Kesehatan Warga Bogor Diimbau Waspadai Abu Vulkanik Anak Krakatau

4 menit membaca View : 11
Abdul Halim
Kesehatan, News - 07 Sep 2026

INFOSENTULCITY.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mengeluarkan imbauan kesehatan terkait sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik dilaporkan mulai menyebar sejak Sabtu dini hari, sehingga masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah bila tidak mendesak. Fokus imbauan diarahkan pada perlindungan saluran pernapasan, mata, dan kulit, sekaligus perhatian khusus untuk kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru kronis.

Kepala Dinkes Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, menjelaskan bahwa abu vulkanik membawa partikel debu halus dan material silika yang berpotensi mengiritasi. Paparan dapat memicu keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi pada mata dan tenggorokan, hingga memperberat kondisi penderita asma maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Karena itu, langkah pencegahan dinilai perlu dilakukan sejak awal saat sebaran abu masih berlangsung.

Abu vulkanik ganggu pernapasan, mata, dan kulit

Menurut Fusia, keluhan akibat abu vulkanik umumnya muncul pada beberapa bagian tubuh yang langsung terpapar. Pada sistem pernapasan, partikel debu halus dapat membuat saluran napas lebih sensitif, yang kemudian menimbulkan batuk dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Pada sebagian orang, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas, terutama bila memiliki penyakit pernapasan kronis.

Di bagian mata, abu dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, serta sensasi mengganjal seperti kelilipan. Sementara itu, pada kulit, paparan abu berpotensi menimbulkan rasa gatal dan kemerahan. Gambaran ini membuat penanganan pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pengurangan aktivitas, tetapi juga perlindungan fisik saat berada di luar ruangan.

Imbauan Dinkes Bogor: kurangi aktivitas dan perkuat pelindung

Dinkes Kabupaten Bogor meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama sebaran abu masih terjadi, terutama untuk kegiatan yang tidak bersifat mendesak. Untuk aktivitas yang tetap perlu dilakukan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker. Fusia menekankan penggunaan masker N95 sebagai pilihan utama, atau minimal masker medis dua lapis agar partikel abu tidak mudah terhirup.

Selain masker, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga disarankan memakai kacamata pelindung. Langkah ini bertujuan mengurangi paparan langsung ke permukaan mata. Dinkes juga mengingatkan agar tidak menggunakan lensa kontak saat kondisi abu berembus, karena risiko iritasi meningkat. Bila mata terasa perih setelah terpapar, masyarakat diminta tidak menguceknya dan segera membilas mata dengan air bersih yang mengalir.

Perlindungan rumah: cegah abu masuk lewat pintu dan ventilasi

Imbauan tidak berhenti pada perlindungan individu. Dinkes juga meminta warga menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah agar abu vulkanik tidak masuk ke dalam ruangan. Praktik ini penting terutama saat angin membawa abu dalam jumlah lebih nyata, karena partikel dapat menempel di permukaan dan ikut terhirup saat aktivitas rumah tangga berlangsung.

Untuk menjaga kebersihan lingkungan dalam rumah, masyarakat perlu memperhatikan area penampungan air. Tempat penampungan air dianjurkan ditutup dan dibersihkan bila terdapat endapan abu. Pada saat yang sama, buah dan sayuran juga diminta dicuci hingga bersih sebelum dikonsumsi agar tidak ada residu abu yang ikut masuk ke tubuh.

Perhatian khusus bagi kelompok rentan dan penderita penyakit kronis

Dinkes Kabupaten Bogor menyebut kelompok rentan membutuhkan perhatian lebih. Mereka meliputi bayi dan anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru kronis. Pada kelompok-kelompok ini, dampak paparan abu bisa lebih cepat terasa, baik melalui gangguan pernapasan maupun peningkatan risiko memperberat gejala penyakit yang sudah ada.

Fusia juga menekankan agar penderita asma, PPOK, maupun gangguan jantung memastikan obat-obatan yang biasa digunakan tetap tersedia. Bila gejala memburuk, masyarakat diminta segera mendapatkan penanganan medis. Dinkes mengarahkan agar warga tidak menunda pemeriksaan ketika muncul keluhan yang mengkhawatirkan, seperti sesak napas berat, nyeri dada, atau iritasi mata dan kulit yang tidak membaik.

Langkah praktis untuk warga: kebersihan, berkendara, dan akses layanan kesehatan

Bagi warga yang tetap harus bepergian, Dinkes menyebut pengendara sepeda motor perlu meningkatkan perlindungan. Helm dengan kaca pelindung atau kacamata serta penggunaan masker dinilai membantu mengurangi paparan langsung partikel abu ke wajah dan saluran napas. Sementara itu, kebiasaan membersihkan diri setelah beraktivitas di luar juga relevan untuk menekan risiko abu menempel di kulit dan pakaian.

Untuk mengantisipasi kebutuhan pertolongan, Dinkes menegaskan akses layanan kesehatan tetap tersedia. Warga dapat menghubungi puskesmas terdekat, Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit, atau layanan PSC 119 yang siaga 24 jam. Dengan begitu, penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika gejala yang dialami tidak mereda, terutama pada kelompok rentan dan penderita penyakit kronis.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x