Guru ASN Bogor soal MBG harus dicek dulu: waktu mengajar terganggu

3 menit membaca View : 7
Abdul Halim
News, Pendidikan - 23 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah kembali menjadi perbincangan publik setelah seorang guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bogor, Jawa Barat, mengunggah video yang mempertanyakan prosedur pemeriksaan menu sebelum disajikan kepada siswa. Dalam unggahan tersebut, guru bernama Desy Idayanti memperlihatkan dirinya memeriksa sajian MBG dengan cara mencium aroma makanan yang berada di dalam rantang.

Desy menyebut aktivitas pemeriksaan yang dilakukan satu per satu membuat pekerjaan guru berubah arah. Ia menilai waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan mengajar di kelas justru tersita oleh proses yang menurutnya menyerupai tugas pemeriksa makanan, bukan aktivitas pendidik. Video yang beredar kemudian memicu beragam respons dari warganet, mulai dari dukungan atas keresahan yang disampaikan hingga pertanyaan terkait alasan dan cara pelaksanaan pemeriksaan.

Desy Idayanti mempertanyakan prosedur pemeriksaan aroma MBG

Dalam video tersebut, Desy terlihat memeriksa menu MBG sebelum dibagikan. Ia menggambarkan proses itu sebagai sesuatu yang harus dilakukan berulang sesuai jumlah menu yang tersedia. Keluhan utamanya bukan pada tujuan program MBG, melainkan pada bentuk pelaksanaannya di level sekolah yang, menurutnya, menambah beban kerja guru.

Desy juga menyinggung pernyataan yang beredar di masyarakat mengenai cara pemeriksaan MBG. Ia menuturkan ada anggapan bahwa MBG harus dicium atau diendus lebih dulu sebelum disajikan. Menurutnya, jika prosedur seperti itu diwajibkan, maka peran guru dapat bergeser menjadi petugas yang fokus pada pemeriksaan, padahal tugas utama guru adalah mendidik dan membimbing siswa di kelas.

Keluhan soal waktu guru dan pergeseran fungsi pengajaran

Desy menilai pemeriksaan menu dengan cara mencium aroma satu per satu membuat aktivitasnya memakan waktu. Ia menekankan bahwa guru memiliki tanggung jawab pembelajaran yang tidak bisa sepenuhnya dialihkan. Ketika proses pemeriksaan menjadi rutinitas sebelum makanan dibagikan, ia khawatir konsentrasi guru terhadap kegiatan mengajar ikut terganggu.

Dalam unggahannya, Desy menegaskan bahwa ia tidak sedang mencari perhatian atau sensasi. Ia menyampaikan keresahan sebagai bentuk perhatian terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah. Pada bagian lain, ia menilai guru perlu diberi ruang untuk menyuarakan pandangan kritis, terutama ketika prosedur di lapangan berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan peserta didik.

Respons publik: ada yang mendukung, ada pula yang mempertanyakan

Setelah video viral, respons dari warganet beragam. Sebagian mendukung keluhan Desy karena merasa prosedur pemeriksaan yang dilakukan guru dapat mengganggu tugas utama. Di sisi lain, ada pula yang mempertanyakan prosedur pemeriksaan yang disebutkan dalam video, termasuk alasan mengapa guru perlu melakukan pemeriksaan dengan metode mencium aroma dan bagaimana mekanismenya seharusnya diterapkan.

Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa persoalan di lapangan tidak hanya menyangkut teknis pemeriksaan, tetapi juga menyentuh aspek pembagian peran. Ketika program berskala nasional dijalankan di sekolah, detail prosedur yang tampak kecil, misalnya cara pemeriksaan sebelum makanan dibagikan, bisa berdampak pada beban kerja tenaga pendidik.

Ruang diskusi publik tentang pembagian tugas MBG di sekolah

Desy berharap viralnya video tersebut menjadi momentum untuk evaluasi pelaksanaan MBG di lapangan. Ia menginginkan adanya diskusi publik yang sehat, terutama mengenai pembagian tugas antara tenaga pendidik dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyiapan serta distribusi makanan.

Menurut Desy, guru memiliki hak untuk bersuara dan berpikir kritis. Dalam konteks program seperti MBG, kritik yang disampaikan diharapkan tidak berhenti pada keluhan semata, melainkan membuka ruang penataan ulang prosedur agar tujuan program tetap tercapai tanpa mengorbankan fokus guru pada proses belajar mengajar.

Hingga saat ini, unggahan Desy terus menuai perhatian. Perdebatan yang muncul memperlihatkan betapa pentingnya kejelasan prosedur di tingkat sekolah, termasuk siapa yang melakukan pemeriksaan, kapan dilakukan, dan bagaimana dampaknya terhadap aktivitas belajar siswa. Informasi yang beredar juga menjadi pemicu bagi publik untuk menilai ulang efektivitas implementasi program, dari sisi teknis hingga kesiapan pembagian peran di lingkungan sekolah.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x