Jessica Wattimena Debut Jadi Dancer di DBL West Java-West 2026 bersama Sabuyers

4 menit membaca View : 9
Abdul Halim
News, Olahraga - 13 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Jessica Quinn Christabel Wattimena merasakan suasana baru saat tampil di Opening Party DBL West Java-West pada Kamis, 10 September 2026. Atlet asal SMA Budi Mulia Bogor itu memulai debut pertamanya sebagai dancer bersama tim Sabuyers, setelah sebelumnya dikenal aktif di cabang olahraga basket. Perubahan peran ini menarik perhatian, karena Jessica datang dari pengalaman panjang sebagai kapten tim basket di jenjang SMP, lalu memilih mencoba bidang yang berbeda di fase SMA.

Di DBL West Java-West 2026, Jessica tidak sekadar berganti aktivitas. Ia justru membawa bekal disiplin dan kebiasaan latihan yang selama ini terbentuk dari dunia basket. Baginya, debut sebagai penari adalah langkah berani sekaligus pengalaman yang ia anggap berharga selama masa sekolah. Rasa antusiasnya tampak saat ia menjelaskan bahwa momen ini terasa spesial karena menjadi bagian dari perjalanan baru di SMA.

Dari Kapten Basket SMP ke Debut Dancer di Sabuyers

Perjalanan Jessica berawal dari ketertarikannya pada basket saat duduk di kelas VII SMP Dian Harapan Bogor, di kawasan Bogor. Pada periode itu, sekolahnya belum memiliki tim basket putri. Karena kondisi tersebut, Jessica banyak belajar dari tim SMA Dian Harapan Bogor yang berada dalam satu kompleks dengan sekolahnya. Proses belajar dari lingkungan yang sama membuatnya cepat memahami ritme latihan dan cara bermain yang lebih terstruktur.

Ketika naik ke kelas VIII, SMA dan SMP di kompleks yang sama mulai membuka peluang pembentukan tim basket sendiri. Namun, ada tantangan yang cukup berat di awal. Jessica menyebut jumlah anggota tim saat itu masih sangat terbatas, hanya tiga orang. Situasi tersebut membuat ia harus aktif mengajak teman sebaya, adik kelas, hingga kakak kelas untuk bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler basket.

Upaya itu tidak berhenti di satu musim. Pada tahun berikutnya, tim mulai terbentuk lebih solid, dan saat Jessica masuk kelas XI ia dipercaya memimpin tim sampai lulus SMP. Kebersamaan selama latihan menjadi salah satu momen yang paling ia sukai, karena menciptakan rasa setara antaranggota, bukan sekadar perbedaan jenjang. Ia juga menilai permainan tim menjadi semakin solid melalui rangkaian pertandingan uji coba atau sparing.

Dorongan Keluarga Membuka Jalan untuk Dance

Meski basket pernah menjadi fokus utama, Jessica sebenarnya juga memiliki ketertarikan pada dance sejak awal. Ketika melanjutkan pendidikan ke SMA Budi Mulia Bogor, ia memutuskan untuk menekuni dance dengan lebih serius. Keputusan itu tidak datang secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman melihat penampilan teman-temannya di DBL pada musim sebelumnya.

Jessica mengaku terkesan dengan penampilan yang ia lihat, terutama karena menurutnya peserta tampak memiliki potensi dan tampil dengan gaya yang terasa keren. Ketertarikan tersebut kemudian ia bawa ke SMA, sejalan dengan dukungan dari kedua orang tuanya. Dukungan keluarga menjadi faktor penting agar ia bisa mengembangkan bakatnya secara maksimal di dua bidang yang berbeda, hingga akhirnya ia memilih memperdalam dance saat masuk jenjang SMA.

Konsep Penampilan Sabuyers: Dangdut Old Klasik dan Hipdut Modern

Di Sabuyers, Jessica dan rekan tim mengusung konsep dangdut old klasik yang dipadukan dengan hipdut, yaitu hip-hop dangdut versi modern. Sebelum tampil, tim sempat terbagi dalam beberapa kelompok. Proses pengelompokan ini membantu mereka menyiapkan bagian-bagian gerak dan ekspresi masing-masing, sebelum akhirnya disatukan menjadi satu komposisi yang utuh.

Bagian penggabungan itulah yang paling ia sukai. Menurut Jessica, tujuan utama dari proses kreatif tersebut bukan hanya soal tampilan, tetapi tentang kebersamaan dan kekompakan tim. Dengan menyatukan dua nuansa generasi yang berbeda, tim berusaha menciptakan pertunjukan yang tetap memiliki identitas, sekaligus terasa dinamis dan relevan untuk penonton.

DBL sebagai Ruang Tumbuh Student-Athlete

Pengalaman Jessica menunjukkan bahwa DBL tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga ruang tumbuh bagi student-athlete yang ingin belajar hal baru. Ia merasakan perubahan ketika kini lebih banyak mengenal potensi di dunia dance, setelah sebelumnya aktif di basket. Melalui kegiatan seperti AQUA DBL Dance 2026 West Java-West, ia mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan yang berbeda, sekaligus tetap membawa karakter disiplin yang sudah terbentuk dari latihan olahraga.

Debut Jessica bersama Sabuyers di Opening Party menjadi titik awal yang menegaskan bahwa transisi dari basket ke dance bisa terjadi tanpa menghilangkan fondasi kebiasaan latihan. Ia masuk ke dunia baru dengan cara yang terukur, melalui kerja tim, latihan, dan pemahaman karakter penampilan. Saat ia berdiri di panggung pembuka DBL West Java-West, Jessica membawa satu cerita yang khas, dari kapten tim basket hingga dancer yang siap menampilkan konsep dangdut old klasik dan hipdut modern.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x