
INFOSENTULCITY.ID – Puncak, Megamendung, dan Cisarua di Kabupaten Bogor kembali menjadi sorotan terkait kontribusi sektor perkebunan terhadap ekonomi daerah. Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, menyampaikan bahwa pengelolaan kawasan perkebunan tidak berhenti pada urusan produksi, tetapi turut memengaruhi perekonomian lokal, termasuk melalui kolaborasi dengan mitra dan investor baru. Pernyataan itu disampaikan di Puncak Bogor pada Kamis, 24 September 2026.

Dalam penjelasannya, Abdul Rivai menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah bisa didorong lewat pengembangan bisnis perkebunan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Dengan arah investasi yang terukur, pengembangan aset perkebunan diharapkan memberi manfaat lebih luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja, dukungan ketahanan pangan dan energi, hingga penguatan tata kelola perusahaan.
Abdul Rivai melihat sektor perkebunan sebagai salah satu penggerak ekonomi di wilayah-wilayah yang menjadi basis pengelolaan komoditas. Ia menyoroti Jawa Barat sebagai contoh, karena secara ekonomi sektor ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi setempat. Menurutnya, kontribusi tersebut tidak hanya datang dari aktivitas produksi di kebun, melainkan juga dari efek lanjutan yang muncul di sekitar kawasan, seperti aktivitas ekonomi pendukung dan kebutuhan tenaga kerja.
Di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, efek ekonomi tersebut terasa melalui keterkaitan berbagai pihak, mulai dari pekerja dan pelaku usaha sekitar hingga mitra yang terlibat dalam pengembangan bisnis. Dengan kata lain, ketika pengelolaan perkebunan berjalan, roda ekonomi lokal ikut berputar, baik dari sisi serapan tenaga kerja maupun perputaran aktivitas usaha.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi daerah, Abdul Rivai menyebut kerja sama dengan mitra serta upaya menghadirkan investor baru menjadi salah satu jalur penting. Pengembangan bisnis yang dilakukan PTPN I Regional 2 diarahkan agar perusahaan dapat memperluas kapasitas usahanya, namun tetap menjaga kesinambungan manfaat bagi masyarakat dan wilayah.
Gagasan ini menempatkan investasi sebagai instrumen pengungkit. Namun, fokusnya tidak sekadar menambah skala usaha, melainkan memastikan pengembangan berjalan terhubung dengan kebutuhan daerah. Misalnya, ketika bisnis perkebunan dikembangkan, peluang pekerjaan dan aktivitas ekonomi pendamping cenderung ikut terbuka, sehingga dampaknya tidak berhenti pada internal perusahaan.
Abdul Rivai menegaskan bahwa pengembangan bisnis perkebunan tetap diarahkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Prinsip tersebut mencakup lingkungan, sosial, hingga tata kelola perusahaan. Ia menyampaikan pandangan bahwa pengembangan yang benar harus tetap berada dalam bingkai yang tepat, khususnya ketika perusahaan memperluas aktivitas di sektor perkebunan.
Penekanan pada lingkungan, sosial, dan tata kelola ini relevan karena kawasan Puncak dikenal memiliki karakter ekologis yang kuat. Pengelolaan yang hanya mengejar hasil ekonomi berisiko menimbulkan masalah lingkungan, sementara pendekatan yang lebih berimbang berpotensi menjaga kualitas kawasan sekaligus memastikan manfaat ekonomi berjalan dalam jangka panjang.
Asisten Manager Legal dan Umum PTPN I Regional 2, Asep Zaenal Muttaqin, menambahkan bahwa pengelolaan kawasan perkebunan di Puncak, Megamendung, dan Cisarua telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Salah satu bentuk manfaat yang disebutnya adalah pengembangan ekowisata berbasis alam.
Ia mencontohkan Eiger Nature sebagai inisiatif yang mengusung konsep edukasi dan ramah lingkungan, sekaligus melibatkan pemberdayaan tenaga kerja masyarakat. Lewat model seperti ini, kawasan perkebunan tidak hanya berfungsi sebagai lokasi produksi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan kegiatan yang relevan dengan minat wisata berbasis alam.
“Kami melihat hadirnya Eiger Nature ini berperan menjaga alam dan memberikan manfaat serta berkolaborasi dengan masyarakat. Tentunya, kita jaga alam dan alam jaga kita,” kata Asep Zaenal Muttaqin.
Dalam paparan yang sama, pengembangan sektor perkebunan disebut mampu mendukung ketahanan pangan dan energi. Ini berkaitan dengan peran komoditas perkebunan dalam rantai kebutuhan pangan maupun energi, serta potensi peningkatan produktivitas melalui investasi yang lebih baik.
Selain itu, pengembangan kawasan perkebunan juga disebut membuka lapangan pekerjaan. Dampaknya bisa terasa langsung di tingkat warga sekitar, terutama saat aktivitas usaha bertambah dan kebutuhan tenaga kerja meningkat. Pada saat yang sama, penguatan tata kelola dan penerapan prinsip keberlanjutan membantu memastikan pengembangan tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan maupun hubungan sosial dengan masyarakat setempat.
Dengan model pengembangan yang menggabungkan investasi, kerja sama mitra, serta keberlanjutan, kawasan perkebunan di wilayah Puncak dan sekitarnya diposisikan sebagai aset ekonomi daerah yang lebih luas manfaatnya. Fokusnya tidak hanya pada bisnis perusahaan, tetapi juga pada nilai yang dapat dirasakan masyarakat melalui pengelolaan kawasan dan aktivitas ekonomi yang lahir di dalamnya.






Tidak ada komentar