Sungai Cileungsi Bogor menghitam dan berbau kimia, diduga limbah industri

4 menit membaca View : 7
Abdul Halim
News, Peristiwa - 18 Okt 2026

Aliran Sungai Cileungsi di Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, menghitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat pada Minggu, 18 Oktober 2026 sekitar pukul 10.00 WIB. Perubahan warna ini disertai peningkatan debit air, padahal tidak ada hujan selama beberapa hari, sehingga warga dan relawan lingkungan mulai mengaitkannya dengan kemungkinan pencemaran dari aktivitas industri di sekitar hulu.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) Puarman menyatakan kejadian tersebut kembali memicu keresahan karena dampaknya pernah muncul sebelumnya, termasuk pada pertengahan September 2026. Melalui penelusuran lapangan, KP2C menilai ada dugaan kuat pembuangan limbah industri secara langsung, dengan titik indikasi mengarah ke area sekitar Jembatan Cikuda, Wanaherang.

Perubahan warna sungai disertai bau kimia dan debit naik

Menurut Puarman, kondisi sungai pada Sabtu sebelumnya masih terlihat normal. Namun pada Minggu pagi, air berubah menjadi hitam pekat dan aromanya tercium menyengat, seperti bau kimia. Pada saat yang sama, debit air ikut meningkat, padahal warga di sekitar lokasi menyebutkan tidak ada hujan selama empat hari sehingga penjelasan “limpasan cuaca” menjadi kurang relevan.

Fenomena seperti ini biasanya sulit dipahami warga awam karena perubahan yang terjadi mendadak, tidak bertahap, dan disertai karakter bau yang tajam. Ketika air menghitam dan berbau, masyarakat cenderung mengaitkannya dengan masuknya zat tertentu ke badan sungai, terutama bila muncul bersamaan dengan kenaikan volume air.

Dugaan limbah industri dari area sekitar Jembatan Cikuda

KP2C melakukan penelusuran ke arah hulu untuk mencari sumber yang paling mungkin. Puarman menyebut bahwa indikasi pencemaran mengarah ke area sekitar Jembatan Cikuda di Wanaherang. Ia menilai sumbernya kemungkinan berasal dari area di atas jembatan tersebut, mengingat pola perubahan air yang bergerak mengikuti arah aliran.

Ia juga menyampaikan dugaan bahwa limbah yang masuk diduga berasal dari beberapa perusahaan yang beroperasi di sekitar Wanaherang. Dalam konteks pencemaran sungai, beberapa titik sumber sering kali membuat pola warna dan bau tidak sepenuhnya seragam, tetapi tetap menunjukkan karakter kimia yang menonjol.

Dampak ke ekosistem: ikan mabuk hingga mati

Puarman menambahkan bahwa pencemaran tidak hanya mengubah tampilan air, tetapi juga memengaruhi kehidupan di sungai. Ia menyebut ikan-ikan mulai tampak mabuk, lalu ada yang mati. Kondisi tersebut, menurutnya, diiringi bau yang sangat menyengat, sehingga warga menduga ada “stok limbah” yang dibuang pada hari libur.

Jika benar terjadi pembuangan pada hari libur, ada kemungkinan proses pengelolaan limbah industri tidak berjalan optimal atau terjadi penundaan, lalu “dilepas” ketika aktivitas operasional kembali. Pola ini sering membuat kejadian pencemaran terasa lebih mendadak dibandingkan pelepasan yang berlangsung terus-menerus.

Keberulangan kasus pada September 2026 memperbesar kekhawatiran

Puarman menyatakan pencemaran serupa pernah terjadi pada pertengahan September 2026 dan menimbulkan kerusakan serius pada tata kehidupan masyarakat serta ekosistem sungai. Keberulangan kejadian seperti ini memperkuat kekhawatiran bahwa masalah tidak berdiri sebagai insiden tunggal, melainkan bagian dari persoalan pengelolaan limbah di hulu.

Bagi warga sekitar, pengaruh pencemaran sungai biasanya tidak berhenti pada satu momen air menghitam. Aktivitas perairan yang terganggu, potensi penurunan kualitas air untuk kebutuhan sehari-hari, serta ketakutan terhadap kontaminasi menjadi beban sosial yang terasa berulang ketika kejadian datang kembali.

Pengaruh langsung bagi warga Gunungputri dan sekitarnya

Di Kecamatan Gunungputri, perubahan kondisi sungai dapat berdampak pada aktivitas warga yang berhubungan dengan aliran Cileungsi, baik untuk kegiatan sekitar bantaran maupun ekosistem yang selama ini menjadi bagian dari keseharian. Ketika air berubah warna dan berbau kimia, warga cenderung menjauh, sementara hewan air dan organisme di sungai ikut terdampak, terlihat dari ikan yang mabuk hingga mati.

Dengan debit yang meningkat, jangkauan pencemaran berpotensi melebar lebih cepat. Artinya, selain titik dekat sumber, area hilir juga berpeluang menerima dampak dalam waktu lebih singkat, sehingga pengamatan warga dan respons cepat dari pihak terkait menjadi krusial.

Langkah penelusuran KP2C dan fokus pencarian titik sumber

KP2C menekankan bahwa penelusuran dilakukan dengan memetakan perubahan air mengikuti arah aliran dari bagian hulu. Pendekatan ini membantu menyempitkan dugaan sumber, terutama ketika karakter air menghitam dan bau kimia muncul serempak.

Dalam kasus seperti ini, fokus pada lokasi indikatif, seperti sekitar Jembatan Cikuda Wanaherang, menjadi penting untuk mempercepat verifikasi lapangan. Namun, selain penelusuran visual dan pengamatan bau, diperlukan pemeriksaan lanjutan agar penyebab dan pelaku pembuangan limbah dapat dipastikan secara tepat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x