
INFOSENTULCITY.ID – Nahlatul Ula, perempuan berusia 22 tahun, memilih jalan berbeda dari sekadar menjadi karyawan. Di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, ia membangun usaha kuliner bernama Warung Gen Z yang menyasar selera anak muda.

Warung yang sudah berjalan sekitar tiga tahun ini menyediakan beragam makanan dan minuman, mulai dari jus, boba coffee, hingga smoothies. Ula menamai usahanya dengan pertimbangan usia dan kedekatannya dengan generasi Z, sekaligus agar konsep warung terasa relevan dengan pelanggan yang lebih muda.
Warung Gen Z hadir sebagai tempat singgah dengan pilihan menu yang akrab di lidah anak muda. Dari minuman berbasis buah seperti jus, pilihan kopi kekinian seperti boba coffee, sampai smoothies, seluruhnya dirancang agar pelanggan bisa menemukan rasa yang sedang tren.
Meski usahanya tergolong baru bagi sebagian orang karena pemiliknya masih sangat muda, Ula menampilkan cara pandang yang praktis. Ia tidak hanya mengejar keramaian, tetapi juga menyesuaikan produk dengan kebiasaan konsumsi yang berkembang di kalangan Gen Z, terutama yang menyukai minuman segar dan variasi rasa.

Dalam penuturannya saat ditemui di lokasi usaha, Ula menjelaskan pemilihan nama Warung Gen Z berangkat dari identitas dirinya yang masih muda. Ia merasa nama tersebut memiliki daya tarik dan selaras dengan usia serta karakter generasi yang sedang ia jalani.
Dengan begitu, nama warung bukan sekadar label, melainkan bagian dari narasi yang ingin dibangun. Pelanggan yang datang bisa langsung menangkap bahwa tempat ini memang ditujukan untuk gaya hidup anak muda, bukan konsep yang dipaksakan untuk audiens yang berbeda.
Keputusan merintis usaha sejak muda ternyata tidak datang tanpa hambatan. Ula mengaku sempat mendapat pandangan dari orang-orang di sekitarnya yang menyarankan agar ia bekerja ikut orang dan menerima gaji rutin.
Namun, saran tersebut tidak membuatnya mundur. Ia memilih untuk mencoba membangun usaha sendiri, meski pada awalnya tantangannya pasti terasa. Baginya, keberanian untuk mengambil langkah menjadi bagian dari proses belajar yang tidak bisa didapat hanya dari rutinitas pekerjaan sebagai karyawan.
Salah satu alasan yang membuat Ula tetap bertahan adalah fleksibilitas waktu. Ia menilai dengan memiliki usaha sendiri, ia memiliki ruang lebih luas untuk mengatur aktivitas harian, termasuk menentukan waktu libur sesuai kebutuhan.
Di sisi lain, merintis usaha tidak berhenti pada pembukaan. Ula mengatakan ia terus belajar dan mengembangkan Warung Gen Z secara bertahap. Proses itu membantunya memahami kebutuhan pelanggan dan menyusun cara agar usaha tetap berjalan serta bisa beradaptasi dari waktu ke waktu.
Setelah sekitar tiga tahun beroperasi, Ula tetap mematok arah perkembangan. Ia berharap Warung Gen Z dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak pelanggan di wilayah lain.
Rencana yang ia sebutkan juga cukup spesifik, yaitu membuka cabang di lokasi lain. Dengan target tersebut, Warung Gen Z tidak berhenti sebagai usaha skala kecil di Ciampea, melainkan diarahkan untuk memperluas jangkauan dan memberi kesempatan lebih luas bagi pelanggan yang ingin merasakan menu kekinian yang disediakan.






Tidak ada komentar