Kebakaran TPAS Galuga Bogor Padam, DLH Pakai Metode Bongkar dan Aduk

3 menit membaca View : 9
Abdul Halim
News, Peristiwa - 15 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, ditangani dengan pendekatan khusus agar api tidak muncul kembali dari bagian dalam tumpukan sampah. Penanganan dilakukan oleh petugas gabungan yang tidak hanya menyiram menggunakan air, tetapi juga membongkar dan mengaduk material untuk melepaskan panas yang masih terperangkap.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemadaman sekaligus pendinginan di lokasi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Rudy Mashudi, menjelaskan bahwa metode bongkar dan aduk diterapkan pada titik-titik yang masih menyimpan panas, kemudian diikuti penyemprotan untuk menurunkan suhu.

Metode bongkar dan aduk untuk menekan panas terpendam

Dalam penanganan kebakaran di TPAS, petugas menghadapi karakter yang berbeda dibanding kebakaran pada bangunan biasa. Pada tumpukan sampah, panas dan api dapat bertahan di lapisan dalam. Akibatnya, meski tampak sudah tidak ada nyala di permukaan, bara atau panas masih berpotensi aktif kembali saat kondisi mendukung.

Karena itu, petugas memulai dengan membongkar tumpukan pada titik yang masih berpotensi menyimpan panas. Setelah lapisan tersebut terurai, material kemudian diaduk agar panas yang tertahan keluar dan bisa ditangani. Pada tahap berikutnya, petugas menyemprotkan air untuk membantu proses pendinginan, sehingga peluang kemunculan kembali api dari dalam tumpukan berkurang.

“Kami lakukan metode bongkar dan aduk pada titik-titik api, kemudian disemprot air agar terjadi proses pemadaman sekaligus pendinginan. Tujuannya supaya panas yang masih berada di dalam tumpukan sampah bisa berkurang dan tidak kembali memunculkan api,” ujar Rudy Mashudi.

Penanganan tidak berhenti saat titik api padam

Rudy menegaskan, proses penanganan kebakaran di TPAS tidak cukup sampai api terlihat padam. Petugas perlu memastikan bahwa panas yang tersisa benar-benar turun dan tidak bertransformasi kembali menjadi sumber penyalaan. Kombinasi pembongkaran, pengadukan, penyemprotan, serta pemeriksaan area sekitar menjadi rangkaian yang saling melengkapi.

Petugas juga melakukan penyisiran berkala untuk mencari titik-titik kecil yang masih mengeluarkan asap atau menunjukkan potensi panas. Dengan cara ini, area yang semula tidak tampak signifikan tetap bisa terdeteksi lebih cepat, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum panas berkembang.

Menurut Rudy, penyisiran dilakukan oleh satuan personel yang memantau titik-titik api kecil. Fokusnya adalah memastikan setiap area yang masih memiliki potensi panas dapat segera ditangani, bukan menunggu munculnya gejala yang lebih besar.

Pemantauan geothermal dan pengurangan jumlah personel

Sebelum masuk pada tahap pemantauan yang lebih terukur, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menyampaikan bahwa berdasarkan pantauan visual pada Senin, 14 September 2026, sekitar 99 persen area sudah tidak lagi mengeluarkan asap. Meski demikian, pemantauan geothermal tetap dilakukan untuk mendeteksi panas yang kemungkinan masih berada di bawah permukaan.

Jenal menyebutkan bahwa pantauan kasat mata menunjukkan hampir tidak ada asap. Namun, potensi panas di bawah tanah atau di lapisan terdalam tumpukan sampah tetap perlu diwaspadai karena bisa memicu api kembali jika tidak terpantau. Karena itu, meski fase pemadaman utama telah berakhir, sejumlah personel dan unit pemadam kebakaran masih disiagakan, dengan jumlah yang disesuaikan.

“Pantauan secara kasat mata dan visual, 99 persen memang sudah tidak ada asap lagi. Pantauan geothermal akan kita lakukan lagi, karena kemungkinan masih ada panas di bawah yang berpotensi menimbulkan api kembali,” kata Jenal Mutaqin.

Fokus akhir: pendinginan, penyisiran, dan keamanan area

Setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan, tahapan berikutnya diarahkan pada pendinginan menyeluruh dan pemantauan lanjutan. Petugas memastikan tidak ada bara yang berkembang menjadi kebakaran baru, terutama pada area yang sebelumnya menyimpan panas namun tidak terlihat jelas pada permukaan.

Dengan pendekatan yang berlapis, petugas berupaya membuat lokasi benar-benar aman. Penanganan kemudian mempertahankan ritme pemeriksaan, baik melalui penyisiran titik-titik kecil maupun pemantauan panas menggunakan geothermal, agar risiko kebakaran berulang dapat ditekan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x