Dedie A. Rachim: 20 Guru Bogor Pensiun Tiap Bulan, Butuh Pengganti

4 menit membaca View : 5
Abdul Halim
News, Pendidikan - 25 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengungkapkan persoalan kekurangan tenaga pendidik yang muncul akibat banyaknya guru SD dan SMP memasuki masa pensiun. Ia menyebut sedikitnya 20 guru pensiun setiap bulan, sehingga jika dihitung mencapai sekitar 240 guru dalam setahun. Pernyataan itu disampaikan Dedie saat membahas tantangan sektor pendidikan di Kota Bogor pada Kamis, 24 September 2026.

Menurut Dedie, laju pensiun yang konsisten itu membuat kebutuhan pengganti terus berjalan, sementara jumlah guru baru yang tersedia belum mampu menggantikan seluruh kekosongan. Ia menekankan bahwa masalah ini harus ditangani dengan langkah yang tidak hanya bertumpu pada rekrutmen konvensional, melainkan juga skema penataan sekolah dan kolaborasi lintas institusi agar proses belajar di kelas tetap terjaga.

20 guru SD dan SMP pensiun tiap bulan, dampaknya ke ketersediaan pengajar

Dedie menyampaikan bahwa setiap bulan ia menandatangani pensiun untuk sekitar 20 guru SD dan SMP. Angka tersebut memberi gambaran konkret tentang ritme pengurangan tenaga pendidik yang terjadi secara berulang, bukan kejadian sesekali. Jika dirunut ke kalender, sekitar 240 guru meninggalkan dunia pendidikan dalam setahun, sementara penggantinya dinilai masih jauh lebih sedikit.

Dalam konteks pengelolaan pendidikan, kondisi ini berpengaruh langsung pada ketersediaan jam mengajar dan keberlangsungan layanan belajar. Ketika kekosongan terjadi, sekolah biasanya harus menata ulang jadwal, membagi ulang penugasan, hingga mencari bantuan dari guru pengampu lain. Jika tidak diimbangi strategi yang cepat, dampaknya bisa merembet ke kualitas pembelajaran karena beban mengajar guru yang tersisa cenderung meningkat.

Perencanaan pendidikan perlu bergerak lebih cepat dari siklus kelulusan

Selain membahas jumlah guru, Dedie juga menyoroti kebutuhan menyesuaikan pendidikan dengan perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi. Ia menilai persiapan generasi muda tidak bisa dilakukan mendadak ketika siswa sudah berada di jenjang akhir pendidikan. Dengan kata lain, pembentukan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan harus dimulai dari jenjang dasar dan terus berlanjut.

Dedie menegaskan kurikulum dan pola pembelajaran perlu dirancang secara berkesinambungan dari SD hingga pendidikan menengah. Pendekatan berjenjang ini diharapkan membuat siswa tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kapabilitas yang menjawab kebutuhan industri dan perubahan teknologi yang terus berlangsung.

“Persiapannya tidak bisa dimulai ketika sudah lulus. Harus dimulai berkelanjutan dari SD, SMP, hingga SMA agar generasi muda kita memiliki kapabilitas yang benar-benar menjawab kebutuhan dunia kerja dan industri masa depan,” ujar Dedie.

Restrukturisasi sekolah jadi opsi untuk menutup celah tenaga pendidik

Untuk menghadapi kekurangan tenaga pendidik, Pemkot Bogor tidak hanya mengandalkan rekrutmen guru baru. Salah satu langkah yang disiapkan adalah restrukturisasi satuan pendidikan melalui mekanisme merger atau penggabungan sekolah. Skema ini pada praktiknya bertujuan merapikan layanan pendidikan, mengefisienkan penggunaan sumber daya, dan membantu memastikan proses belajar tetap berjalan meski terjadi perubahan komposisi tenaga pengajar.

Merger sekolah juga bisa memengaruhi distribusi fasilitas, pembagian kelas, serta penempatan guru. Karena itu, kebijakan semacam ini biasanya perlu disertai perencanaan matang, termasuk mempertimbangkan akses siswa, jarak tempuh, serta kesiapan sekolah penerima dalam menampung peserta didik. Bagi warga, perubahan struktur sekolah dapat berdampak pada rutinitas harian, terutama terkait rute perjalanan dan jadwal belajar.

Kolaborasi perguruan tinggi, mahasiswa semester empat sebagai guru pendamping

Langkah lain yang tengah dijajaki Pemkot Bogor adalah kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk membantu kebutuhan tenaga pendamping di ruang kelas. Skema yang dibahas melibatkan mahasiswa semester empat sebagai guru pendamping, dengan harapan mereka dapat berkontribusi langsung dalam proses pembelajaran sekaligus memperoleh pengalaman mengajar.

Dedie menjelaskan skema kompensasi yang akan diberikan melalui konversi Satuan Kredit Semester (SKS) atas pengalaman mengajar tersebut. Dengan pendekatan ini, Pemkot berusaha menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara kebutuhan sekolah dan kebutuhan pembelajaran praktikum bagi mahasiswa.

Menyiapkan SDM agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi

Dalam pandangan Dedie, persoalan pendidikan tidak lepas dari kualitas sumber daya manusia. Ia menilai Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam, seperti nikel, emas, serta komoditas perkebunan. Namun, kekayaan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia menekankan tantangannya bukan sekadar memanfaatkan teknologi yang sudah ada, melainkan menyiapkan manusia yang mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi. Karena itu, strategi pendidikan di daerah diharapkan selaras dengan kebutuhan masa depan, mulai dari penataan tenaga pendidik hingga desain pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perubahan dunia kerja.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x