Karhutla Sumatera Selatan, Prabowo setujui 500 pompa dan 100 motor trail

5 menit membaca View : 9
Abdul Halim
Berita, News - 26 Agu 2026

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mendapat tambahan dukungan dari pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto menyetujui pengiriman ratusan peralatan untuk mempercepat pemadaman, terutama di titik api yang sulit dijangkau.

Persetujuan itu disampaikan dalam rapat pencegahan dan penanganan karhutla di Gedung VVIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Senin 24 Agustus 2026. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru melaporkan sekitar 1.900 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026, dan masih tersisa sekitar 200 hektare yang membutuhkan penanganan intensif.

Prabowo setujui 500 mesin pompa dan selang untuk pemadaman darat

Dalam rapat tersebut, kebutuhan utama yang disampaikan Herman Deru adalah mesin pompa dan selang. Peralatan ini dinilai krusial untuk mengoptimalkan sumber air di wilayah rawan karhutla, termasuk pemanfaatan sumur bor. Dengan adanya pompa dan selang, tim pemadam dapat menarik air lebih efektif lalu mengalirkan ke area yang menjadi titik api atau yang berpotensi menjadi perluasan.

Prabowo menyetujui pengiriman 500 mesin pompa dan selang. Penambahan ini diharapkan memperkuat kemampuan pemadaman dari darat, khususnya ketika akses menuju lokasi terbakar tidak mudah dan jarak sumber air ke titik api menjadi tantangan. Selain itu, ketersediaan peralatan yang lebih banyak juga memungkinkan operasi dilakukan lebih cepat, karena pekerjaan pengangkutan dan distribusi air bisa ditangani dengan dukungan unit pompa yang lebih memadai.

Mobilitas petugas diperkuat, Prabowo kirim 100 motor trail

Selain kebutuhan pemadaman berbasis air, rapat juga membahas aspek mobilitas petugas. Herman Deru meminta 50 motor trail yang dapat menjangkau wilayah sulit sekaligus dimodifikasi untuk kebutuhan pemadam. Namun, Prabowo menyetujui jumlah yang lebih besar, yaitu 100 motor trail.

Motor trail tersebut dirancang untuk membantu petugas menuju lokasi yang tidak bisa dilalui kendaraan berukuran besar. Kendaraan juga disebut telah dimodifikasi agar dapat membawa alat pemadam api ringan (APAR). Dengan skema ini, respons awal ketika muncul titik api dapat dilakukan lebih cepat, karena petugas tidak harus menunggu kendaraan besar atau menempuh jarak jauh dengan hambatan medan.

Dalam konteks karhutla, kecepatan penjangkauan sering menentukan apakah api dapat dipadamkan sebelum meluas. Karena itu, penambahan motor trail dengan fungsi membawa APAR menjadi langkah yang lebih praktis untuk penguatan di lapangan, terutama di area yang berkarakter gambut dan memiliki jaringan akses terbatas.

Ekskavator 20 unit untuk kanal dan sekat, bukan hanya saat api aktif

Upaya pemadaman juga diperkuat lewat penambahan alat berat. Pemerintah menyetujui pengiriman 20 unit ekskavator untuk mendukung pembuatan kanal dan penyekatan lahan. Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, sebelumnya mengusulkan kebutuhan tersebut agar api tidak menjalar ke wilayah lain melalui jalur yang memudahkan perambatan.

Ekskavator dengan fungsi membuat kanal dan sekat biasanya menjadi bagian dari strategi penahanan, karena karhutla kerap berkaitan dengan kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar. Kanal dapat membantu mengelola kelembapan lahan serta mendukung ketersediaan air, sedangkan sekat berfungsi memutus potensi perambatan ke area yang lebih luas.

Lima helikopter water bombing tetap dipakai untuk titik api yang sulit

Selain penguatan di darat, pemerintah juga mempertahankan operasi pemadaman dari udara. Sebanyak lima helikopter water bombing tetap dikerahkan untuk menangani titik api yang sulit dijangkau. Prabowo dinilai tidak perlu menambah jumlah helikopter karena lima unit yang tersedia dianggap cukup untuk menangani sisa area terbakar sekitar 200 hektare.

Setiap helikopter water bombing disebut dapat membawa sekitar empat ton air dalam satu kali operasi. Dengan sejumlah sorti penerbangan, kapasitas pemadaman dari udara diperkirakan mencapai sekitar 1.200 ton air per hari. Targetnya, sisa lahan yang terbakar dapat dipadamkan dalam pekan tersebut, sehingga fase pemadaman dapat segera ditutup dan beralih ke tahap pencegahan.

Karhutla Sumsel berakar pada tantangan gambut dan penegakan tanggung jawab

Penanganan karhutla di Sumatera Selatan tidak bisa dipandang sebagai urusan pemadaman semata. Salah satu persoalan utama adalah luasnya kawasan gambut yang rawan terbakar. Dalam rapat disebutkan luas lahan gambut di Sumsel sekitar 1,27 juta hektare, dengan konsentrasi sekitar 600 ribu hektare di Ogan Komering Ilir dan sekitar 600 ribu hektare lainnya di Musi Banyuasin, sementara sisanya tersebar di wilayah lain.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan respons ketika api sudah muncul. Upaya pencegahan juga mencakup pembangunan serta pemeliharaan kanal air gambut untuk menjaga kelembapan lahan dan memastikan ketersediaan sumber air saat kebakaran terjadi. Selain kerja teknis di lapangan, tanggung jawab juga diarahkan kepada pihak yang memegang konsesi, agar pengelolaan wilayah tidak berujung pada risiko kebakaran berulang.

Herman Deru menegaskan bahwa pihak yang melanggar akan ditindak tegas, termasuk kemungkinan pencabutan izin. Penegakan ini penting karena karhutla sering dipicu faktor kelalaian maupun pelanggaran yang berulang, sehingga tanpa kontrol yang konsisten, pemadaman dapat berakhir pada siklus api muncul kembali.

Fokus pemadaman pada 200 hektare, peralatan baru jadi penentu target pekan ini

Dengan sisa sekitar 200 hektare lahan yang masih terbakar, efektivitas penambahan peralatan menjadi faktor penentu dalam mengejar target pemadaman dalam pekan berjalan. Kombinasi 500 mesin pompa, 100 motor trail, dan 20 ekskavator akan memperkuat operasi dari berbagai sisi, dari penguatan suplai air, percepatan mobilitas petugas, hingga strategi penahanan agar api tidak menjalar.

Namun, pekerjaan tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Tahap berikutnya adalah pencegahan agar titik api tidak kembali muncul, terutama di wilayah gambut yang memiliki karakter mudah kering dan berpotensi menyimpan bara. Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla di Sumsel akan ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan pemadaman cepat dengan langkah pascapemadaman yang terencana.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x