Perempuan di Bogor Mengaku Diteriaki dan Dipukul Diduga Matel Saat Belanja

3 menit membaca View : 6
Abdul Halim
Hukum & Kriminal, News - 22 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Seorang perempuan di Bogor mengaku mengalami intimidasi dari sejumlah pria diduga anggota kelompok mata elang (matel) saat berbelanja di pasar bersama anak dan keluarga. Peristiwa itu terjadi saat rombongan hendak kembali masuk ke mobil setelah berbelanja, lalu situasi berubah menjadi keributan yang berujung pemukulan terhadap mobil.

Menurut pengakuannya, kejadian bermula ketika ia menggunakan mobil milik teman kakaknya untuk berbelanja. Mobil tersebut sedang digadaikan karena pemiliknya membutuhkan dana untuk biaya pengobatan orang tuanya. Perempuan itu menceritakan bahwa keluarga tetap memilih memakai kendaraan tersebut dengan pertimbangan kondisi yang dianggap aman.

Keributan bermula saat rombongan hendak masuk mobil

Perempuan tersebut menyatakan insiden terjadi ketika ia, anaknya, kakaknya, dan keponakannya hendak kembali masuk ke mobil. Saat itu, sejumlah pria tiba-tiba mengerumuni dan menghalangi mobil. Ia menuturkan bahwa para pria “mengepung” sehingga ia berusaha masuk ke kendaraan, namun ketika rombongan berhasil masuk, mobil disebut “dipukulin”.

Dalam keterangannya, ia sempat turun dari mobil karena emosi dan terlibat adu mulut dengan kelompok pria tersebut. Setelah itu, petugas keamanan di lokasi disebut meredakan suasana. Ia juga mengaku membawa anak saat kejadian, sehingga kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga menjadi alasan kuat mengapa ia tidak memilih menetap dalam situasi yang memanas.

Keamanan lokasi disebut tidak memberi perlindungan maksimal

Perempuan itu menyampaikan bahwa petugas keamanan setempat justru meminta agar keributan tidak berlangsung di area tersebut. Ia menilai respons yang ia terima kurang sejalan dengan kebutuhannya sebagai perempuan yang membawa anak, terutama saat situasi sudah berubah menjadi intimidasi dan kekerasan terhadap kendaraan.

Setelah insiden di pasar, ia bersama keluarganya memutuskan untuk pulang. Namun, menurut pengakuannya, perjalanan tidak berjalan tenang karena ia mengaku mobil kemudian diikuti oleh lima sepeda motor. Ia menilai penguntitan itu berkaitan dengan kelompok yang sama, sehingga kondisi psikologis dan rasa takut terhadap anaknya semakin meningkat.

Meminta perlindungan ke Markas Polisi Militer

Karena panik dan khawatir dengan keselamatan anak, perempuan itu mengarahkan mobil menuju markas Polisi Militer (PM) terdekat. Ia mengaku berusaha menarik perhatian dengan membunyikan klakson berulang kali dan berteriak meminta pertolongan sampai sejumlah personel keluar.

Dalam pengakuannya, petugas PM sempat mengarahkan agar ia melapor ke kantor polisi. Setelah itu, ia menyebut sejumlah personel intelijen turun tangan membantu, termasuk menghubungi pihak kepolisian. Ia menggambarkan bahwa setelah keluarga korban dan pemilik mobil tiba di lokasi, situasi mereda sementara kelompok yang diduga matel meninggalkan tempat kejadian.

Status gadai mobil tidak ia tangani langsung

Perempuan itu juga menyebut tidak mengetahui secara rinci urusan cicilan atau status gadai kendaraan, karena urusan tersebut ditangani langsung oleh keluarga kakaknya. Ia hanya berperan menggunakan mobil saat berbelanja, sementara keputusan pemakaian kendaraan didasarkan pada pertimbangan bahwa peminjaman dilakukan untuk kebutuhan keluarga dan pemilik mobil sedang membutuhkan dana untuk pengobatan.

Pengakuan ini kemudian menjadi perhatian karena melibatkan dugaan intimidasi di ruang publik, adanya penghalangan saat rombongan hendak kembali ke mobil, serta klaim pemukulan terhadap kendaraan. Hingga saat ini, rincian proses penanganan oleh pihak berwenang dan hasil pemeriksaan atas dugaan kelompok tersebut masih perlu ditelusuri melalui mekanisme hukum yang berlaku.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x