
INFOSENTULCITY.ID – Kasus foto deepfake AI di Cileungsi, Kabupaten Bogor, kini meninggalkan dampak psikologis yang berat bagi para korban, terutama yang masih berstatus pelajar. Kuasa hukum saksi, Muhammad Ari Pratomo, menyampaikan bahwa sejak kasus terungkap, sejumlah korban menunjukkan perubahan sikap dan kondisi emosional yang mengarah pada trauma, mulai dari rasa malu hingga hilangnya rasa aman.

Menurut Ari, salah satu orang tua korban sempat menceritakan perkembangan anaknya setelah kejadian tersebut. Ia menuturkan bahwa korban yang sebelumnya terdampak kuat kini mulai menunjukkan tanda pemulihan, bahkan sudah berniat kembali bersekolah. Meski demikian, keluarga tetap merasakan pukulan yang mendalam karena peristiwa itu menyentuh aspek harga diri dan keamanan personal korban.
Ari menjelaskan, dampak yang dialami korban bukan hanya terkait konten yang beredar, tetapi juga cara korban memandang diri sendiri setelah kejadian. Korban, kata dia, merasa kehilangan rasa aman dan tergerus rasa percaya diri. Situasi tersebut membuat proses beraktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit, karena korban cenderung bergulat dengan ketakutan dan tekanan emosional yang muncul setelah mengetahui foto mereka dimanipulasi.
Dalam pertemuan dengan keluarga korban, Ari mengaku turut mendengar ekspresi kesedihan yang mereka alami. Ia menyebut sempat ada tangis saat keluarga menceritakan kondisi anaknya, termasuk saat ibunda korban bertemu langsung. Cerita itu, menurut Ari, memperlihatkan bahwa trauma tidak berhenti pada korban saja, melainkan merembet ke kondisi psikologis orang-orang terdekat yang menyaksikan penderitaan tersebut.

Kasus ini juga memperlihatkan tantangan lain dalam penegakan hukum, yaitu tidak semua korban berani menyampaikan apa yang dialami. Ari menilai banyak korban memilih diam karena takut stigma sosial, khawatir berhadapan dengan proses pemeriksaan, atau merasa tidak akan mendapat perlindungan yang memadai. Akibatnya, laporan bisa terlambat dan penanganan menjadi lebih rumit.
Meski begitu, Ari berharap korban lain yang mengalami hal serupa segera membuat laporan polisi. Ia menekankan bahwa keberanian untuk speak up dapat membantu proses penanganan, sekaligus mencegah korban lain mengalami pola yang sama. Ia juga menyebut sebagian korban masih berstatus pelajar, sehingga dampaknya akan terasa lebih panjang, baik pada kehidupan akademik maupun relasi sosial di lingkungan sekolah.
Sebelumnya, sejumlah korban mengaku foto mereka diedit menjadi konten pornografi menggunakan teknologi artificial intelligence. Dalam pengaduan, disebutkan bahwa manipulasi dilakukan melalui deepfake AI, sehingga hasilnya tampak seperti konten yang dibuat oleh pihak terkait, padahal merupakan hasil rekayasa digital.
Mayoritas korban yang disebut berasal dari SMA swasta di wilayah Cileungsi. Dalam perkara tersebut, dua pihak berinisial KF dan DCN dilaporkan terkait dugaan pornografi hasil manipulasi kecerdasan buatan. Ari menyatakan bahwa keduanya telah dilaporkan ke Polres Bogor dengan pendampingan dari kuasa hukum korban.
Ari menilai penanganan kasus deepfake AI harus mendapat perhatian serius dari aparat, mengingat karakter kejahatan ini memanfaatkan teknologi untuk merusak martabat dan keamanan pribadi korban. Ia menyoroti bahwa pelaku tidak hanya melakukan pelanggaran terhadap privasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis yang panjang, terutama ketika korban masih berada pada fase rentan seperti usia sekolah.
Dalam situasi seperti ini, proses hukum menjadi penting bukan semata untuk menindak pelaku, tetapi juga untuk memberi sinyal bahwa rekayasa digital yang merugikan korban tidak akan dibiarkan. Ari berharap pihak berwenang dapat menindaklanjuti laporan secara serius agar korban mendapatkan perlindungan dan kepastian penanganan.






Tidak ada komentar