Jalan Santai Lintas Agama BASOLIA Bogor di Plaza Balai Kota

5 menit membaca View : 6
Abdul Halim
Bogor, News - 24 Okt 2026

Kota Bogor menggelar Jalan Santai Lintas Agama oleh Badan Sosial Lintas Agama (BASOLIA) di Plaza Balai Kota Bogor pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi rangkaian peringatan Hari Jadi ke-19 BASOLIA sekaligus menyambut Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November, dengan fokus mempererat persaudaraan dan merawat kerukunan antarumat beragama. Ratusan peserta dari berbagai latar belakang mengikuti agenda yang dimulai dengan doa bersama perwakilan enam agama, lalu menyusuri jalur pedestrian di sekitar Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor.

Langkah penyelenggaraan tersebut juga ditegaskan sebagai upaya menghadirkan ruang perjumpaan yang lebih luas di ruang publik, tanpa mengarah pada pelaksanaan ritual keagamaan. Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menyatakan Balai Kota terbuka untuk kegiatan peringatan hari besar keagamaan selama tidak disertai ritual keagamaan. Ia menekankan, sikap saling menghargai dan saling hormat menghormati menjadi karakter masyarakat Bogor, sekaligus menjadi landasan BASOLIA untuk mengikat kebersamaan lintas iman.

Ratusan peserta, doa lintas agama, dan rute menyusuri ikon Kota Bogor

Jalan santai ini diikuti ratusan orang yang datang dari beragam latar belakang, menggambarkan bahwa toleransi tidak hanya dibicarakan, melainkan dipraktikkan melalui aktivitas bersama. Sebelum berjalan, kegiatan diawali doa bersama oleh perwakilan enam agama. Susunan acara seperti ini memberi sinyal bahwa keberagaman dapat dikelola dalam satu format kegiatan yang sama, tanpa menghilangkan identitas masing-masing kelompok.

Setelah sesi doa, peserta kemudian bergerak menyusuri jalur pedestrian di sekitar Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor. Pemilihan rute di kawasan yang menjadi ikon kota berpengaruh pada pengalaman peserta, karena suasana yang terbuka dan ruang publik yang luas memungkinkan interaksi lebih natural. Bagi warga yang ikut maupun yang menyaksikan di sepanjang jalur, aktivitas ini juga tampak sebagai perayaan kebersamaan yang berlangsung di tengah aktivitas kota, bukan acara tertutup di ruang tertentu.

Balai Kota Bogor terbuka, tapi tanpa ritual keagamaan

Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menyoroti batasan penyelenggaraan agar kegiatan tetap sejalan dengan fungsi ruang publik dan prinsip kerukunan. Ia menyatakan Balai Kota Bogor terbuka untuk peringatan hari besar keagamaan, selama tidak disertai pelaksanaan ritual keagamaan. Dengan penegasan itu, penyelenggara diarahkan untuk menjaga agar kegiatan bernuansa sosial dan kebersamaan, bukan bergeser menjadi praktik ritual yang berpotensi menimbulkan penafsiran berbeda di ruang bersama.

Dedie juga mengaitkan semangat toleransi dengan karakter masyarakat Bogor. Ia menyebut ujaran kebencian dan intoleransi bukan bagian dari identitas warga, melainkan justru ada kecenderungan untuk menjunjung perdamaian serta sikap saling menghargai. Dalam konteks pemerintahan daerah, pernyataan ini sekaligus menunjukkan posisi Pemkot Bogor dalam memfasilitasi kegiatan lintas agama: memberi tempat, tetapi dengan rambu yang jelas agar kerukunan tetap terjaga.

BASOLIA dorong toleransi jadi kebiasaan, bukan slogan

Ketua BASOLIA Kota Bogor, Arifin Himawan, menegaskan jalan santai ini merupakan bentuk nyata penerapan toleransi. Ia berharap semangat kebersamaan yang tumbuh di Kota Bogor dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam merawat kerukunan. Penekanan pada “bentuk nyata” penting, karena kegiatan seperti ini bekerja melalui pertemuan langsung, mempertemukan warga dari kelompok berbeda dalam satu agenda fisik yang sama.

