
Kota Bogor terus mendorong percepatan penurunan stunting melalui dua inovasi yang dijalankan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Kepala Dinkes Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, menegaskan bahwa program seperti Taleus Bogor dan Penting Beres dirancang untuk memperkuat intervensi gizi spesifik dan sensitif, sekaligus memudahkan rujukan layanan bagi balita yang terindikasi stunting.

Upaya ini berangkat dari data yang menunjukkan stunting masih menjadi tantangan di Kota Bogor. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi stunting 18,2 persen, sementara Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat 21,2 persen. Meski pencatatan rutin melalui Bulan Penimbangan Balita (BPB) memperlihatkan penurunan dari 2,59 persen (1.849 balita) pada Agustus 2023 menjadi 2,32 persen (1.588 balita) pada Agustus 2024, Dinkes tetap mewaspadai faktor risiko lain yang bisa memperlambat perbaikan.
Taleus Bogor dibangun dengan pendekatan pentaheliks yang melibatkan lima unsur, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), komunitas atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta media. Pola ini tidak berhenti pada koordinasi formal, tetapi diarahkan agar setiap unsur berkontribusi pada kebutuhan lapangan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi pelaksanaan program.
Dalam penjelasannya, dr. Erna menekankan bahwa stunting adalah persoalan kompleks yang tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Stunting berkaitan dengan gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Karena itu, program perlu menggabungkan intervensi gizi spesifik dan sensitif secara terkoordinasi, terpadu, dan terkonvergensi sejak tahap penyusunan program.
Secara operasional, Taleus Bogor dijalankan melalui empat pendekatan utama. Sinergitas dilakukan dengan menghubungkan para pemangku kepentingan, termasuk wali kota, DPRD, TP-PKK, Bapperida, OPD, hingga jajaran kewilayahan. Keterpaduan diwujudkan melalui integrasi program dan sumber daya intervensi gizi, lalu pelaksanaannya diatur berjenjang dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan, sampai RW. Program juga menerapkan prinsip continuum of care, yaitu pendampingan berkesinambungan sepanjang siklus hidup, dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, hingga anak usia sekolah.
Dinkes Kota Bogor juga mendorong keterlibatan Bunda Peduli Stunting pada level kota dan kecamatan untuk mengedukasi masyarakat, memantau sasaran 1.000 HPK, serta memfasilitasi konseling gizi bagi warga. Model pendampingan seperti ini menjadi penting karena keberhasilan penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh layanan kesehatan, tetapi juga oleh kemampuan keluarga memahami kebutuhan gizi dan perubahan perilaku yang perlu dilakukan secara konsisten.
Dengan adanya konseling gizi, warga diharapkan tidak sekadar menerima informasi, melainkan memperoleh pendampingan yang lebih terarah, termasuk pemantauan perkembangan balita dan tindak lanjut bila ditemukan masalah gizi. Pada titik ini, peran kader dan pendamping lapangan menjadi jembatan antara program pemerintah dengan kondisi nyata yang dihadapi keluarga di wilayah masing-masing.
Selain capaian penurunan pada indikator BPB, Dinkes Kota Bogor menyebut sejumlah layanan kesehatan yang menunjukkan perkembangan, namun tetap ada faktor risiko yang perlu diantisipasi. Di antaranya, anemia pada remaja putri tercatat 19,8 persen atau 3.767 orang, anemia pada ibu hamil 6,45 persen atau 1.048 orang, serta ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) sebesar 5,98 persen atau 960 orang.
Masalah gizi pada kelompok ibu dan remaja bisa berdampak pada kualitas kehamilan dan status gizi anak yang dilahirkan. Karena itu, Dinkes memandang pencegahan tidak cukup hanya menunggu balita masuk fase intervensi, melainkan harus dimulai lebih awal pada fase pra-kehamilan dan kehamilan. Selain anemia dan KEK, kasus bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan prematur tercatat 5,15 persen atau 189 bayi, yang juga berpotensi meningkatkan risiko stunting.
Untuk menjawab kendala rujukan balita stunting ke rumah sakit, Dinkes Kota Bogor menghadirkan inovasi Penting Beres (Penanganan Stunting Bersama Rujukan Efektif dan Sistematis). Program ini menargetkan hambatan yang kerap muncul dalam proses rujukan, seperti keengganan orang tua mengantre, anggapan bahwa anak tetap sehat sehingga tidak perlu diperiksa, hingga persoalan jaminan kesehatan.
Melalui kolaborasi dengan layanan telekonseling PrimaKu, balita stunting yang memerlukan pemeriksaan dokter spesialis anak dikumpulkan di puskesmas. Setelah itu, anak didampingi tenaga nutrisionis saat menjalani konsultasi jarak jauh, sehingga orang tua tidak harus berpindah tempat untuk mendapatkan penilaian awal dari spesialis.
Sejak diluncurkan pada 2025, inovasi Penting Beres telah memfasilitasi rujukan efektif bagi 438 balita di Kota Bogor. Angka ini menunjukkan bahwa pembenahan alur rujukan dapat menutup jarak antara kebutuhan pemeriksaan dan kemampuan keluarga untuk mengakses layanan, terutama saat ada hambatan antrean dan pertimbangan biaya maupun waktu.
Jika Taleus Bogor menata intervensi gizi dari hulu sampai hilir melalui kolaborasi lintas unsur dan pendampingan berkesinambungan, Penting Beres mengefektifkan bagian yang sering tersendat, yaitu rujukan pemeriksaan spesialis. Keduanya saling melengkapi, karena penanganan stunting tidak hanya soal program gizi di tingkat komunitas, tetapi juga ketepatan dan kecepatan layanan medis ketika diperlukan.
dr. Erna berharap integrasi program, penguatan layanan kesehatan, serta keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat dapat mempercepat penurunan stunting secara berkelanjutan. Fokusnya bukan hanya menurunkan angka indikator dalam waktu tertentu, melainkan memperbaiki sistem pendampingan agar keluarga mendapatkan dukungan yang konsisten sejak fase remaja dan calon pengantin hingga anak tumbuh di masa sekolah.






Tidak ada komentar