
INFOSENTULCITY.ID – Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perbincangan publik setelah video yang memperlihatkan dirinya meminta awak media meninggalkan ruangan pada saat Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Peristiwa itu terjadi pada Jumat, 26 Juni 2026, saat Prabowo menyampaikan sambutan di hadapan rektor, guru besar, dosen, peneliti, serta sivitas akademika.

Dalam momen yang sempat terekam dan kemudian viral, Prabowo menggunakan gaya komunikasi yang terdengar santai ketika meminta wartawan berada di luar ruangan. Ia juga menyebut istilah “minum kopi” sebagai ajakan agar media menunggu di luar, sebelum sesi berikutnya dilanjutkan secara lebih tertutup bersama para akademisi.
Sebelum terjadi perubahan pola peliputan, kegiatan masih dapat diikuti oleh wartawan yang berada di lokasi. Setelah Prabowo berbicara sekitar 25 sampai 30 menit, ia meminta awak media untuk meninggalkan ruangan karena akan melanjutkan pembicaraan dengan format yang lebih terbuka khusus untuk guru besar dan akademisi.
Prabowo menyampaikan permintaan tersebut dengan nada yang tidak bernada perintah keras. Dalam kalimatnya, ia menyinggung keberadaan wartawan yang masih berada di dalam ruangan, lalu mengarahkan agar para media “minum kopi” di luar. Ia juga menyebut bahwa penyelenggara telah menyiapkan kopi-kopi yang bagus, sehingga ajakan tersebut terdengar seperti bagian dari transisi acara, bukan sekadar penolakan terhadap liputan.

Setelah permintaan itu disampaikan, sesi selanjutnya berlangsung tanpa kehadiran media. Siaran langsung yang sebelumnya tersedia melalui kanal resmi Sekretariat Presiden juga dihentikan menjelang masuk ke bagian tertutup.
Selain mempersoalkan siapa yang berada di ruangan, Prabowo juga menekankan substansi diskusi yang akan dilakukan pada sesi berikutnya. Ia menyatakan bahwa forum lanjutan akan digunakan untuk menyampaikan data dan fakta kepada para akademisi, termasuk guru besar dan ilmuwan yang hadir.
Dalam penjelasannya, Prabowo meminta agar informasi yang disampaikan tidak langsung diterima tanpa proses. Ia mendorong para ilmuwan untuk mengkaji, meneliti, dan menilai relevansi data secara saintifik, lalu mengambil kesimpulan berdasarkan pertimbangan akademis mereka sendiri.
Frasa “dari hati ke hati” disebut sebagai pengantar suasana pembicaraan yang lebih personal dan langsung kepada kalangan akademisi. Dengan demikian, konteks yang dibangun adalah forum yang ingin menempatkan diskusi berbasis data, sekaligus memberi ruang bagi para akademisi untuk melakukan verifikasi dan pembacaan kritis.
Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 di JICC bukan acara kecil, karena forum ini dihadiri sekitar 2.600 peserta. Mereka berasal dari berbagai kalangan akademik, termasuk rektor, dekan, dosen, serta pihak akademisi dari perguruan tinggi negeri dan swasta.
Topik yang diangkat dalam rangkaian KSTI juga berada pada spektrum strategis, mulai dari sains dan teknologi hingga pendidikan tinggi serta arah pembangunan dan industrialisasi Indonesia. Karena itu, perubahan dari sesi terbuka menjadi tertutup langsung memunculkan perhatian publik, terutama ketika diskusi menyangkut data dan arah kebijakan.
Video yang beredar memperlihatkan momen permintaan “minum kopi di luar” menjadi bagian paling mudah dikenali oleh publik. Sebagian warganet menilai komunikasi Prabowo terasa santai, namun ada pula yang mempertanyakan alasan media harus meninggalkan ruangan ketika Presiden hendak menyampaikan data dan fakta.
Pertanyaan yang muncul berpusat pada keterbukaan informasi. Di satu sisi, pertemuan terbatas dapat terjadi apabila ada alasan tertentu untuk membahas materi yang tidak dimaksudkan bagi publik. Di sisi lain, ketika forum awalnya terbuka untuk media, penutupan sesi lanjutan bisa memunculkan spekulasi tentang sejauh mana masyarakat dapat mengetahui isi pembahasan.
Perdebatan tersebut juga bersinggungan dengan isu kebebasan pers. Namun, fakta yang tersedia dari peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Prabowo menyampaikan alasan yang terkait dengan kebutuhan diskusi dan penyampaian data kepada akademisi, bukan pernyataan eksplisit bahwa media harus keluar karena tidak boleh mengkritik.
Meskipun media tidak mengikuti bagian tertutup, sebagian isi pembicaraan kemudian diketahui melalui keterangan peserta. Salah satu yang menyampaikan informasi adalah Eduart Wolok, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia, yang mengungkapkan bahwa ada sejumlah hal yang dibahas dalam pertemuan Prabowo bersama para akademisi.
Temuan dari jalur informasi tersebut memperlihatkan bahwa penghentian liputan langsung tidak selalu berarti seluruh materi tidak diketahui publik. Dalam praktiknya, ketika forum melibatkan banyak peserta dan topik yang luas, detail pembahasan dapat terus bergulir lewat testimoni orang-orang yang hadir di dalam ruangan.
Perbedaan antara liputan media yang terhenti dan informasi yang kemudian muncul dari peserta membuat publik kembali menilai ulang batas transparansi, terutama pada acara yang sebelumnya bisa diikuti wartawan.






Tidak ada komentar