Arifin menambahkan bahwa toleransi dapat diwujudkan dengan sikap bergandengan tangan dan berjalan bersama, sambil mengakui perbedaan. Ia juga menggarisbawahi gagasan bahwa hal yang berbeda tidak perlu disamakan, sementara aspek yang sama dapat dirangkul untuk membangun kerja bersama. Kerangka pikir semacam ini biasanya menjadi tantangan tersendiri di ruang publik, karena perbedaan latar keyakinan dapat memunculkan salah paham bila komunikasi tidak difasilitasi. Melalui format jalan santai, komunikasi informal dan interaksi tatap muka menjadi jembatan yang lebih mudah diterima banyak orang.

Panitia menyiapkan kegiatan sejak 3 sampai 4 bulan, untuk memperbanyak ruang perjumpaan

Ketua Panitia Jalan Sehat Lintas Agama, Ahmad Nur Kholis, menjelaskan kegiatan telah dipersiapkan sejak tiga hingga empat bulan sebelumnya. Persiapan yang relatif panjang mengindikasikan bahwa acara ini tidak sekadar seremonial, melainkan dirancang untuk mengatur alur peserta, memastikan kenyamanan di rute, serta menyiapkan rangkaian kegiatan pendukung yang menguatkan tema kebersamaan.

Menurut Ahmad Nur Kholis, jalan santai dirancang untuk memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama. Melalui pertemuan langsung, masyarakat diharapkan terbiasa membangun komunikasi, menghargai perbedaan, dan menjaga kebersamaan. Dalam praktiknya, kebiasaan berkomunikasi lintas kelompok dapat mengurangi jarak sosial yang sering muncul akibat minimnya interaksi sehari-hari, terutama ketika warga hanya bertemu pada momen-momen tertentu.

Atraksi barongsai dan seni budaya bedug Tunggul Kawung meramaikan suasana

Suasana kegiatan turut dimeriahkan atraksi barongsai dari Grup Kesenian Barongsai (GKB) Bogor yang tergabung dalam Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kota Bogor. Kehadiran kesenian seperti barongsai memberi warna pada acara, sekaligus memperlihatkan bahwa keragaman budaya dapat menjadi bahasa bersama yang mudah dipahami lintas komunitas.

Selain barongsai, peserta juga disuguhi penampilan seni budaya bedug Tunggul Kawung dari Sanggar Edas. Perpaduan hiburan budaya dan aktivitas jalan bersama memperkuat pesan toleransi sebagai pengalaman bersama, bukan sekadar pernyataan. Bagi warga Kota Bogor, rangkaian penampilan ini biasanya menjadi daya tarik yang membuat peserta lebih betah, serta memunculkan suasana kegembiraan yang mendukung tujuan utama acara.

Dampak bagi warga: ruang publik untuk saling mengenal dan beraktivitas bersama

Dengan digelarnya jalan santai di pusat aktivitas kota, kegiatan ini berdampak langsung pada cara warga berinteraksi. Plaza Balai Kota menjadi titik kumpul yang mudah dijangkau, sementara rute menuju kawasan Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor membuka kesempatan bagi warga untuk melihat keragaman berjalan beriringan. Bagi peserta, pengalaman berjalan bersama di ruang publik dapat memperluas jejaring sosial, karena obrolan cenderung muncul secara spontan saat orang berbagi jarak dan momen yang sama.

Di sisi lain, dampak bagi layanan publik juga terasa melalui pengelolaan arus kegiatan di area rute. Ketika acara berlangsung dengan tema kebersamaan, warga yang melintas biasanya menyesuaikan aktivitasnya agar acara berjalan tertib. Pola seperti ini menunjukkan bagaimana perayaan toleransi dapat diintegrasikan dengan ritme kota, sehingga kerukunan tidak hanya menjadi wacana, tetapi tampak dalam perilaku kolektif masyarakat di ruang sehari-hari.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x