
INFOSENTULCITY.ID – Ivanna Claudya Martin Laykotta, siswi SMAN 8 Bogor yang tergabung dalam tim putri Astha, menjalani babak berat menjelang Opening Party Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Java-West. Sehari sebelum pertandingan, kondisinya mendadak menurun karena demam tinggi, membuatnya cemas tak bisa tampil dalam kondisi terbaik.

Meski begitu, Ivanna tetap berusaha hadir di laga Astha melawan SMAN 1 Cianjur. Saat pertandingan berlangsung, ia mengaku sempat merasa lemas dan bahkan muntah dua kali di lapangan. Laga tersebut akhirnya berakhir dengan skor 22-11 untuk SMAN 1 Cianjur.
Ivanna menceritakan bahwa penurunan kesehatannya terjadi cepat, tepat ketika ia masih berada dalam fase persiapan menjelang opening. Demam tinggi membuat tubuhnya terasa tidak siap untuk intensitas permainan basket yang menuntut stamina dan fokus penuh. Ia sempat merasa kecewa pada dirinya sendiri, karena bayangan untuk memberikan performa maksimal menjadi sulit dicapai.
Bagi pemain muda, situasi seperti ini bukan sekadar mengganggu latihan, tetapi juga memengaruhi kesiapan fisik saat pertandingan. Ivanna sempat belum benar-benar pulih ketika Astha bertemu SMAN 1 Cianjur. Dalam olahraga beregu, kondisi salah satu pemain bisa berdampak pada ritme tim, terutama ketika pertandingan berlangsung ketat dan tempo permainan tinggi.

Ketika memasuki pertandingan, Ivanna merasakan dampak langsung dari kondisinya. Ia menyebut bahwa saat tanding tubuhnya terasa lemas. Ada momen yang lebih berat, yaitu ketika ia sempat muntah dua kali saat laga berlangsung.
Meski demikian, Ivanna tidak mundur dari tanggung jawabnya sebagai bagian dari Astha. Ia berusaha tetap memberikan kontribusi sesuai kemampuan yang tersisa, sambil menjaga agar timnya tetap berjalan. Sikap itu menunjukkan keteguhan mental, khususnya ketika kondisi tubuh tidak mendukung namun komitmen untuk tampil tetap dijaga.
Di balik rasa tidak nyaman yang ia rasakan saat pertandingan, Ivanna menempatkan momen DBL sebagai pengalaman yang sangat personal. Ia menyatakan merasa bahagia karena bisa mengenakan seragam Astha untuk terakhir kalinya di DBL West Java-West. Bagi sebagian atlet, pertandingan bukan hanya soal angka skor, tetapi juga ritus akhir sebelum masa kompetisi tertentu berakhir.
Ia juga menyampaikan kebanggaan terhadap Astha dan mengakui bahwa timnya telah berusaha maksimal. Ucapan terima kasih Ivanna diarahkan kepada tim dance yang ikut berjuang bersama, menjalani latihan, dan memberikan dukungan. Dalam ajang seperti DBL, dukungan dari berbagai elemen tim sering menjadi penopang suasana, baik saat pemanasan maupun ketika pertandingan berlangsung.
Ivanna menyebut ada alasan kuat di luar lapangan yang mendorongnya bertahan sampai titik ini. Ia mengaitkan semangatnya dengan dukungan Mama Tri Setyaningrum yang selalu menyemangati, mengantar jemput saat latihan, dan menemani proses perjuangan. Peran tersebut membuat Ivanna merasa tidak berjalan sendirian, bahkan ketika kondisi tubuhnya sedang jatuh.
Ia juga membawa kenangan tentang almarhum Papa. Ivanna menceritakan bahwa Papa telah berpulang saat pandemi Covid-19. Saat itu, ia masih baru menyelesaikan SD dan tengah menjalani proses pendaftaran untuk melanjutkan pendidikan. Setelah kepergian Papa, Ivanna melihat Mama berjuang sebagai single parent untuk menghidupi keluarga, dan cerita itu menjadi bagian dari fondasi emosionalnya.
Ivanna menegaskan bahwa meski performanya tidak maksimal saat bertanding, ia yakin Papa tetap bangga dengan anak bungsunya yang terus berkembang. Ia menyebut pesan tersebut terus menjadi penguat, terutama ketika ia menghadapi situasi sulit menjelang dan saat pertandingan.
Ivanna mengaku mulai menyukai bola basket sejak kelas X. Sejak awal ketertarikannya, Mama langsung membelikannya sepatu basket dan perlengkapan lainnya sebagai bentuk dukungan. Dari cerita itu tampak bahwa minat Ivanna tidak tumbuh secara instan, melainkan dibangun lewat dukungan konkret sejak dini.
Di laga Opening Party, Astha memang harus mengakui keunggulan SMAN 1 Cianjur dengan skor akhir 22-11. Namun, bagi Ivanna, perjalanan yang ia jalani bersama tim tetap menjadi pengalaman berharga. Ia memaknai DBL sebagai ruang untuk menunjukkan pertumbuhan dirinya, sekaligus tempat untuk membuktikan bahwa keluarga, terutama Mama dan juga pesan dari Papa, telah membentuk keberanian untuk tetap melangkah.






Tidak ada komentar