Trotoar Jalan Bomang Bogor Diusulkan Warga untuk Keselamatan Pejalan Kaki

4 menit membaca View : 7
Abdul Halim
Bogor, News - 05 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Jalan Bomang, koridor Bojonggede-Kemang di Kabupaten Bogor, kembali menjadi sorotan setelah sejumlah warga mendorong pembangunan trotoar. Usulan ini muncul karena jalur tersebut sering dilalui pejalan kaki dan pelari, sementara fasilitas khusus untuk mereka dinilai belum memadai dan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.

Dalam penyampaiannya kepada Bupati Bogor Rudy Susmanto, seorang warga meminta agar bagian pinggir Jalan Bomang dibangun trotoar. Harapannya, aktivitas berjalan kaki maupun jogging bisa dilakukan dengan lebih aman dan nyaman, tanpa harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor yang melintas setiap hari.

Alasan warga, pejalan kaki dan pelari perlu ruang yang aman

Jalan Bomang dikenal sebagai jalur padat yang menghubungkan wilayah Bojonggede dengan Kemang. Kepadatan ini membuat arus kendaraan roda dua maupun roda empat cukup ramai, sementara ruas khusus untuk pejalan kaki maupun pesepeda belum tersedia. Akibatnya, warga yang ingin berjalan kaki atau berolahraga kerap terpaksa berada di badan jalan.

Menurut pemilik akun Instagram @kumissakti yang menyampaikan aspirasinya, tidak semua warga memiliki kendaraan pribadi. Sebagian orang memilih berjalan atau berlari untuk aktivitas harian, sehingga keberadaan trotoar menjadi kebutuhan nyata, bukan sekadar pelengkap. Ia menekankan kekhawatiran soal keselamatan, karena pejalan kaki dan pelari berisiko “ditubruk” kendaraan saat harus menepi atau menyesuaikan laju kendaraan.

Usulan trotoar sebagai solusi keselamatan lalu lintas

Secara prinsip, trotoar berfungsi memisahkan ruang pergerakan kendaraan dan pejalan kaki. Pemisahan ini penting di jalan dengan volume lalu lintas tinggi, karena mengurangi titik konflik antara pengguna jalan yang kecepatannya berbeda. Ketika trotoar tidak tersedia, pengendara sering kali harus lebih ekstra waspada terhadap pejalan kaki yang berada dekat jalur kendaraan.

Dalam konteks Jalan Bomang, permintaan warga mengarah pada kebutuhan aksesibilitas sekaligus keselamatan. Trotoar tidak hanya membantu pejalan kaki, tetapi juga membuat aktivitas olahraga seperti jogging lebih terencana, karena lintasan menjadi lebih jelas. Dengan ruang yang lebih tertata, warga berpotensi mengurangi perilaku berisiko, misalnya berjalan terlalu dekat dengan arus kendaraan atau melintas tanpa perlindungan.

Dampak jika trotoar tidak dibangun

Minimnya trotoar di jalur tersebut membuat aktivitas berjalan kaki dan berolahraga cenderung “dipaksa” mengikuti kondisi jalan yang didominasi kendaraan. Kondisi ini menambah kerentanan pengguna jalan yang tidak memiliki perlindungan fisik saat terjadi pengereman mendadak atau perubahan arah kendaraan.

Selain itu, ketika pejalan kaki harus berbagi badan jalan, mereka juga menghadapi tantangan psikologis, misalnya rasa takut dan kecemasan saat beraktivitas. Dampak lain yang sering muncul adalah menurunnya kenyamanan, yang pada akhirnya bisa mengurangi minat warga untuk berjalan kaki atau bersepeda sebagai pilihan mobilitas harian.

Perlu kajian teknis, mulai dari lebar jalan hingga tata ruang

Walau usulan trotoar terdengar sederhana, implementasinya biasanya membutuhkan kajian teknis. Pemerintah daerah perlu menilai lebar badan jalan, ruang utilitas yang ada di pinggir jalan, serta kemungkinan penyesuaian untuk saluran drainase, titik penyeberangan, dan manajemen arus kendaraan. Penempatan trotoar yang tepat akan menentukan apakah manfaatnya maksimal atau justru menimbulkan masalah baru, seperti mengganggu akses masuk rumah atau fasilitas umum.

Di jalur padat seperti Jalan Bomang, desain trotoar juga perlu mempertimbangkan keberagaman pengguna. Trotoar yang aman idealnya memiliki permukaan yang tidak licin, kelandaian yang memadai, serta elemen pembatas yang membantu pejalan kaki menjauh dari lajur kendaraan. Jika memungkinkan, integrasi dengan tempat penyeberangan dan rambu pendukung akan membuat keselamatan meningkat secara menyeluruh.

Respons dan langkah berikutnya yang dinantikan warga

Usulan warga yang disampaikan kepada Bupati Bogor menjadi sinyal bahwa kebutuhan infrastruktur keselamatan lalu lintas terus dibicarakan masyarakat. Tahap selanjutnya yang biasanya ditunggu adalah respons berupa verifikasi lapangan, penentuan skala prioritas, serta penganggaran. Karena Jalan Bomang merupakan jalur penghubung yang ramai, perencanaan yang matang akan menentukan kelancaran proses pembangunan.

Jika trotoar direalisasikan, manfaat yang diharapkan tidak hanya berhenti pada kenyamanan pejalan kaki. Jalan yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan pelari dapat mendorong kebiasaan hidup aktif, sekaligus menurunkan risiko kecelakaan akibat konflik ruang antara kendaraan dan manusia. Warga pun berharap usulan ini dipertimbangkan serius agar aktivitas harian mereka bisa berlangsung lebih aman, termasuk saat mereka memilih berjalan kaki atau berlari di sepanjang Jalan Bomang.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x