
INFOSENTULCITY.ID – Puisi “Sontoloyo” karya Fadli Zon kembali ramai dibicarakan di media sosial. Karya yang ditulis pada 25 Oktober 2018 itu mendadak muncul lagi dalam percakapan publik, terutama karena sejumlah pembaca merasa bait-baitnya masih “nyambung” dengan isu ekonomi dan keseharian masyarakat yang sedang mereka rasakan.

Yang membuat perhatian publik meningkat adalah cara puisi tersebut menyusun kritik. Fadli Zon tidak hanya mengulang istilah “sontoloyo”, tetapi juga merangkai persoalan ekonomi, pangan, lapangan kerja, hingga utang dan harga-harga kebutuhan. Dalam puisi itu, ia menyoroti kontras antara narasi “ekonomi meroket” dan realitas yang justru disebut “nyungsep meleset”.
Istilah “sontoloyo” sendiri berangkat dari konteks politik saat itu. Presiden Joko Widodo pernah menggunakan frasa “politikus sontoloyo” ketika mengkritik pihak-pihak yang dinilai memakai isu tertentu demi kepentingan politik. Respons terhadap istilah tersebut kemudian hadir lewat puisi Fadli Zon, yang menjadikan kritik politik sebagai pintu masuk untuk membahas kondisi pemerintahan dan dampaknya ke kehidupan warga.
Dalam puisi “Sontoloyo”, Fadli Zon menautkan persoalan ekonomi dengan dampak langsung yang dirasakan banyak orang. Salah satu bagian yang sering diingat pembaca berbunyi, “kau bilang ekonomi meroket, padahal nyungsep meleset, sontoloyo!”. Bait itu menegaskan kritik terhadap klaim keberhasilan ekonomi yang tidak sejalan dengan kondisi nyata yang dinilai memburuk.

Kritik tersebut kemudian diperluas. Fadli menyinggung isu harga kebutuhan masyarakat, pengangguran, hingga melemahnya nilai rupiah. Ia menulis, “utang numpuk bertambah, rupiah anjlok melemah, harga-harga naik merambah, hidup rakyat makin susah”. Konteks semacam ini membuat banyak orang membaca puisi tersebut bukan sekadar sebagai sindiran politik, melainkan sebagai gambaran tekanan ekonomi yang berulang dari waktu ke waktu.
Selain ekonomi umum, puisi itu juga menyasar area pangan. Fadli Zon menyinggung kebijakan impor lewat bait, “kau bilang produksi beras berlimpah, tapi impor tidak kau cegah, sontoloyo!”. Kalimat tersebut menyoroti kontradiksi antara klaim ketersediaan produksi dan kebijakan yang dinilai tidak sepenuhnya berpihak pada pencegahan impor.
Perbincangan publik kembali menguat ketika pembaca mengaitkan kritik pangan dalam puisi itu dengan isu yang kerap muncul dalam diskusi kebijakan. Pada titik ini, puisi berfungsi seperti cermin yang bisa ditafsirkan ulang, tergantung situasi yang sedang dibahas orang-orang saat potongan karya tersebut beredar kembali.
Fadli juga memasukkan kritik terkait lapangan pekerjaan. Ia menulis, “kau bilang pengangguran turun, orang cari kerja makin berjibun, sontoloyo!”. Bait ini menekankan jarak antara pernyataan resmi dan pengalaman pencari kerja di lapangan.
Ketika puisi itu kembali viral, bagian ini sering menjadi sorotan karena pembaca menilai masalah ketenagakerjaan merupakan tema yang tidak pernah benar-benar hilang dalam percakapan publik. Ada pembacaan baru yang menekankan bahwa frasa “pengangguran turun” tidak otomatis membuat kondisi pencarian kerja menjadi mudah, sehingga sindiran dalam puisi dianggap masih relevan.
Meski puisi tersebut lahir pada tahun 2018, kemunculan kembali di media sosial mendorong interpretasi yang lebih beragam. Sebagian warganet membaca bait-baitnya dengan konteks yang berbeda dari saat puisi pertama kali muncul. Mereka mengaitkan kritik ekonomi, pangan, dan pekerjaan dengan isu yang sedang menjadi perbincangan saat ini.
Namun, penting dipahami bahwa anggapan “relevansi” yang muncul di kalangan pembaca merupakan interpretasi personal, bukan bukti bahwa puisi itu ditulis untuk menggambarkan kondisi pada tahun-tahun berikutnya. Karya ini tetap berakar pada suasana politik ketika istilah “sontoloyo” sedang menjadi perbincangan luas.
Ketika puisi “Sontoloyo” pertama kali mencuat, respons dari kalangan politik juga muncul. PPP, melalui Wakil Sekjen PPP Achmad Baidowi, pernah menilai Fadli Zon lebih cocok menjadi seniman dibandingkan politisi dan menyebutnya sebagai “seniman tanggung”. Kritik seperti ini menunjukkan bahwa puisi tersebut sejak awal dipandang sebagai langkah politik, bukan semata karya sastra.
PDIP juga memberikan respons. Pada saat itu, kritik politik terhadap puisi turut dikaitkan dengan sejumlah persoalan yang tengah ramai, termasuk kontroversi kasus Ratna Sarumpaet. Fakta bahwa karya tersebut sejak awal berada dalam pusaran perdebatan politik membuatnya memiliki daya hidup yang panjang, ketika potongan baitnya kembali dibagikan dan dibaca ulang oleh publik.
Pada akhirnya, yang membuat “Sontoloyo” terus bergerak di ruang publik adalah kombinasi antara gaya sindiran dan daftar isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari ekonomi, beras, pengangguran, utang, hingga kenaikan harga kebutuhan. Saat isu-isu tersebut kembali menjadi topik hangat, puisi yang memuat kritik serupa akan mudah menemukan audiens baru.






Tidak ada komentar