Kebakaran TPAS Galuga Hari Kedelapan, Pemkab Bogor Pakai Drone Thermal Mata Garuda

3 menit membaca View : 6
Abdul Halim
News, Peristiwa - 13 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, terus berlangsung dan kini memasuki hari kedelapan, Senin 14 September 2026. Pemerintah Kabupaten Bogor menyiapkan langkah percepatan pemadaman dengan memanfaatkan drone thermal milik pemkab yang diberi nama Mata Garuda, demi membantu petugas menemukan sumber panas yang tidak tampak dari permukaan.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menjelaskan drone tersebut diterbangkan secara berkala untuk memantau kondisi kawasan TPAS yang memiliki area cukup luas. Teknologi thermal pada drone memungkinkan tim melihat titik panas berdasarkan warna yang muncul pada layar pemantauan, sehingga penanganan bisa lebih terarah dan tidak semata mengandalkan observasi visual di lapangan.

Drone thermal Mata Garuda untuk petakan titik panas di TPAS Galuga

Rudy Susmanto menyebutkan, sebelum tim turun dan melakukan pengecekan langsung, drone Mata Garuda terbang lebih dulu. Ia menyatakan drone diterbangkan satu jam sekali pada tahap pemantauan awal, agar petugas memperoleh gambaran terkini mengenai persebaran panas di lokasi kebakaran.

Dalam pemantauan tersebut, area yang tampak berwarna hijau menandakan kondisi relatif aman sehingga bisa ditinggalkan. Sebaliknya, titik yang masih menunjukkan warna merah menjadi prioritas untuk segera ditangani, karena mengindikasikan panas yang berpotensi masih aktif dan dapat memicu kebakaran kembali bila tidak ditangani.

Rudy juga menegaskan bahwa hasil intervensi dapat dievaluasi dari tampilan thermal. Ia mengungkapkan, titik yang sudah ditangani akan mengalami perubahan warna pada layar, misalnya dari merah menjadi kuning atau hijau, sementara area yang masih merah tetap menjadi fokus penanganan berikutnya.

Api tidak terlihat di permukaan, namun bara bisa tersimpan di bawah tumpukan sampah

Menurut Rudy Susmanto, keberadaan drone thermal sangat membantu karena titik api di TPAS Galuga tidak selalu tampak secara kasat mata. Ada kondisi ketika permukaan lokasi terlihat tidak lagi menyala atau tidak menimbulkan asap, tetapi panas masih tersimpan di bagian bawah tumpukan sampah.

Ia mencontohkan situasi yang sering terjadi di lokasi seperti TPAS, yaitu saat petugas berada di suatu titik dan tidak melihat api maupun asap, namun setelah drone diterbangkan ternyata drone mendeteksi adanya titik panas di bawah. Temuan seperti ini menjadi dasar bagi tim untuk melakukan tindakan lanjutan, agar bara yang tersisa tidak kembali memicu kebakaran.

Begitu titik panas terdeteksi, alat berat langsung dikerahkan untuk membongkar tumpukan sampah pada lokasi tersebut. Pembongkaran dilakukan untuk membuka bagian dalam tumpukan yang diduga masih menyimpan bara api, sehingga proses penanganan tidak berhenti pada permukaan luar yang tampak sudah mereda.

Pembongkaran dan pendinginan untuk mencegah kebakaran susulan

Rudy menjelaskan mekanisme penanganan setelah pembongkaran. Setelah tumpukan dibuka, petugas melakukan pendinginan agar bara tidak kembali menyala. Ia menekankan bahwa alat berat melakukan pembongkaran karena di dalam tumpukan biasanya masih ada sumber panas, lalu pendinginan menjadi langkah berikutnya untuk menekan risiko kebakaran ulang.

Dengan pola kerja seperti itu, drone thermal berperan sebagai “alat baca kondisi”, sedangkan alat berat dan pendinginan menjadi “tangan eksekusi” di lapangan. Sinkronisasi keduanya diharapkan membuat respon pemadaman lebih cepat, terutama saat kebakaran sudah memasuki hari-hari lanjut yang kerap ditandai dengan munculnya titik panas baru di area tertentu.

Drone Mata Garuda juga pernah dipakai dalam operasi pencarian dan penyelamatan

Rudy Susmanto menambahkan bahwa drone Mata Garuda sebelumnya telah digunakan dalam berbagai operasi kebencanaan. Pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada pemantauan kebakaran, tetapi juga mendukung kegiatan pencarian dan penyelamatan di wilayah pegunungan maupun area sungai.

Pada operasi tersebut, drone dilengkapi teknologi thermal yang dapat membantu mendeteksi panas tubuh ketika digunakan untuk pencarian. Pengalaman pemakaian di situasi berbeda membuat pemkab memiliki gambaran cara mengoptimalkan kemampuan thermal, termasuk saat diterapkan pada pemantauan TPAS Galuga.

Hingga saat ini, Pemkab Bogor terus memanfaatkan fasilitas drone thermal tersebut untuk mendukung penanganan kebakaran TPAS Galuga, dengan fokus pada identifikasi titik panas dan tindak lanjut berupa pembongkaran serta pendinginan di lokasi yang terdeteksi masih menyimpan panas.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x