
INFOSENTULCITY.ID – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyatakan operasi modifikasi cuaca belum dapat diterapkan untuk membantu pemadaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Galuga. Upaya tersebut sempat diminta untuk menghadirkan hujan di sekitar lokasi, namun pelaksanaannya bergantung pada kondisi awan yang tersedia.

Rudy menjelaskan bahwa semua tahapan penanganan telah diminta, termasuk mekanisme modifikasi cuaca. Namun, menurut penjelasan yang diterima Pemkab Bogor, intervensi hujan tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena memerlukan bibit awan yang dapat diproses agar menghasilkan hujan.
Rudy menegaskan bahwa modifikasi cuaca tidak sekadar “memerintahkan hujan”. Prosesnya membutuhkan keberadaan bibit awan yang potensial untuk diintervensi. Ketika bibit awan yang sesuai tidak tersedia, operasi tersebut tidak dapat dipaksakan.
Dalam penjelasan yang ia terima, kunci utamanya adalah kemampuan untuk “memecahkan” bibit awan agar berubah menjadi hujan. Jika tidak ada bibit awan yang memenuhi syarat, maka rencana modifikasi cuaca tidak bisa dijalankan, karena hasilnya tidak terjamin dan berisiko tidak efektif.

Karena modifikasi cuaca belum memungkinkan, penanganan kebakaran diarahkan melalui jalur darat. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bogor bersama tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman di area terdampak.
Selain upaya darat, pemadaman juga dilakukan dari udara. TNI Angkatan Udara dikerahkan menggunakan sistem water bombing dengan helikopter untuk membantu menekan titik api agar tidak melebar ke area lain.
Rudy menyampaikan bahwa kombinasi kedua metode tersebut dilakukan untuk mempercepat penuntasan titik api. Dengan kondisi di TPA yang melibatkan material sampah, proses pemadaman biasanya membutuhkan penanganan berlapis agar api tidak kembali muncul di titik yang masih menyala.
Kebakaran di TPA Galuga pertama kali terjadi pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Api awalnya berasal dari lahan pertanian di sekitar TPA sebelum kemudian merambat ke kawasan pembuangan sampah.
Menurut laporan Pusdalops BPBD Kabupaten Bogor yang diterima BNPB, luas lahan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 42 hektare. Angka ini masih dalam proses pendataan lebih lanjut, mengingat pemantauan lapangan dan verifikasi dampak memerlukan waktu.
Hingga hari keenam, api belum sepenuhnya padam di beberapa titik. Kepulan asap masih terlihat di kawasan TPA Galuga, yang menunjukkan bahwa proses pendinginan dan pembersihan titik panas masih terus berlangsung.
Penjelasan Rudy memberi gambaran bahwa strategi penanganan kebakaran berbasis cuaca memiliki syarat teknis. Ketika kondisi awan tidak mendukung, maka rencana modifikasi cuaca tidak menjadi pengganti utama pemadaman, melainkan hanya opsi yang dapat dijalankan jika parameter lapangan terpenuhi.
Dengan demikian, fokus tetap berada pada kerja tim di lapangan, baik melalui pemadaman darat maupun water bombing dari udara. Upaya tersebut juga menjadi penentu agar titik api cepat ditangani, sekaligus mengurangi potensi kepulan asap yang mengganggu lingkungan sekitar.
Rudy memastikan seluruh upaya terus dikerahkan untuk mempercepat penuntasan titik api di TPA Galuga, sementara proses evaluasi kondisi cuaca tetap menjadi pertimbangan untuk kemungkinan intervensi berikutnya.






Tidak ada komentar