Kekeringan Bogor diperkirakan puncak Oktober 2026, BPBD siapkan bantuan air

4 menit membaca View : 11
Abdul Halim
Bogor, News - 03 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Kekeringan di Kabupaten Bogor diperkirakan semakin meningkat pada periode akhir tahun, dengan puncak kondisi kering yang semula diramal September bergeser ke Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menyebut lonjakan kebutuhan air bersih sudah mulai terasa di banyak wilayah, seiring dampak musim kemarau yang makin panjang.

Hingga Kamis, 3 September 2026, BPBD mencatat permintaan bantuan air bersih dari 32 kecamatan. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bogor, Ade Hasrat, menilai masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah area mulai mengalami dampak kekeringan yang lebih berat dibanding sebelumnya.

Permintaan air bersih sudah masuk 32 kecamatan

Ade menjelaskan bahwa wilayah yang mulai merasakan dampak cukup serius berada di Bogor bagian timur dan barat. Di Bogor Timur, kekeringan mulai terasa pada wilayah seperti Tanjungsari, Cariu, dan Jonggol. Sementara itu, di Bogor Barat, dampak mulai mengemuka di Tenjolaya, Parung Panjang, serta sebagian Cigudeg.

Menurut Ade, pola persebaran ini menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya bersifat sporadis, melainkan bergerak mengikuti kondisi ketersediaan sumber air. Ketika pasokan menurun, kebutuhan bantuan umumnya akan meningkat, terutama pada daerah yang bergantung pada sumber air yang rentan terhadap penurunan debit.

“Yang sekarang mulai terasa parah itu di Bogor bagian timur dan barat. Bogor Timur itu Tanjungsari, Cariu, Jonggol. Kalau di bagian baratnya itu di Tenjolaya, Parung Panjang, dengan sebagian Cigudeg,” ujar Ade.

Kemarau panjang mulai memengaruhi debit sungai

Tak hanya mengancam ketersediaan air bersih untuk warga, musim kering juga mulai berdampak pada debit sungai di Kabupaten Bogor. Ade menuturkan penurunan debit terjadi karena sumber air di wilayah hulu ikut mengalami penurunan.

Dalam penanganan isu sungai, BPBD juga telah melakukan koordinasi terkait kondisi tersebut. Ade menekankan bahwa bila sumber air dari hulu benar-benar berkurang, maka debit sungai akan ikut turun secara signifikan. Dengan kata lain, persoalan kemarau tidak berhenti pada layanan bantuan air, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ketersediaan air di sistem alami.

“Kalau masalah sungai, kita sudah pernah rapat juga dengan BBWS. Kalau sumber airnya dari hulunya memang sudah tidak ada, otomatis pasti sungai juga debitnya berkurang drastis,” jelas Ade.

Jika kemarau berlangsung hingga memasuki puncaknya pada Oktober, kondisi ini berpotensi membuat tekanan terhadap layanan air bersih semakin besar. Daerah yang sebelumnya masih mampu bertahan dari sumber lokal bisa ikut terdampak ketika debit makin menurun.

Kekeringan 2026 mirip pola 2023

Ade menyebut ada kemiripan antara kekeringan pada 2026 dengan kondisi pada 2023. Pada 2023, kekeringan menjadi salah satu yang terberat dalam beberapa tahun terakhir dan dampaknya meluas hingga hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Bogor.

Pada saat itu, BPBD harus mendistribusikan sekitar 8 juta liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Ade menggambarkan adanya pola siklus yang berulang, dengan tahun terberat pada 2023 menjadi pembanding yang relevan untuk mengantisipasi kondisi mendatang.

“Memang sepertinya ada siklus per tiga tahunan. Yang dulu terberat itu tahun 2023, hampir sama seperti ini. Kita bahkan sampai mengeluarkan 8 juta liter tahun 2023,” ungkap Ade.

Meskipun cakupan wilayah terdampak pada 2026 sejauh ini belum separah 2023, Ade mengingatkan bahwa kondisi ini belum mencapai puncak kekeringan. Artinya, lonjakan kebutuhan air bersih masih mungkin terjadi seiring masuknya fase puncak pada Oktober.

BPBD mengantisipasi puncak kemarau bergeser ke Oktober

Dengan prediksi puncak kekeringan yang bergeser ke Oktober, BPBD Kabupaten Bogor mulai menyiapkan langkah menghadapi kemungkinan meningkatnya permintaan bantuan air bersih. Saat ini permintaan bantuan sudah menjangkau 32 kecamatan, dengan wilayah Bogor Timur dan Bogor Barat yang mulai menunjukkan dampak lebih serius.

Ade menyebut bahwa cakupan wilayah terdampak berpotensi semakin luas apabila kemarau terus berlanjut hingga puncak. Ia juga memperkirakan hingga fase puncak, wilayah terdampak bisa mendekati kisaran sekitar 40 kecamatan, meski saat ini masih belum sampai puncaknya.

“Sampai puncaknya, (hampir 40 kecamatan). Sekarang kan belum sampai puncaknya,” pungkas Ade.

Perpindahan puncak dari September ke Oktober menjadi sinyal penting bagi warga dan pemangku kepentingan daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan, termasuk pengaturan distribusi air, pemantauan wilayah yang mulai mengalami penurunan pasokan, serta langkah penghematan air secara bertahap.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x