Progres revitalisasi trase baru Batutulis Bogor Selatan capai 70% jelang 21 Oktober

3 menit membaca View : 6
Abdul Halim
Bogor, News - 23 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Revitalisasi trase baru Batutulis, pengganti Jalan Saleh Danasasmita di Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, terus dipacu menjelang target penyelesaian pada 21 Oktober. Per 23 September 2026, progres pekerjaan secara keseluruhan telah mencapai sekitar 70%, menunjukkan percepatan yang konsisten dibanding rencana.

Hingga cut off 18 September 2026, capaian tercatat sebesar 60,793 persen, melampaui target rencana sebesar 60,302 persen atau menghasilkan deviasi positif 0,491 persen. Dengan sisa tahapan yang masih berjalan, fokus proyek kini bergeser pada penyelesaian struktur jalan serta elemen pendukungnya.

Target 21 Oktober, pekerjaan mencapai sekitar 70% per 23 September

Dalam laporan progres terbaru, pekerjaan revitalisasi trase Batutulis sudah berada pada tahap signifikan. Secara keseluruhan, progres sekitar 70% per 23 September 2026 memberi sinyal bahwa jadwal utama masih dapat dikejar, terutama jika tahapan berikutnya tidak mengalami hambatan berarti.

Percepatan ini tidak hanya terlihat dari angka total, tetapi juga dari konsistensi capaian terhadap rencana. Saat cut off 18 September 2026, persentase pekerjaan berada di atas target yang ditetapkan. Deviasi positif yang kecil namun nyata seperti 0,491 persen biasanya menjadi indikator bahwa manajemen proyek mampu menjaga ritme pelaksanaan, termasuk pengaturan sumber daya di lapangan.

Pengecoran badan jalan selesai hingga STA 220

Salah satu kemajuan paling menonjol adalah penyelesaian pengecoran badan jalan. Pekerjaan pengecoran disebut telah rampung sampai STA 220 pada Rabu dini hari, 23 September 2026, sesuai panjang penanganan yang memang direncanakan.

Secara teknis, keberhasilan pengecoran hingga titik STA tertentu sering menjadi penentu kelanjutan pekerjaan. Setelah pekerjaan badan jalan selesai, tahapan berikutnya biasanya lebih mudah dipetakan, karena struktur utama sudah terbentuk dan bisa menjadi dasar untuk pekerjaan subgrade, trotoar, serta perangkat keselamatan pejalan kaki.

Fast track beton tiga hari untuk percepat pengecoran simultan

Percepatan pengecoran disebut didukung penggunaan teknologi beton fast track dengan masa pengerasan tiga hari. Pola kerja ini memungkinkan proses pengecoran dilakukan secara simultan dari malam hingga menjelang subuh, sehingga waktu tunggu pengerasan bisa dipangkas tanpa mengorbankan target kualitas.

Metode fast track kerap dipilih ketika proyek mengejar tenggat ketat. Penjadwalan yang memanfaatkan jam malam juga membantu mengurangi jeda antar tahapan, yang pada akhirnya dapat mempercepat pencapaian persentase progres keseluruhan. Namun, penerapan sistem seperti ini tetap menuntut pengendalian mutu yang ketat, karena percepatan konstruksi berarti kontrol terhadap hasil pengecoran menjadi lebih krusial.

Perkembangan DPT, subgrade, trotoar, dan jalur disabilitas

Selain badan jalan, kemajuan juga terjadi pada dinding penahan tanah (DPT) beton di kawasan tersebut yang telah mencapai 75 persen. Pekerjaan DPT memiliki peran penting untuk menjaga kestabilan area, terutama pada segmen yang berpotensi memerlukan penguatan struktur tanah.

Tahap pekerjaan subgrade kemudian segera dilanjutkan. Setelah lapisan dasar terbentuk, proyek akan meneruskan pembangunan trotoar menggunakan paving block, sekaligus menyediakan jalur pemandu khusus bagi penyandang disabilitas. Detail seperti jalur pemandu menjadi bagian dari standar aksesibilitas yang harus terintegrasi dengan desain trotoar agar pergerakan pejalan kaki lebih aman dan nyaman.

Area yang sudah dicor belum dibuka penuh untuk jaga kualitas

Meski bentuk jalan baru mulai tampak, area yang telah selesai dicor untuk sementara belum dibuka sepenuhnya bagi lalu lintas kendaraan. Langkah ini diambil untuk memastikan kualitas dan keamanan konstruksi terjaga sampai seluruh rangkaian pekerjaan benar-benar tuntas.

Pembatasan akses pada fase awal setelah pengecoran lazim dilakukan agar proses perawatan material dapat berjalan optimal. Dengan begitu, risiko kerusakan dini pada permukaan jalan atau gangguan terhadap tahapan lanjutan dapat diminimalkan, termasuk saat pengerjaan elemen pendukung seperti trotoar dan perangkat keselamatan pejalan kaki masih berlangsung.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x