KMD Ciomas Bogor di SDN Ciapus 04, 26 Calon Pembina Pramuka Ikuti Pelatihan

3 menit membaca View : 11
Abdul Halim
News, Pendidikan - 16 Okt 2026

Sebanyak 26 peserta mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) sebagai calon pembina pramuka di wilayah Ciomas, Kabupaten Bogor. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kwartir Ranting (Kwarran) Ciomas, dengan rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 16 dan 18 Oktober serta dilanjutkan pada 23 dan 25 Oktober.

KMD digelar di dua lokasi pendidikan berbeda, yakni SDN Ciapus 04 dan Vila Sandi Tamansari. Program ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan dasar pembina pramuka agar mampu membimbing generasi muda secara lebih terarah, profesional, dan berkarakter, mulai dari pemahaman filosofi hingga praktik organisasi satuan.

KMD Ciomas Bogor, dua tahap pelatihan di lokasi berbeda

Kegiatan KMD berjalan dalam dua fase sesuai jadwal yang ditetapkan panitia. Ketua Kwarran Pramuka Ciomas, Umi Kulsum, menyebutkan fase pertama berlangsung pada 16 dan 18 Oktober di SDN Ciapus 04. Pada fase berikutnya, pelatihan diteruskan pada 23 dan 25 Oktober di Vila Sandi Tamansari.

Pembagian dua tahap ini memberi ruang bagi peserta untuk memproses materi secara bertahap. Fase awal di sekolah menjadi fondasi pengenalan konsep dan dasar-dasar kepramukaan, sedangkan fase lanjutan di lokasi berbeda memungkinkan peserta memperdalam keterampilan melalui pembelajaran yang lebih aplikatif serta penyesuaian suasana kegiatan.

Materi KMD mencakup filosofi, kode kehormatan, dan teknik kepramukaan

Dalam KMD, peserta mempelajari beragam materi yang saling melengkapi. Materi yang disebutkan meliputi filosofi kepramukaan, kode kehormatan, teknik kepramukaan, hingga manajemen organisasi satuan. Dengan komposisi tersebut, program tidak berhenti pada pengetahuan teoritis, tetapi juga menekankan kesiapan peserta untuk menjalankan peran pembina di lapangan.

Filosofi kepramukaan dan kode kehormatan menjadi bagian penting karena keduanya berhubungan langsung dengan cara pembina menanamkan nilai kepada peserta didik. Sementara itu, teknik kepramukaan dan manajemen organisasi satuan dibutuhkan agar calon pembina mampu menyusun kegiatan yang tertib, terstruktur, serta sesuai kebutuhan perkembangan anggota pramuka.

Tujuan kursus: bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman membina

Umi Kulsum menjelaskan bahwa KMD disiapkan sebagai bekal pengetahuan dasar, wawasan, keterampilan membina, dan pengalaman praktis bagi calon Pembina Pramuka. Penekanan pada pengalaman praktis membuat peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga belajar bagaimana menerapkannya dalam kegiatan pembinaan yang sesungguhnya.

Dalam konteks pembinaan, kemampuan dasar pembina berpengaruh pada kualitas proses belajar peserta didik. Pembina yang memahami filosofi dan kode kehormatan akan lebih konsisten menuntun perilaku serta kebiasaan baik, sedangkan penguasaan teknik dan pengelolaan organisasi membantu kegiatan berjalan rapi, termasuk saat perencanaan program, koordinasi, dan evaluasi.

Lebih dari sertifikat, KMD diarahkan agar pembina menjadi teladan

Ketua Kwarran Pramuka Ciomas menegaskan bahwa KMD bukan semata-mata mengejar sertifikat atau memenuhi syarat administrasi sebagai pembina. Program ini dirancang agar peserta benar-benar siap membimbing generasi muda dengan sikap yang profesional serta berkarakter, sekaligus menjadi tauladan bagi peserta didik.

Pernyataan ini menempatkan kualitas pembinaan sebagai titik utama. Sertifikat memang menjadi bagian dari proses pendidikan, tetapi keberhasilan pembina terlihat dari konsistensi perilaku, kemampuan mengarahkan peserta, dan cara pembina mendorong anggota pramuka untuk tumbuh dengan nilai-nilai kepramukaan.

Harapan Kwarran Ciomas untuk lahirnya pembina berdedikasi

Dengan semangat yang ditunjukkan peserta selama pelatihan, Kwarran Ciomas berharap KMD mampu melahirkan pembina pramuka yang berdedikasi, profesional, dan siap memberi kontribusi nyata bagi kemajuan Gerakan Pramuka. Harapan ini diarahkan khususnya pada wilayah Ciomas, Kabupaten Bogor, tempat program pembinaan akan berlanjut setelah kursus selesai.

Perjalanan KMD juga diposisikan sebagai langkah awal pembelajaran berkelanjutan. Umi Kulsum menyampaikan bahwa KMD bukan akhir dari proses, melainkan awal bagi calon pembina untuk terus belajar dan terus menginspirasi, sehingga peran mereka dapat terus berkembang seiring kebutuhan pembinaan di satuan masing-masing.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x