Ubi bombing karhutla dipicu Prabowo, inovasi Annaro Fire Stop dari kulit singkong Cirebon

5 menit membaca View : 23
Abdul Halim
Berita, News - 31 Agu 2026

INFOSENTULCITY.ID – Istilah “ubi bombing” tengah ramai diperbincangkan setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan bahan pemadam kebakaran berbasis ubi atau singkong untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dorongan itu muncul saat rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026), dan langsung mengundang respons dari berbagai pihak, termasuk fakta menarik dari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang ternyata sudah lebih dulu mengembangkan teknologi pemadam berbahan singkong.

Dalam rapat tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya bahan pemadam yang menggunakan tepung atau bahan berbasis ubi atau singkong untuk mencegah sekaligus memadamkan api, khususnya pada tahap awal. Prabowo kemudian meminta agar materi itu diuji dan diproduksi dalam skala lebih besar, bahkan mempertimbangkan distribusi melalui helikopter atau pesawat bila nanti dinilai efektif untuk skenario yang lebih luas.

Ubi bombing, analogi water bombing untuk tahap awal karhutla

Prabowo menyoroti pendekatan pemadaman yang selama ini dikenal dengan istilah water bombing. Ia lalu memperkenalkan analogi baru, “ubi bombing”, untuk menggambarkan metode pemadaman yang menggunakan bahan berbasis ubi atau singkong. Intinya, pemerintah ingin memastikan apakah bahan tersebut bisa bekerja pada fase mula kebakaran, bukan hanya untuk pemadaman skala kecil.

Namun, rapat itu juga menegaskan bahwa teknologi berbasis ubi atau singkong masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian. Permintaan Prabowo agar diajukan biaya produksi dan dilakukan uji skala lebih besar menunjukkan bahwa pemerintah sedang mencari bukti ilmiah dan operasional, termasuk kesiapan material bila harus dikerahkan dalam jumlah besar.

Prabowo minta produksi skala besar dan uji efektivitas

Atas paparan Kapolri, Presiden merespons dengan instruksi agar bahan bakunya dari ubi atau singkong dikembangkan lebih serius. Ia meminta pengujian dilakukan dalam skala yang lebih besar, sekaligus menilai bagaimana efektivitasnya bila didistribusikan dari udara.

Permintaan tersebut penting karena karhutla tidak hanya soal mematikan api, tetapi juga soal kecepatan respons, jangkauan, dan kemampuan bahan menahan atau memutus proses pembakaran. Pemerintah, melalui arahan tersebut, terlihat ingin menguji batas kemampuan bahan agar bisa relevan untuk berbagai kondisi lapangan, mulai dari vegetasi, angin, hingga karakter lahan.

Annaro Fire Stop: pemadam dari kulit singkong di Cirebon sejak awal 2000-an

Di tengah wacana “ubi bombing”, muncul cerita yang membuat pembahasan semakin menarik. Di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, seorang warga bernama Aryanto Misel telah mengembangkan inovasi pemadam berbahan dasar kulit singkong sejak awal 2000-an.

Produk temuannya dikenal dengan nama Annaro Fire Stop. Inovasi ini dibuat dalam beberapa bentuk, termasuk bola pemadam dan tabung menyerupai alat pemadam api ringan (APAR). Dalam demonstrasi yang dilakukan Aryanto, bola dirancang pecah saat terkena panas, kemudian bahan pemadam di dalamnya menyebar menuju titik sumber api. Untuk bentuk tabung, konsepnya menggunakan mekanisme tekanan agar bahan dapat keluar saat digunakan dan tidak mudah menggumpal.

Bahan singkongnya bukan sekadar tepung, ada formulasi dan mekanisme khusus

Perlu dicermati bahwa persamaan “sama-sama singkong” tidak otomatis berarti teknologi yang dipakai sama. Wacana pemerintah menyinggung bahan berbasis tepung ubi atau singkong yang masih dalam tahap pengembangan. Sementara itu, Aryanto menekankan bahwa bahan buatannya tidak hanya berupa tepung singkong yang langsung dilemparkan ke api.

Annaro Fire Stop dibuat melalui pengolahan kulit singkong menjadi ekstrak, lalu diformulasikan dengan sejumlah bahan lain. Aryanto menyebut kandungan potasium sitrat dalam ekstrak kulit singkong menjadi salah satu komponen formulasi. Ia juga menjelaskan mekanisme kerjanya bekerja dengan memutus mata rantai reaksi pembakaran, sehingga proses api tidak berlanjut seperti semula.

Untuk versi tabung, Aryanto menyebut penggunaan nitrogen sebagai bagian dari sistem tekanan agar bahan bisa keluar saat digunakan. Detail teknis seperti ini menunjukkan bahwa produk warga Cirebon lebih dekat pada perangkat pemadam yang sudah terstruktur, bukan sekadar material curah.

Singkong bisa jadi solusi, tapi perlu uji ilmiah untuk skala karhutla

Kesamaan bahan baku membuat Annaro Fire Stop layak dijadikan pembanding yang menarik terhadap konsep “ubi bombing”. Meski demikian, keduanya tidak dapat disamakan begitu saja karena formulasi, bentuk, dan cara kerja bisa berbeda. Agar klaim efektivitas bisa dipertanggungjawabkan, perlu pengujian ilmiah yang membandingkan apakah formulasi berbasis kulit singkong seperti milik Aryanto memiliki performa setara untuk kebutuhan pemadaman karhutla.

Karhutla memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding kebakaran skala kecil. Luasan area, jenis vegetasi, kondisi angin, hingga kedalaman api pada lahan gambut menjadi variabel yang menentukan. Selain itu, metode distribusi bahan, apakah dilempar manual, ditembakkan, atau dijatuhkan dari udara, juga akan berpengaruh pada seberapa jauh bahan mampu mencapai titik api dan bekerja secara efektif.

Dari inovasi warga ke perhatian pemerintah, pertanyaan besarnya sama

Munculnya “ubi bombing” membuat inovasi lama Aryanto kembali mendapat sorotan. Cerita ini sekaligus mengingatkan bahwa pemanfaatan singkong untuk pemadaman api tidak sepenuhnya baru di Indonesia. Pemerintah saat ini mendorong riset dan pengujian bahan berbasis ubi atau singkong, sementara di lapangan ada inovasi warga yang telah dirintis bertahun-tahun.

Pada akhirnya, pertanyaan yang sama mengemuka untuk keduanya, sejauh mana bahan berbasis singkong benar-benar dapat menjadi solusi menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Arahan agar dilakukan uji skala lebih besar menunjukkan bahwa jawabannya akan ditentukan oleh hasil pengujian, bukan sekadar kesamaan bahan baku. Jika terbukti efektif, teknologi berbasis singkong berpotensi membuka opsi baru yang lebih mudah dikembangkan, terutama ketika ketersediaan bahan baku lokal menjadi pertimbangan penting dalam penanganan karhutla.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x