ICIA bantu Pemkot Bogor cari pendanaan trem dan transportasi rel

4 menit membaca View : 6
Abdul Halim
Bogor, News - 25 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) akan mendukung Pemerintah Kota Bogor menyiapkan skema pembiayaan yang tidak hanya bergantung pada APBD untuk proyek transportasi massal berbasis rel, termasuk rencana trem. Langkah ini dibahas dalam pertemuan Dewan Pembina ICIA pada Kamis, 24 September 2026, saat Pemkot Bogor mengkaji opsi pendanaan dan kelayakan proyek.

Menurut Bambang Susantono, ICIA hadir untuk menghubungkan pemerintah daerah dengan investor, dengan tujuan agar proyek transportasi publik bisa dinilai bankable. Fokusnya dimulai dari kesiapan dokumen seperti studi kelayakan, proyeksi kebutuhan pembiayaan, hingga kejelasan operasional dan potensi imbal hasil, sementara Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, memaparkan rencana penataan transportasi yang mencakup trem, elektrifikasi jalur, hingga pengembangan Light Rail Transit (LRT) Bodebek.

ICIA dan tujuan mencari pembiayaan non-APBD untuk transportasi rel

ICIA diposisikan sebagai jembatan antara pemerintah daerah dan pihak yang berpotensi menanamkan modal pada proyek infrastruktur perkotaan. Dalam konteks Kota Bogor, pembahasan ini berangkat dari kebutuhan menghadirkan transportasi massal berbasis rel yang membutuhkan pembiayaan besar dan struktur yang lebih rumit dibanding proyek skala lokal.

Bambang Susantono menegaskan bahwa opsi pendanaan menjadi bagian dari pekerjaan awal yang harus dipetakan. Investor, kata dia, umumnya mencari proyek yang telah dipersiapkan matang, baik dari sisi studi kelayakan maupun gambaran operasional. Dengan kata lain, pendekatan ICIA bukan sekadar menawarkan “calon dana”, melainkan memastikan proyek memenuhi prasyarat agar layak diukur, dibiayai, dan dioperasikan.

Proyek yang bankable: studi kelayakan, proyeksi biaya, dan imbal hasil

Dalam kerangka yang disampaikan, proyek transportasi rel dinilai bankable ketika ada rangkaian dokumen dan parameter yang dapat ditelusuri. Studi kelayakan menjadi fondasi untuk melihat potensi permintaan, kebutuhan infrastruktur, serta risiko yang mungkin muncul selama pembangunan maupun masa operasi.

Selain itu, proyeksi kebutuhan pembiayaan perlu jelas agar perhitungan arus kas realistis. Kejelasan operasional juga menjadi perhatian, karena investor akan menilai bagaimana sistem dijalankan, siapa pihak yang mengelola, serta bagaimana layanan beroperasi dalam jangka waktu panjang. Bambang Susantono juga menyebut bahwa Wali Kota Bogor sudah memiliki perencanaan yang mendukung proses tersebut.

Rencana transportasi Kota Bogor: dari Stasiun Besar hingga trem

Dedie A. Rachim memaparkan beberapa agenda penataan dan pengembangan transportasi perkotaan di Kota Bogor. Salah satunya adalah penataan dan pembangunan Stasiun Besar Bogor yang telah memasuki tahap awal melalui penandatanganan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang menjadi pijakan untuk memperkuat simpul perjalanan di wilayah tersebut.

Wali Kota Bogor juga menyinggung rencana elektrifikasi jalur hingga Stasiun Cigombong. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan rel, termasuk kesiapan sistem yang lebih modern. Di sisi lain, rencana pembangunan trem secara konseptual disebut sudah disiapkan sejak 2014, menunjukkan bahwa gagasan tersebut tidak muncul mendadak, melainkan melalui tahapan perencanaan yang sudah berjalan cukup lama.

LRT Bodebek dan BTOP, menguatkan keterhubungan layanan

Pengembangan transportasi Bogor juga terkait dengan rencana Light Rail Transit (LRT) Bodebek yang mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49 Tahun 2017 tentang percepatan pembangunan LRT Jabodebek. Keterkaitan ini penting karena proyek-proyek dalam satu koridor metropolitan biasanya harus saling terhubung agar mobilitas warga lebih efisien, baik dari aspek waktu tempuh maupun kemudahan perpindahan antarmoda.

Dedie A. Rachim turut menyebut Bogor Transportation Program (BTOP) sebagai program untuk membangun sistem transportasi yang lebih terintegrasi. Dengan pendekatan seperti ini, proyek rel, penguatan simpul stasiun, hingga pengaturan layanan di dalam kota diharapkan membentuk jaringan yang saling melengkapi, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Dampak bagi warga: potensi lonjakan penumpang dan perubahan pola perjalanan

Untuk menggambarkan kebutuhan layanan, Wali Kota Bogor mengacu pada data PT KAI Commuter terkait relasi Bogor-Jakarta. Perjalanan pada jalur tersebut disebut menjadi salah satu yang jumlah penumpangnya tertinggi, yakni sekitar 110 ribu penumpang pada hari kerja (weekday) dan sekitar 160 ribu penumpang saat akhir pekan (weekend). Angka ini memberi sinyal bahwa permintaan layanan rel di koridor tersebut cukup besar.

Ketika kapasitas dan kualitas transportasi rel diperkuat, dampaknya dapat terasa pada aktivitas harian warga, terutama pekerja yang berangkat ke Jakarta atau aktivitas akhir pekan yang melibatkan mobilitas pulang-pergi. Perubahan sistem transportasi juga berpotensi memengaruhi pola perpindahan moda di sekitar stasiun, termasuk kebutuhan integrasi rute pengumpan dan penataan area sekitar simpul perjalanan.

Bagaimana ICIA bekerja: menghubungkan investor dengan kesiapan proyek

Dalam implementasinya, ICIA diarahkan untuk membantu pemerintah daerah menyiapkan proyek agar menarik bagi investor. Koneksi tersebut menuntut kesiapan data dan rencana yang dapat diverifikasi, termasuk gambaran kebutuhan pembiayaan dan skenario operasional. Dengan begitu, diskusi pendanaan tidak berhenti pada kebutuhan anggaran, tetapi masuk pada kelayakan proyek yang bisa dievaluasi oleh pihak pembiayaan.

Jika proses ini berjalan sesuai kerangka yang disampaikan Bambang Susantono, Pemkot Bogor akan memiliki peluang lebih luas untuk mencari sumber dana di luar APBD. Hal ini juga dapat mempercepat penyiapan proyek transportasi massal berbasis rel, mulai dari trem hingga penguatan infrastruktur pendukung di koridor Bogor.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x