konektivitas dan akses wilayah

Bupati Bogor juga membantah anggapan bahwa perubahan tampilan kawasan pemerintahan berarti pembangunan hanya berpusat pada kantor-kantor di wilayah tertentu. Ia menegaskan pembangunan fisik di area pemerintahan hanyalah bagian kecil dari agenda untuk wilayah yang sangat luas, mencakup puluhan kecamatan dan ratusan desa dan kelurahan.

Rudy menyebut kebutuhan utama masyarakat tidak hanya berkaitan dengan bangunan yang indah atau ornamen daerah. Yang lebih mendasar, menurutnya, adalah konektivitas antarwilayah, pendidikan, kesehatan, serta ketersediaan rumah yang layak. Ia mengibaratkan pembangunan wilayah seperti tubuh, yang harus dibangun terlebih dahulu adalah “urat nadi”, yaitu jaringan jalan dan akses yang menghubungkan masyarakat.

Langkah 2025: akses jalan baru, rekonstruksi, dan target panjang

Sejak mulai menjabat pada 20 Februari 2025, Rudy mengklaim pemerintahannya mengarahkan pembangunan pada pembukaan akses serta pemerataan infrastruktur di Kabupaten Bogor. Salah satu contoh yang disebutnya adalah pembangunan kembali Pendopo Kawedanaan Jasinga yang ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 100 hari.

Selain itu, pemerintah membuka akses jalan baru di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, dengan panjang sekitar 20 kilometer. Jalan tersebut diarahkan menjadi poros penghubung Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Sukabumi serta Kabupaten Lebak di Banten, sehingga manfaatnya diharapkan tidak berhenti pada satu titik, melainkan menyentuh pergerakan lintas wilayah.

Rudy juga menyebut pembangunan dan rekonstruksi jalan dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Bogor Barat, Bogor Timur, dan Bogor Selatan. Ia menyampaikan bahwa sepanjang 2025, penanganan jalan baik jalan kabupaten maupun jalan desa mencapai sekitar 516 kilometer, menunjukkan fokus yang cukup luas pada infrastruktur dasar.

Alun-alun Tegar Beriman sebagai contoh penataan berbasis kebutuhan

Rudy mencontohkan penataan Alun-alun Tegar Beriman di Cibinong. Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut tidak dibangun dari nol, melainkan melalui pembongkaran pagar, pemindahan gerbang, kemudian penambahan aksen bernuansa Sunda. Dengan kata lain, perubahan dilakukan melalui penataan ruang yang disesuaikan dengan kondisi eksisting, bukan sekadar menambah ornamen baru tanpa mempertimbangkan tata fungsi.

Ia menyatakan pemerintah hanya melakukan penyesuaian pada beberapa elemen di sekitar area, lalu mengatur ulang posisi gerbang dengan aksen yang memiliki kemiripan nuansa Sunda. Pendekatan ini, menurut Rudy, memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat diintegrasikan ke ruang publik sambil tetap mengutamakan kenyamanan dan keteraturan area.

Ornamen tetap penting, tetapi tidak mengalahkan infrastruktur dasar

Rudy menilai simbol dan ornamen daerah tetap memiliki peran untuk memperkuat identitas. Namun, ia menegaskan prioritas utama harus diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat, seperti jaringan jalan dan layanan dasar.

Dalam menanggapi anggapan pembangunan terlalu terpusat, Rudy menyebut beberapa fasilitas tidak sepenuhnya dibiayai melalui APBD kabupaten, melainkan melalui kolaborasi dengan pihak swasta serta program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Ia mencontohkan skywalk di depan Bappenda serta vertical garden yang dibangun melalui kontribusi pihak swasta.

Rudy menutup dengan penekanan bahwa pembangunan Bogor tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak, satu suku, atau satu agama. Menurutnya, Bogor harus dibangun dengan kebhinekaan, dan hanya akan berjalan efektif jika dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki rasa sayang serta cinta terhadap Kabupaten Bogor.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x