Ratusan Sopir Angkot Bogor Mogok Massal, Minta Cabut Perwali 2026

3 menit membaca View : 7
Abdul Halim
Bogor, News - 03 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Ratusan sopir angkot di Kota Bogor melakukan unjuk rasa sekaligus mogok massal pada Kamis, 3 September 2026. Aksi mereka berlangsung di halaman dan jalan depan Balai Kota Bogor, membuat penumpang terlantar di sejumlah titik langganan trayek.

Koordinator aksi menuntut Wali Kota Bogor Dedie Rachim menemui para pendemo. Dalam tuntutannya, para sopir meminta pemerintah daerah menghentikan penertiban angkot tua dan mencabut Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 11 Tahun 2026 yang mengatur pembatasan usia kendaraan angkot.

Mogok di depan Balai Kota Bogor, penumpang terlantar

Para sopir memarkirkan angkotnya tepat di area Balai Kota Bogor dan meneriakkan tuntutan selama aksi berlangsung. Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan penumpang mulai terlihat sekitar pukul 10.30 WIB, terutama di sekitar Stasiun Bogor, kawasan Sukasari, Taman Topi, serta Jalan Dewi Sartika. Beberapa ruas jalan lain yang menjadi jalur dan titik ngetem angkot juga ikut terdampak.

Meski arus lalu lintas umum tampak lebih lancar, keberangkatan angkot tidak berjalan seperti biasa. Kondisi ini membuat banyak warga kesulitan mencapai tujuan, terutama yang mengandalkan angkot sebagai moda utama harian.

Perwali 2026 jadi pemicu, sopir menolak pembatasan usia angkot

Perwali Nomor 11 Tahun 2026 menjadi fokus keberatan para sopir. Aturan tersebut menyebut angkot yang berusia di atas 20 tahun tidak boleh mengaspal di jalanan. Sementara itu, angkot yang usianya di bawah 20 tahun diberi stiker oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor sebagai bentuk penanda laik operasional sesuai ketentuan.

Para pengunjuk rasa menilai kebijakan penertiban angkot tua perlu dihentikan, karena berdampak langsung pada layanan angkutan dan mobilitas warga. Mereka juga mendesak pencabutan Perwali agar proses penataan tidak diterapkan secara ketat tanpa skema penyesuaian.

Dishub target hapus 1.780 angkot tua, penumpang mencari alternatif

Di sisi lain, Dishub Kota Bogor menargetkan penghapusan angkot tua sebanyak 1.780 unit. Target tersebut menunjukkan bahwa penertiban kendaraan berusia lebih dari 20 tahun merupakan agenda yang sudah dipersiapkan dan akan dijalankan bertahap. Namun, saat aksi mogok terjadi, warga merasakan dampaknya secara langsung pada jam-jam aktivitas.

Mirna (32), warga Pasir Kuda, mengaku tidak bisa berangkat kerja karena angkot tidak beroperasi. Ia bersama penumpang lain menunggu hampir setengah jam, tetapi kendaraan tidak kunjung melintas. Akhirnya, sejumlah warga memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan ojek, demi mengejar waktu.

“Saya tidak bisa berangkat ke kerja karena tidak ada angkot yang beroperasi,” kata Mirna.

Mirna juga menceritakan terpaksa meminta bantuan keluarga untuk menjemput adiknya agar tetap bisa berangkat. Cerita seperti ini menggambarkan bagaimana perubahan kebijakan transportasi, ketika bertemu gangguan operasional, dapat membuat kebutuhan mobilitas harian warga tidak terpenuhi.

Dampak ke layanan harian, kebutuhan dialog antara pemkot dan sopir

Meskipun jalan tampak ramai lancar dan kendaraan lain melaju tanpa hambatan berarti, masalah utamanya ada pada ketersediaan angkot. Ketika ratusan kendaraan tidak beroperasi, efeknya langsung terasa pada titik-titik konsentrasi penumpang, termasuk area yang dekat simpul transportasi seperti Stasiun Bogor.

Aksi mogok massal juga menunjukkan adanya jarak antara rencana penertiban kendaraan dan persepsi pelaku usaha angkutan. Penolakan sopir terhadap Perwali 2026 bukan hanya soal aturan usia kendaraan, tetapi juga menyangkut cara implementasi, kesiapan alternatif layanan, serta komunikasi yang dinilai belum cukup.

Ke depan, dialog menjadi kunci agar penertiban angkot tua tetap berjalan dengan mempertimbangkan dampak sosial terhadap penumpang. Warga membutuhkan kepastian layanan, sementara pemerintah daerah perlu memastikan aturan keselamatan dan kelayakan kendaraan diterapkan secara konsisten. Pertemuan Wali Kota dengan perwakilan sopir menjadi momen penting untuk meredakan ketegangan dan mencari jalan tengah.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x