
INFOSENTULCITY.ID – Rangkaian Festival Merah Putih (FMP) 2026 di Kota Bogor resmi ditutup pada Minggu malam, 30 Agustus 2026. Penutupan berlangsung di Shelter Skadron Udara 6 Pangkalan TNI AU (Lanud) Atang Sendjaja, Kabupaten Bogor, sekaligus menutup agenda tahunan FMP yang memasuki tahun ke-11.

Acara penutupan FMP tahun ini menampilkan drum band SMK Penerbangan Angkasa dan atraksi Formasi 81, lalu diwarnai pertunjukan teatrikal bertema perjuangan Jenderal Sudirman yang memantik suasana haru sekaligus semangat kebangsaan. Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menegaskan peran generasi muda yang kini mulai mengambil alih estafet kegiatan, serta menggarisbawahi pentingnya regenerasi agar nilai kebangsaan terus hidup di masyarakat.
Di lokasi penutupan, suasana kebangsaan terasa kuat sejak awal rangkaian. Musik dari drum band dan formasi yang ditampilkan menjadi pembuka yang memberi energi pada peserta dan penonton. Setelah itu, pertunjukan teatrikal perjuangan Jenderal Sudirman menjadi momen sentral, karena menggambarkan kegigihan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari sisi seremonial, penutupan tidak hanya berfungsi sebagai penanda akhir kegiatan sebulan penuh, tetapi juga sebagai ruang apresiasi. Dedie menyampaikan penghargaan kepada jajaran panitia dan relawan yang bekerja selama satu bulan penuh, dengan kerja yang menurutnya tidak sekadar administratif, melainkan benar-benar menghidupkan rasa kebersamaan.

Salah satu perhatian utama dalam FMP 2026 adalah keterlibatan generasi muda yang mulai mengambil peran penting dalam struktur penyelenggaraan. Dedie menilai proses ini berjalan karena ada fondasi yang sudah dibangun oleh para pendahulu, sehingga generasi kedua dapat meneruskan tanpa harus memulai dari nol.
Dalam kesempatan itu, Dedie menekankan bahwa keterlibatan anak-anak muda bukan sekadar simbol, tetapi menjadi modal sosial yang nyata. Ia menyoroti kerja sukarela para pihak, termasuk keterlibatan yang tidak menuntut imbalan materi, karena hal tersebut memperkuat keberlanjutan program dari tahun ke tahun.
Dedie juga mengaitkan gagasan regenerasi dengan falsafah hidup Kota Bogor, Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampaureun Jaga. Maknanya, apa yang dinikmati saat ini merupakan hasil karya pendahulu, sementara apa yang dikerjakan hari ini menjadi bekal untuk generasi mendatang. Karena itu, menurutnya, orang Bogor perlu terus membangun perkaderan agar anak muda mau terlibat secara sukarela dan konsisten.
Dedie mengakui regenerasi memang tidak mudah. Namun, ia tetap optimistis karena FMP mendapat dukungan solid dari berbagai elemen di Kota Bogor. Dukungan tersebut mencakup Bogor Sahabat, Forkopimda, OPD, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga BUMD.
Keberagaman dukungan ini membuat FMP tidak berhenti sebagai agenda seremonial belaka. Kegiatan dapat berjalan karena ada sinergi, mulai dari koordinasi lapangan hingga dukungan sumber daya yang dibutuhkan untuk rangkaian acara berskala besar. Dedie memandang kolaborasi seperti inilah yang menjaga kualitas pelaksanaan, sekaligus memperluas jangkauan partisipasi warga.
Dedie juga membagikan pengamatannya saat berkunjung ke beberapa kota di Indonesia pada bulan kemerdekaan. Ia menilai atmosfer pengibaran Merah Putih dan tradisi kirab di Bogor memiliki intensitas yang sulit disamai daerah lain.
Menurutnya, ciri khas Bogor terletak pada keguyuban masyarakat serta ketulusan hati dari para sesepuh, donatur, hingga pihak-pihak yang terus merawat tradisi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa beberapa daerah mungkin meniru kegiatan, tetapi keberhasilan seperti di Bogor tidak bisa dilepaskan dari karakter sosial masyarakatnya.
Selain memperkuat nasionalisme, FMP 2026 disebut memberi dampak positif terhadap perputaran ekonomi daerah. Dedie menyatakan bahwa penyelenggaraan event berskala besar di Kota Bogor umumnya berdampak pada ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ia mencontohkan peningkatan okupansi hotel serta kenaikan pendapatan dari sektor restoran, kafe, hingga tempat hiburan selama Agustus. Aktivitas wisata dan perayaan kemerdekaan mendorong orang datang lebih awal, tinggal lebih lama, dan membelanjakan uang di berbagai kebutuhan selama mengikuti rangkaian acara.
Dedie menambahkan bahwa FMP menarik perhatian wisatawan dari luar kota. Ia menyebut pengunjung datang dari Bandung, Jakarta, Cianjur, Sukabumi, bahkan dari Sumatra dan Kalimantan. Berdasarkan wawancara lapangan, semakin banyak agenda yang digelar di Kota Bogor, semakin besar pula peluang peningkatan pendapatan daerah.
Ketua Panitia FMP 2026, Syahril M Said, menyampaikan apresiasi kepada Forkopimda, panitia, dan ratusan relawan yang bekerja selama tiga bulan, meliputi dua bulan persiapan dan satu bulan pelaksanaan. Ia menyebut terdapat 18 rangkaian acara yang sukses digelar sepanjang bulan Agustus.
Syahril menegaskan relawan datang dengan semangat tanpa menerima pembayaran. Ia juga berharap pada tahun berikutnya FMP bisa menyajikan agenda yang lebih banyak dan berdampak lebih luas. Menurutnya, FMP bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bukti nyata semangat gotong royong warga Bogor.
Sementara itu, Komandan Lanud Atang Sendjaja, Marsekal Pertama TNI A F Picaulima, mengapresiasi keberhasilan panitia dalam memupuk rasa cinta tanah air. Ia menyatakan pihaknya terbuka untuk kembali berkolaborasi agar level kegiatan FMP dapat ditingkatkan, karena menurutnya rangkaian FMP yang berkesinambungan saling melengkapi dan menyempurnakan tradisi yang sudah berjalan sebelumnya.






Tidak ada komentar