Video lama Prabowo soal rakyat mengutuk jika bohong kembali viral

4 menit membaca View : 7
Abdul Halim
Berita, News - 04 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Video lama Presiden Prabowo Subianto yang berisi pernyataan tegas soal konsekuensi jika dirinya berbohong mendadak kembali viral di media sosial. Dalam potongan pidato tersebut, Prabowo menegaskan bahwa rakyat akan mengutuk dan menghardiknya bila ia menyampaikan kebohongan atau omongannya dinilai kosong.

Rekaman yang beredar ini menarik perhatian karena kini Prabowo berada pada posisi Presiden RI, sehingga ucapan lama dipertemukan dengan realitas kebijakan dan situasi pemerintahan yang sedang berjalan. Respons publik pun beragam, mulai dari yang menyoroti sisi konsistensi pemimpin sampai yang menilai kemunculan ulang video belum otomatis membuktikan sesuatu.

Potongan pidato lama yang kembali viral

Dalam video yang kembali diputar, Prabowo terdengar menyampaikan kalimat bernada keras mengenai tanggung jawab politiknya. Ia menyebut, bila Prabowo berbohong atau omongannya dianggap omong kosong, rakyat Indonesia yang akan mengutuk, menghardik, hingga mengungkapkan penolakan secara langsung.

Di bagian lain, ia juga menyatakan keyakinannya untuk membawa perubahan bagi rakyat. Ia menekankan bahwa keputusan dan langkahnya berdiri di atas keyakinan pribadi yang, menurutnya, paling dalam. Selain itu, Prabowo menyampaikan bahwa pernyataannya selama bertahun-tahun telah terekam, termasuk saat ia berbicara di televisi dan disaksikan jutaan orang.

Kenapa pernyataan lama bisa terasa “baru” saat ini

Meski rekaman tersebut bukan pernyataan terbaru, konteks saat ini membuatnya kembali mendapat sorotan. Saat masih menjadi figur politik, pidato seperti itu biasanya berfungsi sebagai upaya meyakinkan publik tentang arah dan komitmen. Namun ketika seseorang telah memegang kekuasaan, publik cenderung membaca ulang kalimat-kalimat lama sebagai semacam “kontrak moral” yang diuji melalui kebijakan.

Karena itu, bagian ketika Prabowo menyebut rakyat akan mengutuk jika ia berbohong, bagi sebagian orang, tidak lagi dipahami sekadar sebagai retorika kampanye. Pernyataan tersebut kemudian dibandingkan dengan kinerja pemerintahan dan berbagai persoalan yang tengah menjadi perhatian publik.

Respons warganet dan pergeseran cara menilai

Viralnya video ini memperlihatkan bagaimana ruang publik bekerja. Ucapan yang pada awalnya mungkin dimaksudkan sebagai penegasan komitmen, bisa bertahan lama dan kembali muncul ketika ada momentum politik atau isu tertentu. Dalam kasus ini, warganet menggunakan rekaman sebagai bahan diskusi untuk menilai sejauh mana janji dan narasi lama bersesuaian dengan perjalanan kebijakan setelah Prabowo menjadi Presiden.

Namun tidak semua respons bersifat menyimpulkan. Ada pula yang menilai bahwa kemunculan video tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa Prabowo telah berbohong. Mereka lebih menekankan perlunya melihat fakta kebijakan, dampaknya, serta konteks saat pernyataan itu disampaikan.

Perbedaan posisi politik mengubah bobot pernyataan

Yang membedakan situasi sekarang adalah posisi Prabowo. Ketika pidato itu disampaikan, ia berada di panggung politik dengan gagasan dan janji perubahan. Saat ini, ia berada di kursi kekuasaan, sehingga publik melihat setiap pernyataan lama memiliki konsekuensi yang lebih nyata, bukan hanya sebagai slogan.

Dengan kata lain, pertanyaan yang muncul bukan sekadar apakah kalimat itu tegas atau tidak, melainkan bagaimana publik menilai konsistensi antara ucapan, janji, dan realitas yang terjadi. Pernyataan tentang “ucapan direkam” juga ikut mempengaruhi cara orang membaca ulang rekaman, karena publik merasa memiliki arsip untuk menilai perjalanan seorang pemimpin dari waktu ke waktu.

Publik menilai, tetapi perlu kerangka yang adil

Walau video viral memicu perdebatan, ada satu hal yang tampak jelas, yaitu publik ingin melihat pertanggungjawaban. Pesan yang disampaikan Prabowo dalam pidato itu sendiri berkaitan dengan tanggung jawab moral kepada rakyat. Saat rekaman muncul kembali, publik memperoleh kesempatan untuk membandingkan narasi lama dengan perkembangan kebijakan dan hasil yang dirasakan.

Meski begitu, penilaian yang adil tetap membutuhkan kehati-hatian. Viral tidak selalu berarti benar atau salah, dan konteks kebijakan juga tidak bisa diabaikan. Yang paling penting, diskusi publik semestinya mengarah pada evaluasi substansi, bukan sekadar emosi dari potongan video.

Implikasi bagi komunikasi politik pemimpin

Kasus ini juga memberi gambaran tentang bagaimana komunikasi politik modern bekerja. Pernyataan yang dulu disampaikan dalam forum publik bisa bertahan bertahun-tahun, lalu kembali menjadi bahan sorotan ketika publik ingin menguji konsistensi. Bagi pemimpin, ini menjadi pengingat bahwa setiap kata yang disampaikan kepada masyarakat berpotensi diuji ulang saat masa kepemimpinan berjalan.

Pada akhirnya, video lama Prabowo soal rakyat yang akan mengutuk bila ia berbohong kembali viral bukan hanya karena potongannya terdengar tegas, tetapi karena ia memantik pertanyaan tentang kesesuaian antara janji politik dan kenyataan yang dialami masyarakat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x