
INFOSENTULCITY.ID – Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim meninjau proyek Leuweung Batutulis di Jalan Saleh Danasasmita, Kecamatan Bogor Selatan, Senin, 31 Agustus 2026. Dalam peninjauan tersebut, ia menilai konsep yang berjalan belum sejalan dengan gagasan awal sebagai hutan kota.

Dedie mengatakan, penataan yang ada saat ini lebih menyerupai taman kota karena menyediakan fasilitas publik seperti jogging track. Ia menilai kondisi itu berpotensi mengundang kerumunan, memicu persoalan baru, hingga mengganggu daya dukung lingkungan di kawasan yang masih dalam tahap pembangunan.
Dedie mengungkapkan bahwa di lapangan, elemen yang terlihat belum mencerminkan karakter “Leuweung Batutulis” sebagaimana konsep yang diusung. Menurutnya, nama dan identitas kawasan seharusnya melekat pada ciri hutan kota, termasuk penggunaan tanaman asli wilayah setempat agar tampil asri sekaligus memiliki nilai ekologis.
Ia juga menilai pendekatan desain yang terlalu menonjolkan fasilitas publik dapat menggeser tujuan utama kawasan. Jika fokus lebih besar pada aktivitas pengunjung, fungsi penghijauan dan penataan lanskap sebagai hutan kota dikhawatirkan tidak tercapai secara optimal.

Wali Kota Bogor menyatakan kekhawatirannya bila desain seperti sekarang tetap dipertahankan. Ia memperkirakan kawasan dapat menjadi magnet kerumunan, terutama saat akhir pekan, sehingga memunculkan dampak lanjutan yang tidak diinginkan.
Di antaranya, kemungkinan munculnya pedagang kaki lima dan peningkatan timbulan sampah. Dedie menilai, masalah-masalah tersebut bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan juga dapat mengubah wajah kawasan dan menimbulkan beban pengelolaan baru bagi lingkungan sekitar.
Dedie menekankan perlunya penyesuaian desain. Ia menyarankan fasilitas yang ditujukan untuk aktivitas publik agar dikurangi, sementara ruang penghijauan diperbanyak. Dengan begitu, fungsi utama kawasan dapat kembali ke konsep awal, yaitu hutan kota yang mendukung keteduhan, keanekaragaman vegetasi, dan kenyamanan ekologis.
Dalam pandangannya, penataan yang lebih menonjolkan penghijauan juga akan lebih selaras dengan tujuan kawasan yang dinamai Leuweung Batutulis. Penataan yang tepat, menurutnya, akan membuat kawasan tampak estetik, sekaligus tetap ramah lingkungan.
Dedie juga menegaskan bahwa kawasan tersebut tidak dimaksudkan menjadi pusat aktivitas warga. Ia menyebut, bila tujuan utamanya adalah menikmati pemandangan Gunung Salak, maka cukup disediakan satu spot pandang saja, bukan area yang mendorong kerumunan besar.
Ia khawatir, jika kawasan dirancang untuk menampung banyak orang, maka justru akan menjadi beban bagi lokasi itu sendiri. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kapasitas lingkungan dan potensi gangguan terhadap ketertiban serta kenyamanan di sekitar area.
Dedie menilai, kendati proyek masih berlangsung, kawasan sudah mulai menarik kerumunan warga, terutama pada akhir pekan. Ia menyebut dampak yang mengikuti kerumunan tersebut, mulai dari kemacetan lalu lintas hingga bertambahnya peluang PKL di sekitar lokasi.
Lebih jauh, ia juga mengingatkan potensi longsor susulan. Dedie menjelaskan bahwa di bawah kawasan Leuweung Batutulis terdapat jalur underpass. Jika bagian atas dipadati aktivitas publik yang masif, ada risiko memicu masalah baru yang bertentangan dengan daya dukung lingkungan.
Selain itu, ia meminta kendaraan tidak diparkir di satu titik secara berlebihan karena dapat membebani badan jalan. Pengaturan parkir, menurutnya, perlu menjadi perhatian agar tidak menambah tekanan pada infrastruktur yang ada.
Dedie mengatakan masukan tersebut telah ia sampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan konsultan. Ia berharap penyesuaian segera dilakukan agar desain benar-benar mengarah pada kondisi ideal yang diinginkan, yakni hutan kota. Ia menegaskan bahwa persepsi sejak awal adalah Leuweung Batutulis sebagai hutan kota, sehingga dasar pelaksanaan pembangunan harus kembali pada konsep tersebut.
Dengan penyesuaian desain yang tepat, kawasan diharapkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga aman, tertata, dan mampu menjalankan fungsi ekologisnya tanpa memunculkan persoalan baru bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.






Tidak ada komentar